PROFESIONALISM SOCIAL RESPONSIBILITY

by

Eddie-Priyono-1(Oleh EDDIE  PRIYONO, Konsultan dan Pengamat Bisnis, Advisor Lembaga Pusat Studi dan Komunikasi Pemerintahan)-Baru saja diributkan , penghinaan yang dilakukan seorang artis , terhadap lambang negara . Dan akhirnya diketahui oleh masyarakat, latar belakang pendidikan dia termasuk rendah , dan tolak belakang dengan ketenarannya yang luar tinggi , dan menjadi idola sebagian masyarakat.

Namun , kalau ditelaah lebih dalam , sebenarnya bukan hanya karena pendidikannya saja yang rendah , tetapi juga RASA KEBANGSAAN , kebanggaan terhadap negeri ini , yang notabene telah menghidupi dan melindunginya…juga memprihatinkan.

Bayangkan , kalau menjawab HARI KEMERDEKAAN negeri ini , pada tanggal 32 Agustus ???.

Wahhhh semua juga tahu , tidak ada tanggal 32 dikalender !  Sekedar untuk lucu2an ? Ini sih tidak lucu , namun ngawur dan melecehkan….ditambah solah tingkah dalam menjawab isi PANCASILA….yang dengan cucuran darah dan airmata diciptakan para pahlawan , untuk menjadi dasar negara ini.

TINGKAT PENDIDIKAN , RASA NASIONALISME , KESADARAN BERNEGARA , dan tidak bisa membedakan mana yang SERIUS dan mana yang JOKE…adalah masalah utamanya.

Biarlah proses berlanjut dan PEMBELAJARAN apapun boleh diberikan kepadanya , sebijaksana mungkin , untuk mendidik dan membuat effek jera kepada siapapun. Kalau bukan kita , warga negara Indonesia , siapa lagi yang akan menjunjung tinggi kehormatan bangsa…????

Kita coba lihat lebih dalam lagi……

Kenapa media elektronik masih juga menyiarkan dan membuat acara2 seperti ini ? Talkshow entertainment yang semakin hari semakin menjamur disemua media elektronik , khususnya yang berpedoman TV entertainment ?…..

Jawabnya sangat mudah..karena RATING nya tinggi , pemasang iklan banyak dan mahal , apalagi disaat prime time ? …..

Mengejar margin dari iklan yang masuk di program tersebut ?… Tidak mengacuhkan norma pendidikan untuk pemirsanya ? …Tidak ada unsur chek rechek sebelum on air , karena kejar tayang , jadi harus LIVE menyiarkannya ??……

Acara yang katanya disukai pemirsa , belum tentu bermanfaat untuk masyarakat , itu seharusnya menjadi concern bagi media tersebut !

Hal yang patut dipikirkan dan ditindak lanjuti oleh KPI…Komisi Penyiaran Indonesia.

Mari kita lihat sebentar ke Korporasi yang memasang iklan diprogram2 sejenis ini …..

Korporasi membayar tinggi untuk iklan media elektronik ini,……katanya untuk image building , remind our consumers , LAUNCHING product dan lain lain…..

Pada era 80 an saat Pemerintah melarang iklan di TV karena mendorong konsumerisme saat itu , maka Korporasi menghilangkan Promosi ‘above the line’, yaitu periklanan melalui media elektronik dan media cetak , dan mensupport semua aktivitas dengan ‘below the line’ yang berupa sales promotion ke seluruh jaringan distribusi dan direct ke konsumennya.

Dan tetap mendapatkan growth bisnis setiap tahunnya…… !!!

Lihat juga saat ini , industri rokok yang dibatasi siaran iklannya hanya ditengah malam…dan tetap saja terkenal….

Siapa yang tidak kenal klub badminton milik salah satu industri rokok ?

Apalagi kalau kita melihat industri minuman beralkohol……zero advertising….namun dengan below the linenya, mereka survive , dan menggunakan 30% budget tahunan untuk aktivitas sales promotion.

