Sepuluh Multifinance Raup Laba Bersih Rp874,7 miliar

by

Ditopang oleh ekspansi usaha di tengah ancaman pelambatan akibat kenaikan uang muka, sebanyak sepuluh multifinance dengan status perusahaan terbuka sukses membukukan laba bersih Rp874,7 miliar pada periode Januari—September 2012.

Perolehan laba tersebut dipimpin oleh PT BFI Finance Indonesia Tbk yang meraup laba bersih Rp353,3 miliar, meningkat 16,9% dibandingkan dengan setahun lalu yang tercatat Rp302,2 miliar.
Pendapatan usaha perseroan meningkat menjadi Rp1,14 triliun dari sebelumnya Rp892,35 miliar.
Cornellius Henry Kho, Direktur BFI Finance, menjelaskan kenaikan laba ditopang oleh peningkatan booking pembiayaan baru sepanjang tahun ini yang mencapai Rp5,2 triliun, naik 22% dari tahun sebelumnya Rp4,2 triliun.

“Sebenarnya kinerja ini tidak terlalu spesial, karena di multifinance itu kinerja di triwulan III biasanya lebih baik yang ditunjang permintaan dari lebaran,” ujarnya, seperti dikutip dari Bisnis, Rabu (31/10).

Lebih rinci dia menjelaskan kinerja akan bisa lebih baik lagi apabila tidak ada dampak pelambatan akibat kebijakan pengetatan uang muka di pembiayaan konsumen. Untuk itu, perseroan menggenjot sewa guna usaha pada alat berat.

“Alat berat juga ada kendala penurunan harga komoditas, tapi kita melihat kinerjanya secara keseluruhan masih baik,” ujarnya.

Sementara itu, PT Clipan Finance Tbk membukukan laba bersih Rp255,23 miliar. Meski masih di bawah BFI Finance, namun persentase peningkatan laba bersih lebih tinggi yakni 25,3%.

Clipan Finance meraih pendapatan usaha Rp658,69 miliar yang didominasi pembiayaan konsumen. Selain itu, pendapatan juga disokong sewa guna usaha dan anjak piutang.

Di tempat ketiga ada PT Mandala Multifinance Tbk yang meraih laba bersih Rp158,47 miliar meningkat 17.17% dari setahun lalu yang tercatat Rp135,24 miliar.

Sementara itu, peningkatan laba bersih yang agresif dicatatkan PT Buana Finance Tbk sebesar 55,58% menjadi Rp109,47 miliar.

Peningkatan laba bersih ditopang oleh kenaikan pendapatan menjadi Rp436,11 miliar, atau naik 51,86% dari capaian sama tahun lalu Rp287,17 miliar.

Hal tersebut didorong oleh kenaikan volume pembiayaan baru menjadi Rp2,14 triliun September 2012, dibandingkan dengan sebelumnya Rp1,95 triliun.

Herman Lesman, Direktur Pemasaran Buana Finance, mengatakan perseroan berharap banyak pada segmen sewa guna usaha pada triwulan terakhir, mengingat ada pelambatan pada pembiayaan konsumen.

“Sewa guna usaha juga ada hambatan karena produksi kelapa sawit juga mengalami kendala. Namun kami berharap pembiayaan bisa didorong dari sektor infrastruktur,” ujarnya.

Perseroan berharap bisa menutup tahun ini dengan penyaluran pembiayaan baru senilai Rp2,7—2,8 triliun lebih rendah dari target awal Rp3 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan harus menyalurkan senilai Rp600 miliar—Rp700 miliar selama triwulan terakhir.

Dari sepuluh multifinance Terbuka, terdapat sebuah perusahaan yang mengalami penurunan laba, yakni PT Trust Finance Indonesia Tbk. Laba bersih perusahaan yang dipimpin Muhamad Nashir sebagai Direktur Utama ini tergerus dari Rp16,07 miliar menjadi Rp15,65 miliar.

Wiwie Kurnia, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), menilai perolehan laba multifinance cenderung tidak seragam karena memiliki strategi dan kendala yang berbeda. “Tiap perusahaan punya cara dan situasi pasar sendiri-sendiri,” ujarnya.