Polisi Didesak Tangkap Aktor Intelektual Penculik Anggota DPRD Mabar

by

indexJAKARTA-Keluarga korban penculikan politik di pilkada serentak 2015 di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak aparat kepolisian, khususnya Polres Mabar untuk segera menangkap pelaku penculikan terhadap Marselinus Jeramun yang juga anggota DPRD Kabupaten Mabar.

Tindakan penculikan terhadap politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini merupakan bentuk teror terhadap proses demokrasi yang tengah berkembang di Indonesia. “Ini bentuk teror yang sangat biadab. Aksi penculikan ini hanya bisa dilakukan oleh penjahat yang berjiwa pengecut,” ujar kakak kandung Marselinus, Alex Marten Jeramun di Jakarta, Sabtu (12/12).

Seperti diketahui, Marselinus diculik oleh sekelompok orang tak dikenal di Puar Lewe Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng saat hendak pulang ke rumahnya di Labuan Bajo. Para penculik ini mengancam Marsel dengan menggunakan parang panjang. Tak hanya itu, mobil dinas yang ditumpangi Marsel dirusak. 4 ban mobil di kempes. Usai melakukan itu, mereka menculik lalu melempar Marcel ke dump truck yang dipakai oleh para penculik.

Sementara sopirnya Marsel tidak dibawa serta. Mereka takut mendengar sang sopir mengaku dari Kampung Sampar. Oleh sopir, kejadian ini dilaporkan ke keluarganya di Sampar meminta agar menghadang dump truck yang dipakai untuk menculik. Sayang, upaya ini gagal. Namun, 2 dari sekawanan penculik itu berhasil ditangkap di Sampar. Kedua yang ditangkap itu bernama Herry Ganggas asal Pora Kecamatan Ndoso yang juga adik kandung calon Bupati Maxi Gasa. Herry ini bekerja sebagai PNS di Kantor Dispenda Kabupaten Manggarai Barat. Adapun seorang lagi berasal dari Desa Bung yang juga anak kandung dari kakaknya Maxi Gasa. Oleh pemuka Sampar, keduanya digelendeng ke Rumah Gendang. Dari situ terungkap jelas bahwa motif penculikan adalah pilkada. Sebab dua pelaku itu adalah tim sukses dari Maxi Gasa. ”

Alex meminta aparat kepolisian untuk tidak mendiamkan kasus ini termasuk mengungkap motif dibalik aksi penculikan ini. Keseriusan polisi menjadi ujian memberantas premanisme politik yang mengancam demokrasi. “Apapun motif dan siapapun dalangnya harus diungkap. Ini tindakan yang tidak bisa dibenarkan,” tuturnya.

Lebih lanjut Alex menegaskan, aksi penculikan ini merupakan tindakan kriminal. Untuk itu, kejahatan kemanusiaan ini harus dilawan. “Jangan biarkan Mabar jadi benih persemaian premanis polotik,” tegasnya.

Oleh karena itu lanjut Alex kewibawaan hukum harus ditegakan selurus-lurusnya dengan cara menangkap pelaku termasuk aktor intelektualnya agar dikemudian hari tidak ada lagi yang menjadi korban dari sebuah ambisi meraih kekuasaan. “Kami, keluarga Marsel menyerahkan kasus ini ke Polres Mabar maupun aparat penegak hukum lainnya. Kami sangat percaya, polisi profesional dalam menuntaskan kasus ini,” ujarnya.

Alex percaya aparat penegak hukum menjadi benteng terakhir bagi pencari keadilan. “Jadi, usut tuntas kasus ini tanpa harus merasa takut diintervensi oleh pihak manapun,” harapnya.
Sementara itu, tudingan politik uang dibalik penculikan ini, Alex dengan tegas membantah. Tudingan itu hanyalah fitnah keji yang dipakai untuk melegalisasi aksi penculikan. Pasalnya, momentum pilkada sudah lewat. Sehingga tudingan politik uang terbantahkan dengan sendiri. “Sama sekali tidak ada bukti soal politik uang. Tempat kejadian perkara ini dihutan, jadi mana mungkin membagi uang dihutan,” jelasnya.

“Bahwa ada surat pengakuan soal money politic terpaksa dibuat karena dibawah ancaman pembunuhan. Keselamatan jiwa diatas segala-galanya,” tegasnya.

Apalagi, ancaman pembunuhan ini tidak hanya bagi Marsel seorang, tetapi juga keluarga. Hingga saat ini, keluarga Marsel mengungsi ke tempat persembunyian sementara guna menghindari dampak negatif dari pristiwa ini. “Anak dan istrinya mengalami trauma psikologis yang sangat berat,” tuturnya

Lebih lanjut dia meminta para cabup di Mabar untuk berbesar hati menerima realitas hasil pilkada. “Mari berangkulan dan bergandengan tangan membangun Mabar. Kebesaran jiwa para pemimpin ini akan ditulis dengan tintas emas oleh generasi muda Mabar,” pungkasnya.