Sampah Plastik Pencetak Rupiah

by

(Infomoneter)-Tak di sangka, sampah plastik bisa mengangkat derajat hidup seseorang. Tengok saja pengalaman Abdul Gani (51), seorang pemulung, yang meraih kesuksesan, berkat mendaur ulang plastik bekas dan menjadi uang bernilai miliaran rupiah.

Selain ikut mengangkat harkat dan martabat kaum pemulung yang selama ini hanya di pandang sebelah mata, keberadaan Abdul Gani dengan kaum pemulung pun ikut menyelamatkan lingkungan. Pemulung-pemulung yang dikordinirnya, itu, ikut berjasa dalam membebaskan kawasan metropolitan ini dari tumpukan sampah plastik.

Abdul Gani bukanlah pemulung biasa. Berkat keuletannya, ia mampu mengola produk sampah menjadi sebuah entity bisnis. Tak salah, apabila lelaki bertubuh subur ini pun pernah diundang menjadi pembicara seminar nasional.

Rupanya, kisah menjadi pembicara seminar itu selalu melekat di benaknya. Maklum, puluhan tahun dia hanya berkutat dengan limbah sampah berbagai jenis plastik dan hanya terbiasa bicara dengan anak buahnya, yang juga sesama pemulung.

“Ya mas, saya ini bingung sendiri saat di undang dan suruh omong di depan orang-orang berdasi di Hotel Bintang Lima dan bareng pejabat menteri lagi. Mereka sebut saya jadi pembicara seminar. Saya juga baru tahu istilah itu dari mereka. Maklum saya ini kan cuma SD. Kerja saya hari hari kan cuma mengukur timbangan plastik dan menghitung harga jual,” paparnya.

Kisah Abdul Gani yang di daulat menjadi pembicara seminar, itu, takala diadakan Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) tentang Revitalisasi UMKM Untuk Menggerakan Perekonomian Nasional di Bandung. Kala itu dirinya mempersentasikan pengalaman mengembangkan usaha, satu sesi dengan pembicara lain, yang terdiri dari menteri, pengusaha hingga ekonom. Nama Abdul Gani menjadi pilihan ISEI, berdasarkan studi kajian tentang profil sosok mandiri yang sukses dan pria yang terbiasa dengan produk berbau itulah menjadi pilihan mereka.

“Saat saya berada di acara itu, pikiran saya membayangkan sesuatu yang mencemaskan. Hati saya tersiksa. Seperti mau dihukum mati. Keringat di ruangan AC yang dingin terus bercucuran,” guman pria paruh baya kelahiran Indramayu 19 Mei 1959, ini.

Pria yang mengaku gugup saat menjadi pembicara itu mengatakan, dirinya dianggap berhasil mengembangkan limbah sampah plastik daur ulang dengan memberdayakan komunitas pemulung yang jumlah mencapai puluhan orang-sebagai bagian dari industri padat karya.

“Ya saya mengumpulkan puluhan jenis plastik bekas kemudian di pilah pilah, dihancurkan dan selanjutnya di jual ke berbagai pabrik gelas, pabrik plastik. Mereka itu yang pesan,”ujarnya, kepada redaksi Infomoneter, di kediaman Haji Abdul Gani, Kompleks Perumahan Pulo Gebang Permai Blok H4, Jakarta Timur, belum lama, ini.

Dalam rangka memperluas lapak dan menambah lapangan kerja bagi komunitas pemulung serta mengangkat kehidupan ekonomi kaum Pemulung, Abdul Gani telah membeli beberapa hektar tanah di dekat Bantar Gebang, guna untuk mengumpul dan mendaur ulang sampah plastik yang kian menggunung.

Motor Jatuh Pembawa Berkah
Menekuni profesi pemulung bagi Abdul Gani bukanlah pilihan hidupnya. Terlahir dari keluarga miskin membuat dirinya dihadapi kebimbangan akan masa depannya. Sejurus dengan perjalanan waktu, dan desakan kebutuhan ekonomi dia melihat ada kerja instan yang bisa menopang hidupnya. Yaitu mengkais-kais sampah, mengumpulkan barang bekas, seperti halnya plastik dan kardus. Dirinya kemudian memilih tinggal di daerah kumuh Bantar Gebang yang berjarak 1000 meter dari tempat pembuangan sampah.

