Transformasi Pelabuhan, Angin Segar untuk Indonesia Timur

by

tanjung priok(infomoneter.com)-Heronimus, pedagang pakaian asal Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terlihat memalas saat diajak bicara soal prospek usahanya di kawasan timur Indonesia. Dengan nada senyap lelaki paruh baya itu bertutur soal besarnya ongkos pengiriman barang dari Jakarta ke daerah-daerah di Indonesia Timur.

Selain biaya pengiriman yang tergolong mahal, dirinya juga kecewa karena barang yang dikirim kerap terjadi tidak sampai pada waktunya. Hal ini disebabkan oleh tersendatnya moda transportasi. “Ae kah, lama di jalan, ongkos kirim terlalu mahal, dijual juga harga tinggi, sehingga kami mengambil untung tidak banyak,”ujarnya dengan dialek Flores.

Keluhan yang sama juga diceritakan Paulina, warga Merauke, Papua. Menurutnya belanja produk mie instan, gula, terigu, di daerahnya cukup mahal. “Ya pokoknya yang datang dari pabrik di pulau Jawa itu pasti kami beli mahal,”cetusnya.

Heronimus dan Paulina hanyalah contoh pedagang dan konsumen yang terimbas oleh dampak buruknya infrastruktur transportasi dan sistem logistik negeri ini. Keluhan keduanya menjadi potret buram bagi dunia usaha lainnya, sehingga kurang berselera dalam membidik investasi ke arah timur Indonesia. Memang infrastruktur yang belum memadai seperti sektor kelistrikan, air bersih, kondisi jalan dan pelabuhan, menjadi hantu penghambat investasi.

Polce Ruing, pengusaha yang membesut bisnis di beberapa daerah Indonesia Timur, mengatakan, tersendatnya pasokan barang ke wilayah-wilayah timur karena kondisi infrastruktur pelabuhan dan jalan yang kurang kondusif sehingga berdampak pada membengkaknya biaya logistik. “Memang dunia usaha jadi tidak efisien. Pengembangan pelabuhan dan perbaikan infrastruktur jalan, sangat kami harapkan guna menopang pertumbuhan bisnis kami,” ujarnya.

Memang kesenjangan pembangunan kawasan barat dan timur, sebagai akibat terlaksananya manajemen logistik yang efisien sebagai negara kepulauan. Sistem transportasi laut dari Jakarta dan Surabaya menuju beberapa daerah di Indonesia Timur belum terintegrasi secara baik.

Idealnya membangun Indonesia Timur, harus berawal dari pembenahan infrastruktur pelabuhan. Seperti Pelabuhan Makassar yang dijuluki pintu masuk Indonesia Timur, perlu didorong menjadi pelabuhan utama di Indonesia Timur, sehingga mengatasi kendala ketidakseimbangan jumlah bongkar dan muat barang yang umumnya terjadi di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia Timur.

Di sini pentingnya juga konektivitas yang kuat antara pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, seperti yang disampaikan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Adolf Tambunan. Ia mengatakan, salah satu strategi percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional adalah dengan mengedepankan penguatan konektivitas antarpulau terutama pulau-pulau terluar dan menjaga keseimbangan wilayah barat dan timur Indonesia.

sorong Adolf mencontohkan program Pendulum Nusantara untuk menguatkan konektivitas tersebut, meski dinilai masih terdapat sejumlah kendala antara lain adalah pengembangan infrastruktur pelabuhan yang ada hanya mampu melayani kapal dengan kapasitas maksimal 6.000 TEUs, kendala biaya dan waktu pelaksanaan, serta ketidakseimbangan permintaan timur-barat.

Kendati demikian, Direktur Utama Pelindo II RJ Lino selalu optimism. Ia mengatakan, sistem Pendulum Nusantara yang akan mengakomodasi kedatangan kapal-kapal besar di enam pelabuhan utama, terus dimatangkan persiapan pelaksanaannya dan akan melibatkan enam pelabuhan besar, yaitu Belawan, Batam, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Papua.

Menurut Lino terobosan itu dapat meningkatkan perdagangan yang lebih murah dan berdampak pada penurunan biaya logistik. Pelaksanaan konsep ini tentu sejalan dengan semangat pemerataan ekonomi. Peningkatan arus perdagangan berarti akan lebih banyak barang yang masuk dan keluar pelabuhan, sehingga diharapkan akan mampu menciptakan kompetisi sehat yang menuntut layanan berkualitas, serta menurunkan biaya logistik.

Semangat Baru Insan Pelabuhan

Untuk mendukung konektivitas dan meningkatkan daya saing dunia usaha Indonesia termasuk memberikan iklim yang sehat bagi investasi, pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sedang giat-giatnya melakukan terobosan besar di bidang usaha kepelabuhan. Karena hampir semua pengelola pelabuhan sadar bahwa peningkatan layanan kepelabuhanan akan menghasilkan peningkatan arus perdagangan serta pendapatan untuk membiayai pengembangan infrastruktur.

Contoh perusahaan yang semangat transformasinya begitu bergema adalah PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). Semangat dari perusahaan yang berkantor pusat di Tanjung Priok Jakarta itu, berawal dengan diluncurkannya identitas korporasi baru atau logo baru, sebagai terobosan dalam program transformasi kepelabuhanan sehingga mendorong penguatan sektor perdagangan Indonesia dan efisiensi biaya logistik nasional.

