Redenominasi Rupiah Sebuah Langkah Positif

by
Batara
Pengamat Perbankan, DR. Batara M. Simatupang

 (infomoneter.com)-Redenominasi rupiah disebut-sebut muncul untuk menciptakan efisiensi dan penyederhanaan kalkulasi dalam perdagangan. Redenominasi dengan menghapus tiga angka nol dalam denominasi rupiah. Nominal rupiah saat ini tertinggi kedua setelah mata uang dong Vietnam. Padahal untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, redenominasi dalam konteks kesetaraan antarnegara cukup penting. Terkait dengan rencana Redenominasi, belum lama ini redaksi infomoneter mewawancarai Pengamat Perbankan DR. Batara M. Simatupang. Berikut Petikannya:

Rencana pemerintah seputar redenominasi rupiah, begitu kencang diperdebatkan. Bagaimana pendapat Anda?

Saya memandang bahwa rencana pemerintah meluncurkan redenominasi rupiah adalah langkah yang positif. Kendati positif, langkah ini dipastikan banyak mengundang perdebatan. Dalam kebijakan publik, perdebatan adalah suatu yang lumrah. Tinggal bagaimana penguasa bisa menciptakan kebijakan dimaksud akan membawakan kemaslahatan yang maksimal bagi masyarakat dan negara. Dikarenakan redenominasi adalah perkara besar, maka pelaksanaannya harus dikawal secara ketat disertai akuntabilitas yang tinggi, karena bagaimanapun niat baik bisa saja dikalahkan oleh sistem. Sistem yang saya maksud di sini adalah bahwa kita berada dalam alam demokrasi, dimana orang bersepakat untuk sepakat dan juga orang bersepakat untuk tidak sepakat. Kalau alam ini yang dijadikan batu penjuru, maka keputusan akan bergeser menjadi keputusan politik bukan kebijakan publik bagi mengefisiensikan sistem keuangan republik ini. Saya pikir yang dibutuhkan masyarakat adalah simplifikasi dari sistem keuangan, yang mana bila redenominasi dilaksanakan jangan sampai merepotkan dan mengganggu proses transaksi. Bila sosialisasi ke arah ini dilaksanakan secara sistemik oleh BI dan pemerintah, maka tingkat akseptibilitas masyarakat akan tinggi dalam merespon pelaksanaan redenominasi.

Apa dampaknya bagi perbankan dan masyarakat?

Berbicara mengenai dampak tentu akan ada. Kebijakan ini akan membawa beberapa konsekuensi langsung, antara lain berkurangnya digitalissi angka perhitungan akuntansi dan ini akan memudahkan perbankan dalam penghitungan, karena berkurangnya 3 (tiga) digit angka dari semula Rp.1.000,- menjadi Rp 1,-; menyetarakan perhitungan sistem moneter bagi mata uang asing, seperti USD1 yang saat ini Rp10.000,- akan lebih setara nilainya menjadi Rp Rp. 10,-; bagi masyarakat tentu akan memudahkan transaksi dengan angka nominal mata uang yang rendah, seperti harga BBM Premium 1 liter sebesar Rp. 6.500,- cukup sederhana menjadi Rp. 6,5 (enam rupiah dan 50 sen).Dengan angka nominal yang rendah terhadap mata uang secara keseluruhan akan membawa dampak psikologis bagi masyarakat bahwa tingkat kesetaraan mata uang Republik Indonesia dapat sejajar dengan mata uang asing.

Bisa Anda berikan contoh soal pengalaman negara lain dalam hal redenominasi rupiah?

Redenominasi adalah simplifikasi atau penyederhanaan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara menghilangkan digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Contoh, semula nilai uang Rp.1.000,- menjadi setara dengan Rp. 1,-. Sejak tahun 1973 hingga tahun 2005, setidaknya sudah terdapat 27 negara yang melakukan redenominasi. Beberapa contoh yang berhasil sebagai referensi negara yang sukses melaksanakan redenominasi antara lain pada 5 Juli 1999 – 31 Desember 1999, Bulgaria berhasil dengan mulus melakukan redenominasi, dengan menghilangkan tiga digit angka nol dan menerapkan dua harga untuk seluruh barang yang diperdagangkan. Di tahun 2000 penggunaan dua harga dihentikan dan redenominasi berjalan dengan mulus; Pada 1 Januari 2005, Turki berhasil dengan mulus menjalankan redenominasi dengan dari 1 Juta Lira menjadi 1 Lira, dengan cara bertahap, tahap pertama menjalankan dua nilai mata uang, setahun kemudian tahap kedua mata uang lama ditarik secara berlahan, juga tanpa gejolak. Namun demikian tercatat beberapa negara yang gagal menjalankan redenominasi antara lain Brazil, Rusia, Argentina, Korea Utara, dan Zimbabwe. Umumnya kegagalan yang terjadi adalah karena momentum pelaksanaan redenominasi tidak di dukung stabilisasi ekonomi, seperti inflasi yang tidak terkendali dan juga stabilisasi sistem keuangan negara yang kurang mendukung.

