Pasar Properti Indonesia Masih Aman dari Dampak Buruk Bubble

by

pasar properti(infomoneter.com)-Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang tergolong kuat dalam kisaran 6% dan juga didukung oleh stabilitas indikator makro-ekonomi membantu perkembangan pasar properti tetap berada dalam level yang positif. Memasuki triwulan kedua tahun 2013, semua sub sektor properti di Jakarta mengalami kenaikan baik dalam hal permintaan maupun harga. Tren pertumbuhan positif yang telah berlangsung sekitar 3 tahun belakangan ini membuat pasar property di Indonesia khususnya Jakarta mencuat sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik bagi penanam modal asing dan internasional. Di sisi lain, kekuatiran terhadap dampak bubble yang mengincar pasar property di dalam negri dirasa terlalu berlebihan karena fundamental perekonomian dan pasar saat ini berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding waktu-waktu yang lalu. Demikian rangkuman presentasi Jones Lang LaSalle, konsultan property Internasional yang berkantor pusat di Chicago, AS, dalam acara Quarterly Media Briefing, yang di adakan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2013.

Pada bagian awal presentasi Jones Lang LaSalle tersebut, Anton Sitorus (Head of Research) menyampaikan kinerja positif pasar properti di Jakarta sepanjang triwulan II tahun 2013 yang diwarnai oleh kenaikan permintaan dan harga di semua sektor yang dipantau oleh Jones Lang LaSalle. Di sektor perkantoran komersial, Anton mengatakan bahwa penyerapan ruang kantor di CBD selama triwulan II mencapai sekitar 93,400 m2 sehingga total penyerapan untuk semester I 2013 mencapai 213,400 m2, atau naik 35% dibanding semester I tahun lalu. Penyerapan yang tinggi tersebut mendorong kenaikan harga sewa dalam semester, yang tingkatnya bervariasi antara 14-23%, kata Anton. Tren yang sama juga terjadi di perkantoran di luar CBD, dimana tingkat hunian naik menjadi 93%, kata Angela Wibawa yang membawahi bagian Project Leasing di Jones Lang LaSalle. Selama triwulan II penyerapan ruang kantor di luar CBD mencapai sekitar 34,800 m2, dimana hal tersebut mendorong kenaikan harga sewa antara 8-20% sejak awal tahun. Lebih lanjut Angela mengatakan bahwa sejauh ini kenaikan harga sewa di Jakarta Selatan, terutama daerah TB Simatupang masih yang paling tinggi dibanding wilayah lain.

Sementara itu di sub sektor kondominium strata, Luke Rowe (Head of Residential) menerangkan bahwa penjualan di pasar primer di Jakarta sepanjang triwulan ini mencapai sekitar 4,280 unit, hampir sama dengan triwulan sebelumnya. Tingginya jumlah penjualan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan end-user akan hunian vertikal di dalam kota seiring dengan perkembangan kota Jakarta menuju kota bertaraf internasional. Hal itu juga didorong oleh rendahnya suku bunga bank yang memudahkan orang membeli properti dan pada saat yang sama memicu minat investor untuk mengalihkan dananya ke properti, lanjut Luke. Disisi lain, jumlah peluncuran proyek baru pun tetap tinggi, kata Luke – selama periode April dan

photo(3)June 2013, jumlah unit yang diluncurkan pengembang mencapai lebih dari 4,000 unit. Diperkirakan tren maraknya peluncuran proyek baru ini masih akan terus berlangsung dalam beberapa triwulan mendatang dan kemungkinan melambat menjelang periode pemilu tahun depan, Luke menerangkan.

Perkembangan positif juga terjadi di sub sektor pusat perbelanjaan yang makin marak dengan sejumlah mal baru dan munculnya brand-brand ternama initernasional ke pasar domestik. Berdasarkan survey Jones Lang Lasalle, akibat penyerapan ruang ritel sebesar 78,400 m2 di triwulan ini, tingkat hunian mal sewa tetap stabil di kisaran 93%. Sementara itu, harga sewa masih relatif stabil dengan hanya kenaikan tipis sekitar 1-2% dibanding triwulan sebelumnya.

Todd Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia mengatakan bahwa perkembangan positif di berbagai sektor properti di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini masih akan terus berlanjut dalam tahun-tahun mendatang, didukung oleh fundamental perekonomian dan pertumbuhan bisnis dan industri dalam negeri yang semakin solid. Dengan demikian, diperkirakan bahwa pasar properti di Indonesia, tidak hanya di Jakarta namun juga di sejumlah kota-kota besar, akan terus menarik investasi baru tidak hanya dari pengembang nacional namun juga investor asing dan internasional. Lebih lanjut Todd mengatakan bahwa pasar properti di Indonesia masih relatif aman dari dampak kemungkinan crash atau bubble. Menurutnya, situasi saat ini berbeda jauh dibanding pertengahan tahun 1990-an menjelang tahun 1997-1998 dimana saat itu gejolak pasar keuangan dan valas menjadi pemicu krisis yang melebar kepada sektor perbankan dan berujung kepada kredit macet termasuk di properti. Akan tetapi saat ini, kemungkinan terjadinya hal tersebut masih sangat kecil, di sisi lain pertumbuhan ekonomi akan mendorong pertumbuhan income dan daya beli masyarakat yang akan menjadi modal pertumbuhan pasar di masa depan, tutup Todd.