Pelindo II yang kini disebut Indonesia Port Corporation (IPC) merupakan simbol semangat baru kepelabuha di Indonesia dalam bertransformasi, menjadi perusahaan penyedia layanan kepelabuhanan di Indonesia yang mulai dikelola lebih efisien dan modern dalam berbagai aspek operasinya, guna mencapai tujuan menjadi operator pelabuhan berkelas dunia.

makasarSemangat transformasi tersebut akan diterapkan ke dalam seluruh aktivitas perusahaan. Baik pada aspek strategis manajemen, operasional maupun peningkatan sumber daya manusia yang secara komprehensif, gesit dan fleksibel dengan berpegang pada prinsip memajukan perdagangan, memajukan Indonesia.

IPC dalam beberapa tahun terakhir terus mengimplementasikan perubahan dari dua sisi, yakni infrastruktur operasional serta sumber daya manusia. Dari sisi infrastruktur, IPC terus memaksimalkan kapasitas layanan kepelabuhanan dengan penambahan alat bongkar muat berteknologi modern.

IPC di tahun 2012 sibuk dan fokus pada rencana pembangunan kawasan pelabuhan di Terminal Kalibaru Utara. April 2012 juga IPC mulai membangun Pelabuhan Peti Kemas di Sorong dengan luas kawasan mencapai tiga hektar. Pelabuhan tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2014. Sementara dari sisi peningkatan sumber daya manusia, IPC melakukan pengiriman karyawan berprestasi untuk mengikuti pendidikan di luar negeri, menyelenggarakan proses penilaian berbasis kompetensi, menciptakan suasana kompetitif dalam bekerja, melalui penilaian key performance indicator bulanan.

Semangat itu dimiliki juga oleh Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) di wilayah Surabaya. Dalam mendukung Masterplan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Pelindo III memiliki peran penting di tiga koridor MP3EI yaitu koridor Jawa, Kalimantan dan Bali-Nusa Tenggara. Percepatan dan perluasan pembangunan tersebut dilakukan untuk memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated globally connected).

tanjung perakDirektur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto, mengatakan, ada lima program berbasis modernisasi, revitalisasi dan peningkatan kapasitas pelabuhan yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Perak, sebagai pelabuhan utama di Jawa Timur dan pintu gerbang Kawasan Indonesia Timur. Pertama pembangunan Terminal Multipurpose Teluk Lamong (TMTL) yang akan beroperasi awal tahun 2014, Kedua rekonfigurasi dan revitalisasi dermaga konvensional Pelabuhan Tanjung Perak menjadi dedicated terminal atau terminal berfungsi khusus. Ketiga revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) bertujuan untuk melakukan pendalaman dan memperlebar alur termasuk nantinya mengelola kanal APBS melalui konsep pelayaran tol fee system. Keempat pengadaan peralatan untuk layanan bongkar muat guna meningkatkan kapasitas produksi dan kinerja bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak. Kelima pembangunan Terminal Penumpang modern yang dilengkapi garbarata untuk peningkatan pelayanan dan kenyamanan penumpang kapal laut.

Pelabuhan Makassar yang merupakan pelabuhan terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) memang terus berbenah dan menggenjot pelayanannya dengan menambah sejumlah fasilitas di Terminal Peti Kemas. BUMN ini akhir tahun lalu memproklamirkan nama barunya yang disebut inaport4. Sementara saat ini pengembangan pelabuhan penumpang dan peti kemas berubah menjadi Makassar New Port.

Direktur Personalia dan Umum PT Pelabuhan Indonesia IV, Pasoroan Herman Harianja mengatakan pihaknya akan mengembangkan pelabuhan New Makassar Port secara bertahap hingga 2015. Phase I tahun pembangunan dermaga 200 meter dan kedalaman 14 meter. Perusahaan juga akan membangun lapangan container yard seluas 12,4 hektar.

Dari kawasan timur, kita melihat Geliat transformasi dilakukan oleh BUMN pelabuhan di kawasan barat Indonesia Pelindo 1 Medan. Perusahaaan yang banyak melayani sektor agrobisnis dan pertambangan itu akan mengembangkan sejumlah pelabuhan dan pengadaan alat bongkar muat pada tahun ini. Dalam meningkatkan layananan Pelindo I akan melakukan penambahan dermaga sepanjang 700 meter dan dan lima unit container crane hingga tahun 2015. Ditargetkan perpanjangan dermaga mencapai 1.650 km. Pelindo 1 juga akan mengembangkan pelabuhan hub internasional di Kuala Tanjung.

belawan Itulah semangat transformasi kepelabuhanan di Indonesia. Tuntutan akan peran pelabuhan memang begitu diharapkan. Pasalnya pelabuhan, memegang peranan penting dalam rantai logistik Indonesia. Pelabuhan harus bergerak lebih cepat, efektif, dan efisien dalam melayani kebutuhan para pelanggan atau pengguna jasa kepelabuhanan. Semakin singkat waktu yang diperlukan dalam memproses layanan kepelabuhanan, semakin rendah pula biaya yang harus dikeluarkan, yang pada akhirnya akan mampu menekan harga barang di pasar nasional sehingga merangsang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Semakin ketatnya kompetisi dalam skala regional dan internasional telah menuntut Indonesia untuk mampu menciptakan efisiensi distribusi barang melalui sistem transportasi yang terintegrasi, salah satunya berupa pola kerja serta kualitas layanan kepelabuhanan yang dapat menyediakan layanan secara fleksibel yang berfokus pada penekanan biaya operasi. Ciu/ A. Jehunat (redaksiinfomoneter@yahoo.co.id