Wisata Bahari Bersinar, Indonesia Timur Cerah

by

bahari(infomoneter)-Perekonomian kini mulai bergeser dari kawasan Atlantik ke kawasan Pasifik. Hal itu terlihat dari penyelenggaraan Sail Morotai 2012. Kabupaten Morotai disiapkan agar mampu menyongsong abad baru, abad ekonomi Pasifik. Apalagi Pulau Morotai memiliki potensi geo-politik dan geo-ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi katalisator pembangunan, khususnya bagi daerah Provinsi Maluku Utara sebagai pintu gerbang ke kompetisi poros Pasifik.

Morotai memiliki kawasan kelautan dan pulau-pulau kecil yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan industry maritim dan perikanan terpadu dan kawasan wisata bahari sejarah. Apalagi pulau ini juga dikenal memiliki stok sumberdaya ikan yang beragam. Berdasarkan penelitian, terdapat 160 jenis ikan yang bernilai ekonomis dan 31 jenis ikan komersial, dengan jumlah potensi perikanan diperkirakan mencapai 148.473,8 ton per tahun dengan jumlah potensi lestari yang dapat dimanfaatkan sebesar 81.660,6 ton per tahun.

Untuk sektor budidaya laut, kawasan pesisir dan laut kepulauan Morotai mempunyai kualitas perairan tenang dan sangat memungkinkan untuk pengembangan budidaya laut seperti, kerapu, lobster, rumput laut, dan mutiara. Dengan laut yang luas dan potensi sumberdaya alam yang luar biasa tersebut, kekayaan bahari Morotai  dapat dikelola dan dipotimalkan guna mendorong perekonomian daerah, terutama meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Menteri kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo  mengatakan, pencanangan Morotai sebagai kawasan Mega Minapolitan sejak tahun 2009 merupakan bentuk komitmen Kementerian Kelautan terhadap pembangunan Pulau Morotai sebagai gerbang ekonomi di kawasan Pasifik. Pelaksanaan sail merupakan salah satu upaya untuk percepatan merealisasikan gagasan besar ini.

Pulau Morotai yang disebut sebagai ‘Mutiara di Bibir Pasifik’, menurut Sharif akan memanfaatkan event Sail Morotai 2012 sebagai momentum dalam mengaktualisasikan semangat gerbang Pasifik. Sail Morotai
2012 kali ini mengangkat tema “Menuju Era Baru Ekonomi Regional Pasifik”, berlogo gambar perahu layar yang bertuliskan Sail Morotai 2012 dengan mascotnya adalah burung bidadari yang merupakan spesies langka dan dilindungi di Provinsi Maluku Utara.

Selain kekayaan bahari yang potensial, Maluku Utara terkenal dengan destinasi wisata sejarah dunia, karena riwayatnya sebagai daerah Perang Dunia II. Pulau itu memiliki posisi strategis di Asia Pasifik sedangkan posisi geosentris Pulau Morotai adalah Asia Mainland, Asia Tenggara, Jepang, Kawasan Pasifik, dan Australia. Sepertinya dalam rangka itulah-penyelenggaraan Sail Morotai 2012 dalam rangka menempatkan Morotai dalam destinasi pariwisata dunia sebagai lokasi wisata sejarah. Sail Morotai 2012 juga  sebagai ajang untuk mengarungi kembali kenangan Perang Dunia (PD) II.

Pulau Morotai adalah sebuah kabupaten definitif baru yang terletak di Kepulauan Halmehara, Kepulauan Maluku.  Sebagai bagian dari Provinsi Maluku Utara dan merupakan pulau paling utara di Indonesia, Kabupaten Pulau Morotai diresmikan pada 29 Oktober 2008, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara.

Secara geografis Pulau Morotai terletak di antara 200 sampai dengan 240 Lintang Utara dan 12815 sampai dengan 12848 Bujur Timur. Morotai berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah Utara, Laut Halmahera di sebelah Timur, Selat Morotai di sebelah Selatan dan Laut Sulawesi di sebelah Barat. Luas wilayah Pulau Morotai adalah 2.474,94 kilometer persegi atau 10 persen dari luas wilayah daratan Kabupaten Maluku Utara. Secara administratif, Pulau Morotai sejak tahun 2002 termasuk ke dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Halmahera Utara dengan ibukota kabupaten di Tobelo.

Acara sail tahunan Pemerintah Indonesia yang memilih daerah ini sebagai Sail Morotai 2012 tentu mempunyai tujuan mulia, yaitu ingin mempercepat pembangunan di Kabupaten Pulau Morotai sehingga dapat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana telah dilaksanakan pada tahun-tahun yang telah lalu, kegiatan Sail diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat setempat, seperti pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan, pengembangan lokasi wisata, dan berbagai kegiatan yang
dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga Pusat maupun Pemerintah Daerah.

