Transformasi Saint Mary Menuju University of Community

by

sint mary2(infomoneter.com)-Manajemen baru LPK Saint Mary International berkomitmen mengembangkan Saint Mary Academy menjadi University of Community yakni, menjadi bagian dari masyarakat dan komunitas industri. Dua bidang tambahan yang membedakan dengan sebelumnya adalah difokuskan pada Supply Chain Management dan sektor pariwisata.

Ketua Pembina LPK Saint Mary International, M.Hanafi, mengatakan, Saint Mary Academy berkomitmen menjadi center of innovation di mana iklim dan seluruh proses belajar-mengajar dirancang sedemikian sehingga seluruh civitas academica Saint Mary bertumbuh menjadi insan yang cerdas, terampil dan inovatif serta memiliki kemampuan soft-skills yang terasah.

Terkait dengan fokus Supply Chain Management, menurut Hanafi, dewasa ini peran manajemen rantai suplai semakin strategis di hampir semua industri. Hal ini dilatari oleh kesadaran bahwa ternyata manajemen rantai suplai ini menguasai sebagian besar biaya perusahaan, bahkan mencapai 60-70 persen pembiayaan. Karenanya, banyak perusahan global yang menempatkan divisi Supply Chain Management (Manajemen Rantai Suplai) sebagai suatu yang strategis akan mengembangkan pendidikan Supply Chain Management.

Pertengahan Agustus lalu, Yayasan LPK Saint Mary International memperkenalkan Tim Pengurus baru yang terdiri dari M.Hanafi (Ketua Pembina), Brigjen (Pur) Andreas R. Mere (Pengawas), Dr. Yohanes Sulistyadi (Pengawas), Dr. Andreas Hugo Parera (Pengawas), Putut Prabantoro (Pengawas), Erijanto Djajasudarma (Ketua Yayasan), Abraham Runga (Sekretaris), Petter Halem Davis (Bendahara), Adrian Jan Winata (Anggota) dan Melki Lakalena (Anggota). Sebelumnya, manajemen LPK Saint Mary International terdiri dari Hercules Rozario Marshall (Pembina), Nia Dania (Ketua Yayasan), Ikhraman Thalib , SH (Sekretaris) dan Titin Murtiningsih, SE (Bendahara). Perubahan Badan Pengurus Yayasan LPK Saint Mary International disahkan melalui akta Notaris No. 50 tanggal 28 Mei 2014.

Kepedulian Hanafi pada dunia pendidikan, berawal dari siaran televisi BBC bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan sistem pendidikan yang paling buruk di dunia, setelah Mexico dan Brazil. Kebetulan, begitu mendarat di tanah air, Hanafi didatangi utusan dari Hercules yang meminta agar lembaga Saint Mary diselamatkan, terutama mahasiswanya. Peristiwa-peristiwa yang terkait satu sama lain ini menjadi motivasi bagi saya untuk kembali membangun kembali Saint Mary bersama pengurus yang baru,” ujar M. Hanafi di depan wartawan dan pengurus baru Yayasan Saint Mary di Patra Jasa Office Tower, Jln. Jend.Gatot Subroto Kav. 32-34 Jakarta, Jumat (15/8).

M.Hanafi mengatakan manajemen baru berkomitmen mengembangkan Saint Mary Academy menjadi University of Community yakni, menjadi bagian dari masyarakat dan komunitas industri.

Selebihnya Saint Mary Academy berkomitmen menjadi center of innovation di mana iklim dan seluruh proses belajar-mengajar dirancang sedemikian sehingga seluruh civitas academica Saint Mary bertumbuh menjadi insan yang cerdas, terampil dan inovatif serta memiliki kemampuan soft-skills yang terasah.

“Secara terus-menerus Saint Mary akan mendorong seluruh civitas academica untuk mengasah kompetensi professional. Tapi lebih dari itu mereka didorong untuk membangun diri menjadi pribadi yang berdisiplin, berintegritas dan bermoral tinggi,” ungkap Hanafi.

Lebih lanjut Hanafi mengungkapkan, menurut survai Koran Tempo yang dipublikasikan pada Desember 2013, Saint Mary unggul dalam hal soft-skills dan kejujuran serta kemahiran berbahasa Inggris dibandingkan dengan akademi-akademi sejenis.

“Aspek soft-skills ini akan terus dikembangkan sehingga menjadi keunggulan utama lulusan Saint Mary. Selain itu saya ingin agar Saint Mary menjadi kampus yang terbuka, menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang agama, sosial-budaya dan ekonomi. Jadi, Saint Mary tak hanya menjadi tempat kuliah orang-orang berduit, tetapi juga bagi mereka yang kurang secara ekonomi, terutama generasi muda dari daerah. Artinya, kalau jumlah mahasiswa Saint Mary sudah meningkat, yayasan akan memberi subsidi kepada 10-20 persen mahasiswa daerah supaya bisa kualiah secara gratis.

Berkaitan dengan itu saya menghendaki agar para dosen menyenggarakan proses pendidikan dalam semangat multikultural sehingga Saint Mary berkembang menjadi seperti ‘Indonesia mini’. Perkuliahan hendaknya dilakukan secara bi-lingual dengan bahasa Inggris yang aktif sehingga orang langsung mengenal lulusan Saint Mary dari cara mereka berkomunikasi, berperilaku dan melaksanakan tugas-tugasnya di kantor,” harap Hanafi.

Ia jugamengemukakan sebagai perguruan tinggi kejuruan, Saint Mary akan melengkapi semua fasilitas praktik atau laboratorium seperti Lab komputer, sekretaris, bahasa, lab perhotelan dan laboratorium travel.

Kerjasama Strategis

Sementara itu Abraham Runga menjelaskan, untuk mengembangkan keunggulan akademik dan keunggulan soft skills, Saint Mary akan mengembangkan kerjasama strategis dengan dunia usaha dan industri.

“Sebagai contoh, mulai tahun akademik 2014-2015, biaya kuliah semester pertama bagi 99 pendaftar pertama akan disponsori oleh strategic partners yaitu PT GSMkonsep International, PT Expo Freight Indonesia, INACO dan PT Unipara Logistics,” ujar Abraham.

Saint Mary didirikan pada 11 Februari 1985 oleh Louis Nikujuluw, MBA (alm). Selama 29 tahun usianya Saint Mary telah meluluskan lebih dari 50 ribu alumni melalui kuliah regular dan kursus. Kini, sebagian besar lulusan Saint Mary berkarya sebagai sekretaris profesional di berbagai perusahaan dalam dan luar negeri. Selebihnya mereka menjadi tenaga profesional di bidang bahasa Inggris, bisnis perhotelan serta usaha perjalanan wisata.

Direktur Eksekutif Saint Mary, Maxi Ali Perajaka, M.Sc menyampaikan, di bawah manajemen baru proses perkuliahan akan dilaksanakan di dua kampus Saint Mary, yakni di Patra Jasa office Tower lantai 10, Jakarta Selatan dan Jln. Hasyim Ashari No. 52-54, Jakarta Pusat.

Ada berita? kirim ke: redaksiinfomoneter@yahoo.co.id