REFLEKSI INDUSTRI KELAPA SAWIT 2014 DAN PROSPEK 2015

by

fadilOleh Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif GAPKI.Tahun 2014 telah terlewati, pada awal tahun 2014 para pesohor pasar CPO meramalkan tahun 2014 harga CPO akan sangat bagus apalagi adanya anomali cuaca El-Nino yang akan melanda Indonesia dan Malaysia sehingga kemarau menjadi lebih panjang dari biasanya ternyata tidak seindah yang diharapkan. Sepanjang tahun 2014 harga CPO tersungkur pada level terendah dalam lima tahun terakhir sehingga memaksa pemerintah Malaysia menurunkan tarif Bea Keluar nol persen pada kuartal keempat tahun 2014 (seperti yang diketahui Malaysia mengeluarkan regulasi pajak ekspor CPO pada tahun 2013 dengan range 4,5% – 8,5% dengan batas bawah harga CPO RM 2.250 per metrik ton).

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, dimana pada 3 bulan terakhir tahun 2014 harga rata-rata CPO

berada dibawah USD 750 per metrik yang merupakan batas bawah pengenaan Bea Keluar sehingga

pada Oktober sampai Desember 2014 bea keluar CPO ditetapkan nol persen. Sepanjang tahun harga

CPO sulit untuk terkerek karena harga minyak nabati lain seperti kedelai, rapeseed dan biji bunga

matahari juga mengalami penurunan karena melimpahnya stok. Hal ini diperparah dengan jatuhnya

juga harga minyak dunia.

Sepanjang tahun 2014 harga rata-rata CPO hanya mampu bertengger di USD 818,2 per metric ton.

Harga rata-rata ini turun 2,8% dibandingkan dengan harga rata-rata CPO tahun 2013 yaitu USD 841,71

per metric ton. Sementara itu berdasarkan data yang diolah GAPKI, total ekspor CPO dan turunannya

asal Indonesia pada tahun 2014 hanya mencapai 21,76 juta ton atau naik 2,5% dibandingkan dengan

total ekspor 2013, 21,22 juta ton. Adapun produksi CPO dan turunannya 2014 diprediksi mencapai

31,5 juta ton (termasuk biodiesel dan oleochemical). Angka produksi ini naik 5% dibandingkan total

produksi tahun 2013 yang hanya mencapai 30 juta ton.

Sepanjang tahun 2014 negara tujuan ekspor terbesar Indonesia masih diduduki India, negara Uni

Eropa dan China. Ekspor ke India tahun 2014 mencapai 5,1 juta ton, atau turun 17% dibandingkan

dengan tahun lalu dimana volume ekspor mencapai 6,1 juta ton. Turunnya ekspor ke India disebabkan

berbagai faktor seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi India akibat inflasi di dalam negeri yang

tinggi, lemahnya nilai tukar rupee terhadap dollar AS pada pertengahan hingga akhir tahun, India

menaikkan pajak impor minyak nabati mentah/crude dari 2,5% menjadi 7,5%, sementara untuk refined

oil dari 7,5% menjadi 15%.

Penurunan ekspor juga terjadi ke China, tahun 2014, volume ekspor Indonesia ke China hanya

mencapai 2,43 juta ton atau turun 9% dibandingkan tahun 2013 dimana volume ekspor mencapai 2,67

juta ton. Turunnya volume ekspor China juga disebabkan masalah perekonomian dimana pertumbuhan

ekonomi China yang melambat, tingkat kepercayaan bank yang menurun sehingga para trader

kesulitan mencari pinjaman, China juga memberlakukan syarat regulasi standar residu pestisida, hal

lainnya adalah stok kedelai yang tinggi di dalam negeri.

Sementara itu, volume ekpsor CPO dan turunannya asal Indonesia ke negara Uni Eropa yang

merupakan negara pengimpor terbesar setelah India, mencatat kenaikan sebesar 3% dari 4 juta ton

pada tahun 2013 menjadi 4,13 juta ton di tahun 2014. Uni Eropa sangat masif dalam menggalakkan

kampanye negatif penggunaan minyak sawit dengan berbagai cara. Kenyataan minyak sawit

merupakan minyak nabati yang paling efektif dan murah membuat Uni Eropa tetap meningkatkan

permintaan ditengah gencarnya kampanye hitam minyak sawit dan pemberlakuan anti dumping duty.

Tahun 2014, kinerja ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke Pakistan meningkat sangat

signifikan yaitu sebesar 84% meskipun secara volume tidak sebesar ekspor ke China maupun ke India.

Tahun 2013 ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan mencapai lebih dari 903 ribu ton meningkat

menjadi 1,66 juta ton di tahun 2014. Meningkatnya ekspor ke Pakistan merupakan salah satu hasil dari

Preferential Trade Agreeement (PTA) Indonesia dan Pakistan.

Peningkatan volume ekspor minyak sawit ke Amerika Serikat juga cukup memuaskan di tahun 2014

mengingat pada tahun 2014 pasokan kedelai melimpah di Amerika, dan pada pertengahan tahun

pemerintah AS menggalakkan peningkatan penggunaan biodiesel dengan kedelai sebagai feedstock

yang pendanaannya disalurkan melalui USDA. Pada tahun 2014, ekspor minyak sawit ke AS

meningkat 25% dari 381,4 ribu ton di 2013 menjadi 477,2 ribu ton di 2014.