Untuk acara Sail Morotai itu sendiri berlangsung di Ternate dan Morotai Provinsi Maluku Utara dari Juni-September 2012, merupakan kelanjutan dari kegiatan Sail Indonesia yang telah dilaksanakan beberapa tahun sebelumnya. Nama Sail Indonesia mulai diubah sejak tahun 2009, sejalan penyelenggaraan World Ocean Conference (WOC) di Manado Sulawesi Utara. Kegiatan mulai dikemas sesuai dengan trademark setiap daerah penyelenggara, dimulai Sail Bunaken pada tahun 2009 yang dipusatkan di Manado dan Bitung Sulawesi Utara, Sail Banda pada tahun 2010 di Ambon Maluku, dan Sail Wakatobi-Belitung pada tahun 2011 di Wakatobi Sulawesi Tenggara dan Belitung Kepulauan Bangka Belitung.

Kini Sail Moratai 2012 benar-benar mulai di gelar, ketika lomba perahu layar (yacht rally) sebagai tulang punggung event internasional Sail Morotai 2012 secara resmi mulai Sabtu (28/7/2012) dari Dermaga Cullen Bay, Darwin – Australia. Sebagai tanda dimulainya lomba (flag off) dilaksanakan dengan penembakan salvo ke udara dari atas geladak kapal Spirit of Darwin oleh Ketua Panitia Penyelenggara Sail Morotai 2012, yang juga Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Syahrin Abdurrahman. Peserta yacht rally yang dilepas sebanyak 132 kapal dari 22 negara. Jumlahnya meningkat secara signifikan dari pelaksanaan tahun lalu sebanyak 111 peserta dari 18 negara dan tahun 2010 sebanyak 107 peserta.

Usai dilepas dari Darwin-Australia, selanjutnya para peserta yacht rally terbagi kedalam dua tim, yaitu kearah timur akan memasuki kepulauan Indonesia melalui entry point di Saumlaki pada tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012, kemudian perjalanan berlanjut ke Banda, Buru, Ternate, Wakatobi, dan lanjut ke Takabonerate. Sementara tim yang kearah barat akan memasuki kepulauan Indonesia melalui entry point di Kupang pada tanggal 30 Juli – 4 Agustus 2012, kemudian perjalanan berlanjut ke Alor, Lembata, Ende dan Riung. Kedua tim selanjutnya akan bertemu kembali di Labuan Bajo pada tanggal 12-15 September untuk bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Lombok Utara dan Bali. Tim kemudian berpisah lagi untuk dua rute, yaitu rute menuju Kumai dan rute menuju Karimun Jawa lanjut ke Kepulauan Seribu. Peserta yacht rally kemudian berkumpul kembali di Manggar-Belitung Timur pada tanggal 20-22 Oktober 2012 dan melanjutkan perjalan ke Belitung, Bangka dan Batam, untuk akhirnya keluar dari wilayah Indonesia menuju Singapura.

Peserta yacht rally diupayakan dapat mengunjungi sebanyak mungkin daerah-daerah di Kepulauan Indonesia. Kedatangan peserta yacht rally tentunya akan berdampak sangat positif bagi daerah yang dikunjungi, selain secara signifikan meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat setempat, juga akan menjadi ajang promosi untuk peningkatan sektor pariwisata dan investasi daerah tersebut kedepan.

 

Morotai, Berdenyut
“Geopolitical Destiny dari Indonesia adalah maritim,” kalimat tersebut diucapkan oleh Bung Karno pada saat pembukaan Lemhanas tahun 1965. Terlihat jelas, Bung Karno menginginkan Indonesia memainkan peranan penting dalam dunia bahari atau dengan kata lain karakter kebangsaan Indonesia haruslah berciri nasionalisme “bahari”. Semangat  berapi-api yang terkandung dari sang proklamator tersebut seakan membakar, memacu dan memperkuat semangat kebangsaan berbasis bahari bagi bangsa ini.

Sebagai upaya untuk menunjukkan dan memperjelas jati diri bangsa sebagai Archipelagic State yang memiliki strategi maritim yang mampu untuk keluar dari paradigma continental orientation ke paradigma maritime orientation secara rasional dan berwawasan modern dan global adalah alasan Pemerintah Indonesia meluncurkan Perhelatan Akbar Sail Morotai 2012.
Semangat yang terkandung dalam ucapan Sang Proklamator senapas dengan apa yang diucapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C.Sutardjo dalam sambutannya pada saat peluncuran Sail Morotai, bahwa Pulau Morotai memiliki potensi geo-politik dan geo-ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi katalisator pembangunan.

Penabuhan gendang sebagai tanda peresmian helat internasional SAIL MOROTAI 2012 sebagai babak baru dan awal kebangkitan Indonesia, khususnya di regional Sumapapua (Sulawesi Maluku Maluku Utara dan Papua) sebagai gapura pasifik. Sail Morotai 2012 merupakan secercah harapan bagi masyarakat Indonesia akan kebangkitan Indonesia sebagai bangsa maritim.
Perhelatan atau momentum besar tersebut menjadi kekuatan sekaligus peluang tersendiri dalam usaha pengembangan beberapa jenis industri besar dan strategis, seperti industri maritim, industri kelautan dan perikanan dan industri wisata bahari.

