Sejarah, Mitos dalam Secangkir Kopi

by

kopi flores 1(infomoneter)-Rosa, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Pinang Ranti Jakarta Timur,  menyebut dirinya lahir dari keluarga “gila” kopi. Dalam sehari, orang-orang di keluarganya terbiasa menghabiskan tiga hingga lima gelas kopi. Tidak saja kebiasaan ngopi pada pagi dan sore hari. Sehabis makan siang pun, selalu minum kopi. Hobi ngopi rupanya sudah menjadi tradisi keluarganya secara turun temurun.

Bukan tanpa alasan, Rosa yang merupakan anak keempat dari enam saudara itu, memang lahir dari keluarga petani kopi di Nantal, Borong Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak salah, seputar tanaman kopi terutama jenis robusta, bisa disebut sangat tahu banyak. Mulai dari  proses penanaman, perawatan, pemetikan, penggorengan sampai kepada proses tumbuk tradisional dengan menggunakan lesung dari kayu. Menurut Rosa, jenis kopi yang baik dan menguasai teknik dalam menggoreng, menjadi kunci dalam  mendapatkan  kopi tubruk  yang berkualitas. Pengalaman secara tradisional itu membuat Rosa pun mampu mengendus aneka rasa jenis kopi di pasaran, termasuk membedakan yang berkualitas dan kopi campuran dengan bahan lain.

Dalam menyeduh kopi pun, lanjut Rosa, ada caranya. Agar terasa lebih nikmat, kopi diseduh dengan air yang benar-benar panas dan mendidih. Kopi dan gula idealnya dimasukan ke dalam air mendidih supaya rasa kopinya lebih maksimal.  Yang tidak kalah penting adalah mengatur takaran kopi dan gula  harus dengan perasaan, agar tidak terlalu manis, atau terlalu pahit. Para pencinta kopi sejati memang harus memiliki seni menyeduh kopi serbuk. Hasil kopi yang ideal kata Rosa, membuat minum kopi terasa lebih nikmat.

Bicara panjang lebar seputar kopi, Rosa berkisah, untuk konsumsi sendiri, keluarga Rosa tidak mengambil dari kopi hasil panen sendiri di kebun kopi. Mereka minum dari kopi-kopi hasil “berak”musang.  Selain itu, mereka  juga  mendapatkan kopi dari muntahan mulut burung kalong atau orang-orang di kampung Rosa menyebutnya kaka niki.

“Ya waktu masih di bangku SD dulu, tugas saya sehabis sekolah memungut kopi dari berak musang atau muntahan dari mulut kaka niki. Itu yang disiapkan buat minum,”ujarnya mengenang.

Menurut Rosa, orangtua dan orang-orang di kampungnya menyakini,  kalau kopi bekas makanan musang atau niki adalah kopi terbaik. Pasalnya, binatang yang beroperasi di malam hari itu hanya memilih biji kopi pilihan. “Ya itu bukan mitos, tapi memang yang bekas dari perut musang dan mulut kalong, rasa kopinya lebih nikmat,” ujarnya yakin.

Selanjutnya, masih dari Manggarai Timur. Pengakuan yang sama datang dari Mery, petani kopi Arabika di Kampung Colol. Perempuan paruh baya itu menceritakan juga keunikan kopi yang ada di kampung halamannya. Kampung Colol memang berada di dataran tinggi. Daerahnya dingin dan sehari-harinya diselimuti kabut, mendung dan hujan. Daerahnya itu dikenal sebagai surganya kopi Arabika. Sebagian orang Manggarai menyebut kopi Zuriah. Kalau direka-reka memang nama kopinya identik dengan nama negara-negara di Timur Tengah. Tapi sulit dibuktikan karena 90 persen penduduk Manggarai beragama Katolik.

kopi flores 3Yang jelas, kopi- kopi Arabika yang tumbuh subur di daerah itu sudah tergolong tua dan tetap berbuah lebat. Berbeda dengan Kopi jenis Robusta yang volume buahnya tenggelam oleh rindangnya daun. Tapi kopi Arabika atau Zuriah, kata Mery, justru kalau musim buah tiba, maka semua daunnya rontok. Istimewanya, kalau sudah diolah menjadi kopi tubruk, kandungan manis dalam kentalan kopi terasa nikmat. “Tanpa gula, kopi arabika terasa manis. Kami terbiasa minum kopi pahit ditemani dengan keladi rebus atau ubi jalar,”ujarnya menebar senyum.

Selain itu, penduduk Manggarai Flores pada umumnyapun,  tidak saja sebatas  menikmati aroma dan rasa kopi asli yang berkualitas. Tradisi masyarakat daerah ini juga,  kerap menggunakan kopisebagai media untuk penerawangan nasib, jodoh, pekerjaan, ataupun mencari solusi apabila ditimpah masalah.

Secangkir kopi dengan takaran ideal di seduh air panas. Kemudian diminum sampai habis oleh seseorang yang mau diterawang kehidupannya. Lewat ampas kering yang tersisa di dasar cangkir kopi itulah seorang peramal akan membaca peruntungan nasib seseorang. Memang untuk menerawang nasib dalam secangkir kopi hanya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus.

