Nasib Nelayan Tradisional yang Terpinggirkan

by

nelayan(infomoneter.com)-Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa.Itulah sepenggal syair dari lagu anak-anak berjudul Nenek Moyangku Seorang Pelaut ciptaan Ibu Sud. Lagu tersebut dengan jelas menggambarkan bahwa, sejak dahulu kala, di negeri maritim ini hidup para pelaut yang menggantungkan hidupnya pada luasnya samudera.

Akan tetapi, bayangan tentang pelaut yang pulang dengan membawa setumpuk hasil laut mampu membuat makmur keluarganya, semakin samar. Kehidupan nelayan tradisional saat ini tidak hanya menghadapi tantangan dengan banyaknya kapal ikan berukuran besar yang menggunakan alat tangkap canggih, namun nasib mereka juga memprihatinkan akibat berkurangnya hasil tangkapan. Imbasnya adalah kehidupan keluarga yang kian hari kian tidak menentu.

Menyikapi kondisi nelayan yang mengenaskan tersebut, SandraParamarthi Siswaryudi, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak Nelayan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia)ini bersama rekan-rekannya dari HNSI mengarahkan para isteri nelayan untuk membuat kerajinan tangan dari benda-benda laut seperti kerang.

“Beberapa kerajinan tangan yang kami ajarkan kepada mereka adalah membuat bros, kalung, tas, atau kerajinan tangan lain,” terang Sandra yang saat ini tengah berjuang agar hasil kerajinan tangan para isteri nelayan di 13 Kampung halaman nelayan, Serang, Banten tersebut bisa masuk pasar dunia agar perekonomian keluarga nelayan bisa menjadi lebih baik.

“Tidak semua hasil tangkapan mereka laku terjual di pasaran. Sisa ikan yang tidak terjual itulah yang harus bisa mereka manfaatkan untuk membuat berbagai macam penganan, seperti membuat sate banten atau abon ikan yang bisa mereka jual. Selain itu, para istri juga didorong untuk memproduksi jala ikan, pukat, dan alat melaut lain untuk suaminya pergi melaut” jelas peraih gelar Sarjana Sosial Politik Hubungan Internasional, Universitas Jayabaya

Saat ini, menurut Sandra, nelayan tradisional semakin terpinggirkan dengan banyaknya nelayan tangkap yang menggunakan kapal dan peralatan yang lebih canggih. Ironisnya, ketidakberpihakan pemerintah terhadap nelayan tradisional semakin memperparah kehidupan mereka.

Sandra berharap, masalah-masalah seperti, kurangnya bahan bakar bersubsidi untuk nelayan tradisional bisa diselesaikan dengan bekerjasama dengan Dinas Perikanan. “Karena, selain masalah bahan bakar, nelayan tradisional sudah dihadapkan pada berbagai macam permasalahan seperti cuaca dan kerasnya kehidupan di laut. Mereka hanya nelayan dan akan selamanya menjadi nelayan. Itu sebabnya kami mengkonsentrasikan diri terus menerus para keluarga nelayan yang menjadi warisan budaya Indonesia,” ujar Sandra yang juga terus menerus memberikan pendidikan tentang batas laut Indonesia kepada para nelayan.

“Nelayan kerap tertangkap polisi laut negeri tetangga. Itu semua akibat ketidaktahuan mereka tentang batas laut Indonesia,” jelas wanita yang juga pernah aktif di Kerukunan Usaha Kecil Menengah.