Kegiatan Sail Morotai sebagai langkah untuk meningkatkan ekonomi pulau-pulau terpencil. Pulau Morotai yang disebut sebagai ‘Mutiara di Bibir Pasifik’ akan memanfaatkan event Sail Morotai 2012 sebagai momentum dalam mengaktualisasikan semangat gerbang Pasifik.  Sail Morotai 2012 kali ini mengangkat tema “Menuju Era Baru Ekonomi Regional Pasifik”, berlogo gambar perahu layar yang bertuliskan Sail Morotai 2012 dengan mascotnya adalah burung bidadari yang merupakan spesies langka dan dilindungi di Provinsi Maluku Utara.
Perhelatan akbar bertaraf internasional digelar di Morotai ini terbingkai rapi dalam berbagai acara seperti Bhakti Kesra Nusantara, Operasi Bhakti Pelangi Nusantara (TNI-Angkatan Udara), Operaasi bhakti Kartika Jaya (TNI-Angkatan Darat), BUMN Peduli Morotai, Ekspedisi Ilmiah Kapal Riset dan Pulau Terluar.
Sharif dalam peluncuran peresmian Sail Morotai 2012 menyampaikan harapannya, agar ajang bertaraf internasional itu tidak sekadar sukses pelaksanaannya, tetapi juga sukses hasilnya.  Apalagi Morotai memiliki kawasan kelautan dan pulau-pulau kecil yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan industri maritim dan perikanan terpadu serta kawasan wisata bahari dan sejarah.

Laut sekitar morotai merupakan lalu lintas ikan tuna dari pasifik ke laut Hindaia. Potensi ikan di Morotai lebih dari 148.473 ton/tahun yang terdiri dari 160 jenis ikan bernilai ekonomis dan 31 jenis ikan komersia. Selain itu kerena lautnya yang tenang, maka berpotensi untuk budi daya ikan kerapu, lobster, rumput laut dan mutiara. “ jadi kata akan kembangkan Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Dari wisata bahari ini juga akan perkenalkan  usaha micro dengan perbankan sehingga bisa mendapat bantuan pendanaan pengembangan usaha, selain itu dapat mengundang investor sehingga datang ke Morotai. Negeri mungil di utara Indonesia ini sebenarnya menyimpan dan potensi sumberdaya alam yang luar biasa, sehingga banyak harapan agar dapat dikelola dan dipotimalkan untuk mendorong perekonomian daerah, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Ya pencanangan Morotai sebagai kawasan Mega Minapolitan sejak tahun 2009 merupakan bentuk komitmen kementerian ini terhadap pembangunan Pulau Morotai sebagai gerbang ekonomi di kawasan Pasifik. Pelaksanaan sail merupakan salah satu upaya untuk percepatan merealisasikan gagasan besar ini”, tegas Sharif.
Sail Morotai 2012 dapat juga sebagai ajang untuk mengarungi kembali kenangan Perang Dunia (PD) II. Pulau Morotai dikenal karena sejarahnya dalam Perang Dunia II, yang dikenal dengan, “Pertempuran di Morotai”. Sejarah mencatat pada bulan Juli 1944, Jenderal Douglas MacArthur memilih Morotai sebagai lokasi untuk pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut dalam mendukung pembebasan Pulau Mindanao (Filipina). Pertempuran itu  dimulai pada tanggal 14 September 1944 ketika Amerika Serikat dan pasukan Australia mendarat di sudut barat daya Morotai. Jepang menempatkan pasukannya dengan kekuatan hanya sekitar 500 tentara Jepang yang ditempatkan di pulau itu, sedangkan kekuatan Sekutu yang ditugaskan ke Morotai kalah jumlah dari pembela pulau itu yang lebih dari seratus banding satu. Setelah Pulau Morotai berhasil dikuasai sekutu maka selanjutnya pulau tersebut menjadi sebuah pangkalan militer utama bagi sekutu. Basis fasilitas, instalasi Angkatan Laut, jaringan jalan, 1.000 tempat tidur rumah sakit dan dua lapangan terbang dengan cepat dibangun. Morotai menjadi titik penting bagi pasukan Sekutu dan memainkan peranan utama dalam pembebasan Filipina.
Oleh sebab itu, dengan latar belakang sejarah tersebut maka Penyelenggaraan Sail Morotai di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, pada September 2012 akan menampilkan berbagai kegiatan menarik di antaranya rekonstruksi Perang Dunia II antara tentara sekutu melawan Jepang pada 1945. Melalui rekonstruksi Perang Dunia II tersebut maka para tamu dan peserta Sail Morotai akan dibawa ke dalam suasana Perang Dunia II di Morotai pada 1945, salah satu rekonstruksi Perang Dunia II yang akan ditampilkan pada Sail Morotai tersebut adalah aksi terjun payung yang dilakukan tentara dari negara-negara sekutu seperti Amerika Serikat dan Australia, serta tentara Jepang.  Kormen