Selain dikenal sebagai minuman gaya hidup, kopi juga memiliki beberapa manfaat kesehatan. Beberapa penelitian dari lembaga pendidikan internasional yang ternama menunjukkan, mengkonsumsi kopi murni berkualitas tinggi dengan jumlah yang wajar dapat mengurangi resiko penyakit-penyakit berat yang diderita banyak orang seperti; diabetes, kanker colon, sirosis hati, serangan jantung dan lain-lain.

Rosa juga menyebut kopi berfungsi sebagai obat. Mereka kerap menguyah kopi goreng yang terasa pahit. Selain itu, kopi tubruk bisa menyembuhkan luka bakar. Menurut Rosa, kopi juga kerap digunakan untuk meredam bau. “ Ya banyaklah manfaatnya,”cetusnya.

Memang dari semua manfaat dan kebaikan kopi tersebut di atas, yang patut disesalkan adalah banyak kopi tubruk yang beredar di Indonesia tidak terbuat dari biji kopi asli maupun dengan kualitas yang layak. Sangat disayangkan jika masyarakat Indonesia tidak bisa menikmati kopi tubruk Indonesia terbaik dan bermutu di negara sendiri.

Cerita kopi Flores dari kisah  Rosa dan Mery, hanyalah salah satu potret kecil kopi berkualitas  terbaik di negeri ini.  Banyak lagi daerah lain di Indonesia dengan hamparan daratan luas memiliki kopi unggulan yang tak kalah menariknya.Kopi Toraja, kopi Lampung, Kopi Bali, Kopi Medan, dan sebagainya.  Tidak salah karena kaya akan kopi, Indonesia menjadi  salah satu produsen kopi terbesar dan terbaik di dunia.

kopi manggarai 2Masyarakat Indonesia dan berbagai kalangan juga sudah akrab dan memiliki budaya minum kopi. Namun banyak biji kopi yang beredar di pasar Indonesia tidak memiliki kopi biji asli dengan kualitas terbaik. Kopi berkualitas terbaik Indonesia justru beredar di luar negeri dengan harga yang cukup tinggi. Sangat disayangkan jika masyarakat Indonesia tidak bisa menikmati kopi lokal  berkualitas terbaik di negeri sendiri.

Padahal kualitas dan keunggulan kopi Indonesia sudah dikenal sejak lama di seluruh penjuru dunia. Dari konsumen elit di negara-negara di Eropa, penikmat-penikmat kopi yang bergaya hidup modern dan trendy di Amerika, bahkan sampai ke pasar kopi yang sedang berkembang seperti di China, reputasi dan eksklusifitas kopi Indonesia sudah tidak asing lagi bagi mereka. Bertahun-tahun kopi Indonesia menjadi salah satu komoditas yang paling diminati di dunia, bahkan dipasarkan di luar negeri dengan harga yang tinggi.

Budaya minum kopi sudah lama tertanam di masyarakat Indonesia sejak tahun 1616. Kopi dapat dengan mudah ditemukan dimana saja. Dari desa sampai ke pasar-pasar modern. Hal tersebut mengindikasikan,  kopi adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, khususnya dalam bentuk tradisional tubruk yang disajikan secara mudah dan praktis tanpa menggunakan alat atau mesin kopi apapun.

Sampai saat ini negeri asal dan asal usul penggunaan tanaman kopi belum diketahui dengan pasti.  Namun demikian, beberapa ahli berpendapat semua jenis kopi yang mempunyai arti ekonomi berasal dari daerah hutan tropis Afrika.  Sampai akhir abad XIX, dianggap kopi Arabika berasal dari Abesinia (Ethiopia), menyebar ke Arab (Yaman) dalam abad XV.

Disebut-sebut penduduk asli Uganda dan Abesinia dahulu biasa mengunyah biji kopi kering dan daunnya sebagai penyegar ketika ditemui oleh orang-orang Eropa.  Demikian juga dalam melakukan perjalanan jauh, penduduk asli membawa bekal biji kopi yang telah ditumbuk dan disanggan (ground roasted coffee) yang dicampur dengan minyak atau lemak dibentuk bola-bola kecil untuk dimakan dalam perjalanan. Kopi juga sering dikonsumsi dalam upacara-upacara adat dan keagamaan.  Pada waktu itu belum dikenal tata cara minum kopi seperti sekarang.

Dr. Ir. Ade Wachjar M.Sc dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB, menyatakan, kapan kebiasaan orang minum kopi seperti sekarang, belum diketahui dengan pasti.  Diduga kebiasaan minum kopi berasal dari Arab, pada abad XV dan XVI. Kemudian menyebar ke Mekah, Madinah, daerah Timur Tengah lainnya, dan negara-negara Eropa.

Menurut Wachjar, Yaman dan Mekah, merupakan pusat perdagangan dan penanaman kopi Arabika pada waktu itu. Sementara kata dia, di Indonesia (Jawa) orang mengenal minuman kopi sejak tahun 1616, yang dibawa oleh Admiral Pieter Van den Broeke dari Belanda,  yang mendapat tugas untuk berdagang dengan bangsa Arab di Laut Merah.

Tapi dari semua itu, kini budaya minum kopi sudah tertanam di masyarakat Indonesia.  Di mana-mana dapat dengan mudah ditemukan minuman kopi, di desa, di kota, di pasar tradisional, ataupun di pasar modern. Ini menandakan jika kopi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Kormensius Barus