Penetapan Pemenang Tender Dermaga Alor Dinilai Janggal

by

dermaga alor(infomoneter.com)-Penetapan pemenang tender proyek pembangunan dermaga (Dermaga V-5) di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur tahun anggaran 2014 dinilai penuh dengan kejanggalan. Kejanggalan paling menyolok adalah perserta dengan penawaran tertinggi dinyatakan sebagai pemenang tender. Kejanggalan lainnya, proses pelelangan sangat tertutup. Misalnya, panitia tidak memberitahukan kepada peserta perihal sistem dan metode penilaian yang diguakan panitia lelang.

“Karena itu, kami meminta agar penentuan pemenang proyek tersebut dievaluasi kembali,”ujar Komisaris PT Prima Pilar Perkasa, Marthen O.M, Senin (29/9).

Marthen menilai, pihaknyalah yang menang tender tersebut karena merupakan penawaran terendah. PT Prima Pilar Perkasa, lanjutnya, memberikan penawaran paling rendah dari sekian pesrta, yakni sebesar Rp 17.914.700.000,00. Namun, tender tersebut justru dimenangkan oleh PT Mina Fajar Abadi, yang menawarkan harga jauh lebih tinggi, yaitu sebesar Rp.20.554.500,000,00. Padahal Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 70 tahun 2012, jelas-jelas mengamanatkan bahwa peserta dengan penawaran terendah yang menang.

“Secara admisitratif juga kami memenuhi semua persyaratan. Tidak ada cacat. Dan dari segi penawaran, kami yang terendah. Maka , mestinya kami yang menang,” tegasnya.

Dari segi pengalaman, Marthen mengatakan, pihaknya telah memiliki pengalaman memadai dalam mengerjakan dermaga. Ia menyebutkan beberapa proyek pembangunan dermaga yang berhasil dibangun antara lain di Papua, Kalimantan dan Jawa Timur. “Kami telah memiliki pengalaman membangun sekitar lebih dari 10 dermaga. Antara lain, kami dipercaya membangun Dermaga Angkatan Laut di Sorong, Papua Barat,”ujarnya.

Panitia pelelangan yang dibentuk Kementerian PDT ini menilai PT Prima Pilar Perkasa gugur karena ambang batas yang ditetapkan terlalu rendah, yaitu 50,06 jauh dibawah nilai teknis yang ditetapkan panitia, yaitu 80. Panitia meragukan ambang batas terlalu rendah bakal tidak bisa menjalankan proyek.

Mestinya, kata Martin, panitia membuka ruang untuk berdebat mengenai ambang batas ini. “Harus diberi kesempatan bagi penawar untuk memberikan penjelaran terkait penawaran teknis 50 persen. Kami bisa membeli material dan pekerjaaan dan secara teknis dapat menyelesaikan dan mempertanggungjawabkannya dengan harga itu. Kami dapat mempertanggungjawabkan pekerjaan dermaga sesuai kualitas dan harapan yang distandarkan dalam pembangunan dermaga,”ujarnya.

Pembangunan dermaga di Alor di bawah kendali Kementerian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dengan menggunakan dana APBN. Pagu anggaran untuk proyek tersebut mencapai Rp 20.969.300.000,00. Proses lelang yang dibuka pada awal September 2014 ini diikuti oleh 31 peserta. Pemenang tender ditetapkan pada 24 September lalu, sedangkan penandatanganan kontrak akan dilakukan pada 1 Oktober hingga 20 Oktober mendatang.

Marthen menambahkan, jika penetapan itu dilanjutkan, maka negara berpotensi mengalami kerugian sekitar tiga miliar rupiah. Selama lima tahun mengikuti proses tender proyek infrastruktur di Kementerian PDT, ia mengaku, mencium banyak dugaan pelanggaran. “Saya menduga banyak terjadi penyimpangan dalam proses tender proyek infrastruktur di Kementerian PDT, yang dipimpin Pak Helmy (Helmy Faishal Zaini) tersebut,”ujarnya. (dul)