Ngopi Pintar “Pemuda dan Politik”

by

ngopi(infomoneter.com)- Peran pemuda dalam sejarah seringkali dimitoskan dan dipersempit maknanya. Misalnya gerakan pemuda di tahun 1966 yang pada akhirnya disebut sebagai gerakan mahasiswa.

“Padahal bukan hanya mahasiswa, tapi banyak elemen pemuda yang terlibat dalam drama perubahan di era tersebut. Jadi ada usaha-usaha untuk mengecilkan peran pemuda dalam sejarah,” demikian ujar sejarawan muda JJ Rizal dalam diskusi Ngopi Pintar ‘Pemuda dan Politik’ di Kafe Tjikini, Jl Cikini Raya No 74 Jakarta (09/02).

Rizal juga menyebutkan bahwa dalam banyak episode sejarah di lndonesia, pemuda menempati posisi vital. Sehingga, istilah pemuda lama-kelamaan menjadi sebuah terminologi politis dan kelas.

“Yang memaksa Soekarno-Hatta untuk merealisasikan proklamasi secepatnya di era revolusi adalah para pemuda, angkatan 66 dimotori oleh pemuda, begitu juga dalam peristiwa 98. Tetapi peran pemuda dalam sejarah ini tidak pernah dirayakan. Justru hanya terkungkung menjadi terminologi politis dan kelas yang sangat sempit,” jelasnya.

Politisi muda Lathifa Marina Al Anshori (22 tahun) yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi memaparkan bahwa antusiasme pemuda terhadap politik sebenarnya besar. Namun, sejauh ini masih terdapat gap antara pelaku-pelaku politik dengan konstituen pemuda sehingga anak muda cenderung tidak tertarik terhadap politik.

“Kalau tokoh yang merepresentasikan pemuda bukan dari kalangan mereka, tidak mungkin mereka satu bahasa. Jadi, untuk menjembatani perbedaan ini, harus ada tokoh-tokoh muda yang menjadi wakil anak-anak muda, agar semangat pemuda benar-benar bisa terwakili,” papar lulusan Cairo University tersebut.

Lathifa menambahkan bahwa pemuda adalah pemicu perubahan yang tidak tergantikan. Ini disaksikannya sendiri ketika terlibat dengan aktivis-aktivis muda yang memotori Revolusi Mesir belum lama ini.

“Ketika saya kuliah di Mesir, pergolakan sedang berada di puncaknya. Kebetulan saya terlibat langsung dengan pemuda dan mahasiswa pelaku revolusi. Saya melihat semangat yang sama sebenarnya ada di pemuda kita, meskipun dengan kultur yang berbeda,” kata Lathifa.

Di lndonesia, menurutnya, aspirasi pemuda tidak harus disampaikan dan dilaksanakan melalui revolusi. Ada kanal-kanal demokrasi yang bisa dimanfaatkan para pemuda untuk terlibat dan menentukan arah perubahan.

Moderator diskusi, Willy Aditya, Direktur Eksekutif Populis Institut menyebutkan bahwa kaum muda di lndonesia telah mengalami tahap-tahap marginalisasi dalam politik.

“Di era orde baru, pemuda didepolitisasi, dijauhkan dari politik. Sementara saat ini, terjadi proses apolitisasi di dalam generasi muda, mereka menjauhkan diri sendiri dari aktivitas dan pembicaraan tentang politik. lni tidak boleh dibiarkan begitu saja,” terangnya.

Melibatkan kembali pemuda ke dalam politik sangat krusial. Karena, menurut Willy, semakin besar jumlah pemuda yang terlibat dalam politik maka semakin besar pula peluang terjadinya perombakan dalam tradisi politik yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

“Kalau mau berubah, pemuda mau tidak mau harus melibatkan diri. Kalau tidak mau terlibat ya jangan mengharapkan akan ada perubahan,” tutupnya.