Bagaimana dampaknya terhadap sistem teknologi perbankan?

Dampak bagi sistem teknologi perbankan adalah dalam bentuk efisiensi penggunaan digit angka yang menciut hingga 3 (tiga) digit yang ujungnya akan mempengaruhi efisiensi pada proses pencatatan, penyimpanan, pengelolaan dan pelaporan data. Di samping itu akan membawa konsekuensi langsung terhadap sistem pelaporan keuangan dan juga statistik. Bagi sistem perangkat lunak dan perangkat keras di IT perbankan juga secara signifikan membawa dampak efisiensi terutama untuk kemampuan penyesuaian hardware dan software yang lebih gampang mengakomodasi penulisan dan perekaman dengan jumlah digit angka yang semakin berkurang. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, bila jumlah transaksi yang begitu besar dengan jumlah digit yang melebihi 15 digit dengan nominal transaksi mencapai ratusan triliun bisa meembus ke 16 digit, maka akan berdampak bagi IT perbankan secara langsung, belum lagi potensi risiko operasional terhadap human error juga turut meningkat.

 Apakah redenominasi rupiah akan berpengaruh pada penguatan rupiah?

Redonenominasi tidak secara langsung mengubah penguatan rupiah terhadap nilai tukar terhadap mata uang utrama (basket currencies), namun akan memberikan kesetaraan dalam nilai tukar secara moneter. Secara psikologis juga akan membawa dampak bagi pandangan masyarakat bahwa nilai mata uang satu negara dengan negara lainnya tidaklah jauh berbeda, sehingga dapat membentuk opini akan adanya kesetaraan dalam mata uang secara timbal balik.

Bagaimanakah redenominasi dapat diterapkan di Indonesia ?

Redenominasi dapat dilakukan dalam dua tahap. Tahap satu dengan memberlakukan dua mata uang dengan daya beli yang sama (satu sampai maksimum dua tahun), selanjutnya tahap kedua di tahun kedua menarik mata uang lama secara perlahan dari peredaran, tahap ketiga dalam kurun setahun atau dua tahun masih diperkenankan menukar mata uang lama ke mata uang yang baru, selanjutnya redenominasi penuh sudah berlaku di tahun ke lima. Total jenderal hanya membutuhkan waktu 4 (empat tahun), tidak perlu berlama-lama kita berkutat menghasbiskan waktu dalam proses ini, semakin singkat semakin baik.

Apakah tujuan redenominasi rupiah ?

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dari pengertian redenominasi, bahwa tujuan utama dari redenominasi adalah untuk simplifikasi atau penyederhanaan pecahan mata uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi. Simplifikasi akan membawa konsekuensi bagi efisiensi pencatatan akutansi, pelaporan data (statistik), pengelolaan, dan penyimpanan. Juga mengefisiensikan pemanfaatan kesesuaian IT, antara soft-ware dan hard-ware. Ada hal yang menggembirakan dari diterapkannya redenominasi diluar pakemnya yaitu kemungkinan akan tersaringnya dengan selektif berapa sebenarnya jumlah uang beredar yang ada di republik ini selama ini, hal ini akan terdeteksi dengan penarikan secara perlahan mata uang lama yang diganti dengan mata uang baru.

Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan redenominasi?

Dukungan penuh dari semua pihak sangatlah menentukan diterapkannya redenominasi di Indonesia. Sebagaimana yang dicanangkan oleh BI, kalau tidak ada aral melintang, redenominasi dapat mulai digulirkan pada Januari 2014. Tentunya, BI sudah mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan kebijakan ini, termasuk payung hukum dari DPR RI. Faktor dan momentum terbaik dalam melakukan redenominasi adalah pada saat BI mampu dengan baik mengendalikan inflasi dan menata sistem keuangan dengan menjaga stabilitas keuangan nasional. Pada hemat saya, awal tahun 2014 adalah momentum yang terbaik melaksanakannya, kendati pada tahun tersebut ada hajatan akbar di negeri ini. Sosialisasi haruslah diterapkan secara terfokus dengan melibatkan masyarakat, di samping publikasi media cetak dan elektronik, sosialisasi juga melibatkan pemda hingga ke tingkat RT dan dusun. (redaksiinfomoneter@yahoo.co.id)