Paulus Doni Ruing: Lembata Butuh Sentuhan Midas

by
Paulus Doni Ruing, Pejuang Otonomi Lembata
Paulus Doni Ruing, Pejuang Otonomi Lembata

(infomoneter)-Kabupaten Lembata seperti raksasa tidur. Ragam potensi daerah ini tidak diberdayakan secara optimal. Seperti sektor kelautan perikanan, pertanian, termasuk juga sektor  pariwisata, baik wisata alam,wisata bahari, wisata budaya, wisata sejarah dan purbakala yang sangat indah dan menarik.

Pengusaha Muda Lembata, Paulus Doni Ruing, mengatakan, apabila pengelolaan potensi daerah Lembata dilakukan dengan baik, bukan tidak mungkin daerah ini,  menjadi daerah otonomi terbaik tingkat nasional. Namun, apapun gebrakan yang dilakukan harus memperhatikan kearifan lokal.

Saat ini, kata dia, Lembata, yang memiliki kekayaan melimpah itu justru ekonominya sangat terbelakang. Padahal kata Doni Ruing, Singapura yang luasnya tidak sebesar Lembata dan tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, mampu berdiri sebagai negara yang disegani di dunia. ”Mengapa kita tidak,”tanyanya.

Paulus Doni Ruing yang merupakan salah satu pejuang Otonomi Lembata ini, mengatakan, kedepan yang menjadi pemimpin Lembata adalah putra daerah, yang mengerti dan mampu menggali ragam potensi Lembata.  Pemimpin Lembata kedepannya juga harus memelakukan berbagai terobosan kebijakan, yang pembinaan dan pendampingan bagi masyarakat dan dunia usaha untuk mendukung ragam sektor di Kabupaten Lembata. “Saya miris melihat kondisi Lembata saat ini, Lembata belum disebut Otonomi,”ujarnya.

Permasalahan Lembata begitu kompleks, sehingga menurut Paulus Doni Ruing, butuh banyak pembenahan, seperti sumber daya manusia (SDM). “Untuk mendapatkan  SDM unggul, harus diperhatikan sejak  ibu hamil hingga orang itu masuk universitas. Karena kualitas SDM yang baik sangat menentukan kualitas sebuah bangsa,”ujarnya.

Apa Lembata perlu memiliki BUMD? Menurutnya, sangat perlu, guna mengelola ragam potensi daerah. Namun kata dia,  BUMD dikatakan baik apabila dikelola secara profesional dan SDM yang profesional. Apabila itu dipenuhi maka jelas BUMD tersebut memiliki kemampuan untuk survive, dan dengan sendirinya bisa melantai di bursa. ”Dalam pengembangan ini, BUMD menganut asas demokrasi ekonomi yang mengedepankan profesionalisme, transparansi dan akuntabilitas,”cetusnya.

Potensi Lembata yang tidak memiliki BUMD, kata dia, bisa disebut the sleeping giant (raksasa tidur)  yang belum dikembangkan, sehingga apa bila dikembangkan, jelas akan memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian daerah tersebut.

Kemudian sektor kelautan, peternakan, perkebunan, Lembata kata Doni Ruing, juga sangat prospek. Tinggal bagaimana pemerintah menyediakan sebuah BUMD yang membeli hasil rakyat dan pemerintah yang mencari pasar ekspornya. Rakyat kerjanya adalah menanam.

Untuk bidang pertanian, menurut Doni, negeri yang terkenal dengan tarian dolo-dolo ini, memiliki pontensi yang sangat besar juga. Makanya ke depan, kata Doni, petani Lembata,  tidak lagi sekadar didorong untuk bekerja keras tetapi mereka harus bekerja cerdas. Mereka harus mengelola lahan pertanian yang bisa mengkalkulasikan berapa potensi hasil panen dari usaha tani-nya. Dalam arti juga setiap komoditi atau produk pertanian yang dikembangkan haruslah produk unggulan bermutu yang memang cocok dengan iklim lembata dan memiliki prospek yang bagus untuk di pasarkan.

Menurut Doni, begitu banyak potensi pertanian dan perkebunan Lembata. Mulai dari Padi, Jagung, Kelapa, kacang-kacangan, pisang, dan sebagainya. Berapa komoditi unggulan Lembata kata dia, ke depan, jangan lagi dijual dalam bentuk bahan mentah tapi harus bisa diolah atau di produksi di Lembata menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sehingga memiliki value creation yang tinggi. Hal itu sangat berdampak perekonomian daerah terutama penyerapan lapangan kerja. Tapi itu semua tergantung kepada komitmen pemimpin daerahnya, terutama bagaimana visi dan strateginya dalam membangun daerah.

Paulus Doni Ruing menekankan lagi pemikirannya dalam membangun Lembata, ialah skema industri kelautan itu harus berimplikasi pada tiga aspek,  pertama:  Meningkatnya nilai dan jumlah penjualan ikan, sehingga kesejahteraan nelayan pun menguat. Kedua, terserapnya kesempatan kerja baru. Ketiga; Meningkatnya  PAD.

Doni Ruing mengaku sangat merindukan Kabupaten Lembata memiliki  industri pengalengan dan tepung ikan, industri dari dengan bahan rumput laut, dan sebagainya. Sehingga kata dia, industri industri ini bisa berdampak bagi terserapnya tenaga kerja. Apabila ada industri yang mengelola maka segala hasil pertanian, perikanan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

”Ya semua itu kembali lagi kepada pemimpin. Ke depan yang menjadi pemimpin Lembata tidak sekadar simbol kepala daerah atau Bupati tetapi dia harus bertindak sebagai Chief Executive Officer (CEO) di daerahnya yang memiliki jiwa entrepreneurship, sehingga  bisa memajukan daerahnya dan mensejahterakan rakyat. Jadi Lembata butuh Sentuhan Sang Midas yang memiliki tangan emas dalam membangun Lembata,”ujar pria low profile, ini, dengan mata menerawang. kormen