Peningkatan volume ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar baru di negara Timur Tengah juga cukup

menggembirakan. Menurut data yang diolah GAPKI volume ekspor minyak sawit Indonesia ke negara

Timur Tengah pada tahun 2014 meningkat 16% dari dibandingkan tahun lalu atau dari 1,98 juta ton di

tahun 2013 menjadi 2,29 juta ton di tahun 2014. Meningkatnya permintaan minyak sawit di Timur

Tengah tidak terlepas dari variabel harga minyak sawit dan minyak nabati lainnya dan keterbatasan

dari negara Timur Tengah memproduksi minyak nabati sendiri. Selain itu meningkatnya GDP negara

Timur Tengah dan populasi yang meningkat cukup tinggi juga meningkatkan konsumsi.

Harga minyak sawit sepanjang tahun yang murah tetap saja tidak mampu mendongkrak permintaan

dari pasar. Hal ini dikarenakan banyak negara yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi

dan Uni Eropa masih dalam pemulihan dari krisis moneter. Nilai ekspor CPO dan turunannya per

November 2014 sebesar 19,35 miliar dollar AS dan sampai pada Desember 2014 diperkirakan total

nilai ekspor mencapai 20,8 miliar dollar AS. Artinya nilai ekspor CPO dan turunannya pada tahun 2014

meningkat 8% dibandingkan dengan total nilai ekspor tahun 2013 yaitu 19,23 milliar dollar AS.

Di tahun 2014 sejumlah masalah dalam negeri yang dihadapi industri sawit nasional adalah sebagai

berikut:

1. Kepastian Hukum menyangkut lahan/tata ruang masih tetap menjadi momok bagi industri kelapa

sawit dan masih terdapat kebun-kebun lama yang sudah HGU banyak mengalami masalah

tumpang tindih dengan kawasan hutan.

2. Infrastruktur yang masih belum mengalami kemajuan yang menyebabkan naiknya biaya

transportasi yang berakibat pada kurangnya daya saing CPO Indonesia.

3. Terbitnya beberapa regulasi baru yang akan berdampak pada pengembangan industri sawit seperti

PP 71/2014 tentang pengelolaan lahan gambut, UU 18/2013 tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Perusakan Hutan, dan lain-lain.

4. Pelaksanaan mandatori BBN 10% masih belum efektif sehingga penyerapan didalam negeri belum

tinggi. Penetapan harga BBN juga masih belum kondusif di sisi produsen.

5. Perda di daerah, jumlah perda “bermasalah” semakin banyak.

6. Kampanye negatif dari dalam dan luar negeri dimana di beberapa negara Eropa telah

melaksanakan food labeling “Palm Oil Free” terkait informasi produk makanan kepada konsumen

dan pemberlakuan biodiesel anti dumping duty.

7. Kasus kebakaran lahan masih menjadi “ancaman” karena masalah kebakaran lahan diproses

hukum dianggap sebagai masalah pidana.

Tahun 2015

Industri sawit nasional masih tetap menjadi andalan, motor penggerak dan perekonomian nasional.

Di tahun 2015 industri sawit diperkirakan memiliki prospek yang cukup cerah dan menjanjikan. Menurut

para ahli di tahun 2015 Indonesia akan menjadi kunci penentu harga. Hal ini tentunya terkait dengan

keseriusan pemerintah Indonesia dalam menjalankan mandatori bahan bakar nabati (BBN). Jika

Mandatori BBN dilaksanakan dengan efektif dan percepatan peningkatan BBN 20 dilaksanakan maka

secara otomotis penyerapan di dalam negeri akan meningkat sehingga pasokan ke pasar global akan

berkurang. Hal ini akan mengerek harga CPO di pasar Global, apalagi jika Malaysia melakukan hal

yang sama. Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan akan meningkat meskipun tidak signifikan

karena tidak banyak ekspansi lahan yang bisa dilaksanakan sejak moratorium diberlakukan 3 tahun

yang lalu.

Tantangan di tahun 2015 yang perlu segera diselesaikan adalah :

1. Penyelesaian tata ruang. Kepastian hukum tentang tata ruang mutlak dibutuhkan agar rencana

usaha dapat dilakukan dengan baik dan berkelanjutan.

2. Percepatan sertifikasi ISPO sehingga perusahaan-perusahaan perkebunan di Indonesia dapat

segera mendapatkan sertifikat ISPO sesuai dengan perpanjangan waktu yang telah ditentukan.

3. Mendorong percepatan pelaksanaan BBN 20 dengan basis CPO. GAPKI mendorong pemerintah

dapat membuat regulasi dan menetapkan harga patokan yang menguntungkan pemerintah

maupun produsen biodiesel.

4. Mendorong pemerintah untuk meningkatkan hubungan dagang dan mengadakan kerjasama

dengan negara tujuan utama ekspor seperti mengadakan PTA, sehingga hambatan dagang ke

negara tujuan ekspor dapat diminimalisir.

5. GAPKI mengusulkan kepada pemerintah untuk merevisi PP No. 71 Tahun 2014 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Revisi UU 18/2013 tentang Pencegahan

dan Pemberantan Perusakan Hutan. Revisi perlu dilaksanakan supaya peraturan tidak

menghambat perkembangan industri sawit di dalam negeri.

6. Mengawal beberapa regulasi yang kemungkinan akan berdampak kontraproduktif terhadap

investasi seperti usulan Rancangan Undang-Undang Pertanahan.