Rutinitas hari-harinya adalah menanti datangnya truk sampah sebagai pembawa rejeki. Hanya saja, untuk mendapat barang bekas yang menjadi incaran, itu, menurut Abdul, tak semudah yang dibayangkan. Dia harus berjuang mati-matian bersama dengan rekan pemulung lainnya.

Ayah yang telah berhasil menyekolahkan anaknya di Akademi Kepolisian, ini, mengatakan, waktu itu dia tak tahu mau jadi apa, yang terpenting kerja keras untuk bisa makan.

Karena sudah terbiasa dengan transaksi jual beli barang berkas, maka Abdul Gani kemudian melihat ada potensi di balik barang bekas yang bisa meningkatkan kesejahteraan bersama komunitas pemulung. Tapi apa daya, kata dia, waktu itu, jangankan beli mesin daur ulang, buat makan saja masih sulit.

Lalu bagaimana bisa sukses? Nah, secara kebetulan di 30-an tahun silam, Abdul Gani menolong seorang pengendara motor yang jatuh terserempet truk sampah saat melintas di area Bantar Gebang. Kebetulan Abdul Gani berada di lokasi kejadian dan menolong pengedara motor tersebut. Di dalam tas pengendara itu tidak hanya berkas surat-surat penting, yang berhamburan namun terdapat uang sebesar Rp 150 juta. ”Saya tahu di dalamnya ada uang. Buru-buru uang itu saya amankan. Takut ada orang lain yang tahu. Bisa-bisa mereka yang merampok tas itu,” tambah bapak yang memiliki lima anak ini.

Kemudian dia serahkan tas dan uang itu pada pemiliknya tanpa ada yang hilang dan ternyata pengendara itu adalah karyawan BRI Kawasan Tanjung Priok. Abdul Gani sudah lupa nama karyawan bank itu. Tapi berkat kebaikan dan ketulusan Abdul Gani menolongnya, pegawai bank itu menawarkan pinjaman tanpa jaminan sebesar Rp 2,5 juta.

Uang Rp 2,5 juta waktu itu, kata bagi Abdul Gani sangat besar. Kemudian berkah modal yang diberikan itu, digunakan Abdul Gani untuk membeli timbangan, lapak dan motor. ”Pokoknya saya beli sesuai dengan kebutuhan untuk usaha, hingga berkembang saat ini. Saya pun bersyukur karena walaupun usaha skala kecil, saya bisa mengembangkan lapak, berbagi rezeki pada anak buah. Prinsip saya anak buah senang. Saya juga senang,” tegasnya.

Kini, melalui bendera UD Panca Tunggal yang mempekerjakan puluhan pemulung, usaha Abdul Gani kian berkibar. Produk plastik bekas yang ditampungnya, dilakukan sederetan proses. Menurutnya, pemulung adalah profesi yang banyak dikerjakan oleh komunitas dengan tingkat pendidikan yang ala kadarnya dan minim. Mereka akan pusing jika harus menghafalkan nama ilmiah plastik. Sehingga komunitas pemulung mengenal sampah plastik dalam kategori plastik kerasan dan plastik daun/lembaran. Setelah dipisahkkan menurut warna dan kekeruhan bahannya, sampah palstik itu dibersihkan dari semua jenis noda. Pembersihan itu pun sangat sederhana menggunakan pisau dapur. Selanjutnya plastik tersebut diolah dengan mesin pencacah hingga berubah menjadi potongan plastik kecil seukuran 5 mili meter.

Mesin tersebut dipesan secara khusus kepada perakit hingga berfungsi seperti pencacah kopi dan kelapa. Hasil cacahan tersebut disaring beberapa kali dalam air sebelum dikeringkan dan dijual sebagai biji plastik. “Kita kirim hasil dari daur ulang plastik itu ke berbagai perusahaan yang memang sudah jadi pelanggan,” katanya.

Hingga kini Abdul Gani memiliki 30 lapak yang tersebar di Rawasari, Kramat Raya, Cilincing, Matraman, Bogor, Cileungsi, kawarang hingga Pamanukan. Tiap lapak dia mempekerjakan anak buahnya sekitar 10-15 orang. Untuk menghidupkan lapak-lapak baik yang dimilikinya mapun kontrak, Abdul Gani mengeluarkan budget sekitar Rp 10 juta. Dengan uang itu diharapkan bisa menghidupkan roda bisnisnya. Omsetnya dari usaha plastik bekas pun mencapai Rp 1,5 miliar per tahun. Ekonomi terbantu, keselamatan lingkungan pun terjaga. Kormen Barus (infomoneter.com)