Melantai di Bursa, Saham WIKA Gedung Menanjak

by

(infomoneter.com)- PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WIKA Gedung) telah resmi mencatatkan perdana saham (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI)  sebagai emiten ke-30 pada 30 November 2017.

Perusahaan yang tercatat  dengan kode saham  WEGE, ini, telah melepas sejumlah 2,87 miliar lembar saham baru atau setara dengan 30 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor.

Saat pencatatan perdana, saham WEGE mengalami koreksi ke level Rp286 per lembar dari harga awal Rp290 per saham. Namun, dalam waktu singkat saham WEGE berbalik arah atau menguat menjadi Rp300 per saham. Saham WEGE sempat menyentuh level tertinggi Rp314 per saham.

Direktur Utama Wika Gedung, Nariman Prasetyo mengatakan selama masa penawaran (bookbuilding), saham Wika Gedung mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 216 persen.

“Itu menunjukan animo atau kepercayaan publik terhadap saham Wika Gedung cukup besar,” ujarnya

Nariman menambahkan bahwa perseroan melepas sebanyak 2,87 miliar saham seharga Rp290 per saham. Dengan demikian, perusahaan memperoleh dana dari hasil IPO sekitar Rp832,8 miliar. Sekitar 70 persen dari dana yang akan diraih itu akan digunakan untuk ekspansi usaha dan sisanya untuk menutup kebutuhan modal kerja.

Nariman Prasetyo menuturkan hingga Oktober 2017, pihaknya telah meraih kontrak baru yang mencapai Rp6,2 triliun, sehingga total kontrak perseroan (order book) saat ini mencapai Rp11,8 triliun.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Alpino Kianjaya di Jakarta, Kamis (30/11/2017) menyampaikan bahwa salah satu hal penting bagi perseroan setelah resmi mencatatkan sahamnya di BEI yakni menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

“Penerapan GCG di antaranya dengan melakukan keterbukaan informasi baik kepada regulator maupun kepada publik, serta memastikan terselenggaranya kepatuhan terhadap peraturan pasar modal,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan bahwa dengan begitu diharapkan saham WEGE dapat menjadi salah satu efek yang terus menjadi pilihan para investor dan manajemen investasi dalam menentukan portofolionya.

Alpino mengemukakan bahwa WIKA Gedung merupakan anak BUMN ketiga yang melaksanakan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada tahun ini. Sebelumnya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFI) dan PT PP Presisi (PPRE) telah lebih dulu mencatatkan sahamnya di BEI.

Kepercayaan publik terhadap saham WIKA Gedung ini sangat beralasan, karena WIKA Gedung memiliki beberapa keunggulan, antara lain memiliki customer base yang beragam baik swasta, pemerintah, BUMN dan pasar yang diciptakan sendiri melalui investasi dan konsesi, kejelasan program usaha terhadap core business-nya di bisnis konstruksi gedung melalui strategi forward yang fokus pada bisnis konsensi untuk men-suport perolehan proyek konstruksi dan juga proyek recurring income. Sedangkan strategi backward untuk memperkuat supply chain perusahaan, WIKA Gedung mengembangkan industrialisasi precast dan prefab serta geotech dengan mendirikan WIKA Pracetak Gedung (WPG) untuk precast industry telah membangun industri modular. (Kormen)