Ini sekedar mengingatkan Korporasi yang ‘boros’ di periklanan media , atau above the linenya,  mengurangi dan dialihkan kepada salespromo , disaat konsumen mengalami “sulit dimasa sulit” karena ekonomi yang sedang sulit saat ini.

Promo Inovasi adalah kuncinya.

Semua masalah diatas hanya bisa diatasi dengan PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH ….. PERAN TELEVISI dalam menyajikan PROGRAM ACARA BERMUTU ,  KORPORASI bersedia MENGURANGI ANGGARAN ABOVE THE LINE untuk dialihkan menjadi BENEFIT LANGSUNG kekonsumen masing2.

PROFESIONALISM  SOCIAL  RESPONSIBILITY.

Ada yang menarik dari fenomena taman kota. Selain berfungsi sebagai paru2 kota, juga berfungsi sebagai tempat rekreasi murah, sarana olahraga , dan penghias kota.

Tidak disangsikan saat ini , setiap kota berlomba merevitalisasi atau membuat taman baru, untuk menyegarkan kota yang sudah sesak , terkena dampak ‘global warming’.

Dari ibukota , kota besar , kota kecil sampai kedesa berpacu menghijaukan lingkungannya. Alhamdullilah.

Fungsi taman sebagai paru2 kota , sebenarnya bisa digunakan untuk sarana pendidikan luar sekolah , yang secara tidak langsung akan meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Taman LALULINTAS di Bandung , sudah sejak puluhan tahun yang lalu , menjadi tempat main anak2 sekaligus belajar berlalulintas yang benar dan santun dijalan raya……

Pemikiran yang sangat maju dimasa lalu.

Tidak salah kalau Jakarta , Bandung dan kota2 lain , beradu inovasi untuk mendapatkan manfaat lebih , dari bukan hanya sekedar taman.

Dan tidak salah juga , kalau seorang Kepala Daerah di JAWA BARAT , melibatkan kaum profesional untuk berlomba menciptakan taman, difasilitasi sarana Fasos Fasum ,  merevitalisasi taman2 milik kotanya , menjadi TAMAN PENDIDIKAN , dengan menunjukkan pendidikan sesuai profesi mereka.

TAMAN GIGI , dipugar oleh PDGI setempat , atas rekomendasi Walikota , dan ditaman tersebut terpampang brosur tentang kesehatan gigi , merawat gigi ,…. tentunya tanpa iklan dimana alamat si dokter gigi.., semua hanya bertujuan mendidik masyarakat dilingkungan tersebut tentang gigi.

Taman menjadi lebih multi fungsi.

Bukan hanya paru2 kota , tempat olahraga, tempat rekreasi anak2, tempat aktifitas sholat Ied , dan terakhir bertambah dengan fungsi yang lebih penting…..PENDIDIKAN  LUAR  SEKOLAH yang dibuat oleh profesioanal2 dibidangnya….

Para profesional dan asosiasinya tentu akan berminat untuk memberikan PSC nya, sebagai sumbangsih dari keprofesionalismenya.

Dan saat peresmian taman tersebut , PDGI setempat pun tersenyum ,karena telah mempunyai sarana pendidikan gigi sesuai keahliannya , kepada masyarakat.

Para pamong di tingkat Kelurahan dan Kecamatan pun senang , dengan bertambahnya sarana keindahan, manfaat taman yang multi fungsi.

Dan para kepala daerah , dipersilahkan berlomba memanfaatkan apapun asset wilayahnya untuk menjadi lebih berfungsi…..ikut concern terhadap pendidikan warganya secara tidak langsung.

Dan pak Ketua RW yang BUKAN PEGAWAI PEMDA  atau PEMKOT pun bersyukur , karena niatnya untuk mengabdi dengan tulus iklas tercapai.

Karena hanya AMAL  KEBAIKAN dan PAHALA yang dia yakini , akan diberikan oleh ALLOH SWT , TUHAN yang MAHA PENGASIH. S e m o g a.