Geliat Dekopin Menjadikan Koperasi Pilar Negara di 2045

by
FOTO NURDIN 2
Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Drs HAM Nurdin Halid

(infomoneter.com)-Obe, seorang petani kemiri di Nantal, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), begitu sumringah ketika diajak bicara seputar koperasi simpan pinjam yang dirintis bersama orang sekampungnya. Walaupun relatif kecil dan beranggotakan petani ladang kering dan buruh tani, Obe merasakan semangat dan kesadaran berkoperasi orang di kampungnya sangat tinggi. Hal tersebut berdampak pada terus berkembangnya koperasi dan kesejahteraaan para anggotanya.

Koperasi yang mereka bangun itu bernama Mentari. Umurnya memang baru empat tahun. Awal pendirian koperasi itu, bermodal nekad dan berbekal pengetahuan sepintas selama mengeyam pendidikan di SMA. Namun, untuk mempelajari pengelolaan koperasi Obe terbantu membaca buku-buku dan berguru sepintas kepada orang-orang yang memang sudah berpengalaman dalam mengelola koperasi.

“Kami termotivasi karena kami dengar, kalau koperasi terbukti mampu meningkatkan taraf hidup anggotanya. Seperti di Sulawesi Selatan, menurut cerita, pertumbuhan sangat cepat dan bahkan menyerap lapangan kerja. Inilah yang kami harapkan sejak awal agar koperasi yang kami bentuk, menjadi penyelamat ekonomi kami,”ujarnya dengan mata menerawang.

Pengurus koperasi yang sempat kuliah berapa semester pada sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Malang, Jawa Timur itu, menuturkan, Koperasi yang didirikan, di harapkan menjadi matahari yang bisa menyinari kehidupan mereka. Pasalnya berpuluh puluh tahun, sebagian masyarakat kampung Nantal banyak yang mengalami kesulitan ekonomi. Kondisi itu berdampak pada tingginya angka putus sekolah, banyak yang mengambil jalan pintas dengan menjadi TKI Ilegal di Malaysia. “Mereka pulang dari TKI juga tidak membawa apa-apa, padahal sudah menjual tanah,”cetusnya.

Perlahan tapi pasti. Setelah Koperasi dibentuk dan dikelola secara baik, wajah-wajah petani yang dulu kusam penuh sedih, kini mulai bersinar. Koperasi yang didirikan empat tahun silam itu, mulai berperan dan menjadi lokomotif kehidupan anggotanya, terutama kebutuhan akan keuangan.

Hebatnya lagi, kampung Nantal yang dulu gulita, kini sudah memiliki Genset, sehingga listrik sudah menerangi seluruh rumah penduduk dan perkampungan.

Nantal yang diselimuti perbukitan dan ngarai, dengan peredaran uangnya terbatas, tapi pertumbuhan Koperasinya cukup bagus dan menjadi penyelamat kehidupan masyarakat setempat.

jasa lautBayangkan, dari modal awal koperasi yang tidak sampai 10 juta kini asetnya tumbuh mencapai Rp 200 juta. Bahkan telah membeli tanah dan mendirikan kantor operasional. Jumlah anggotanya sampai dengan tahun lalu lebih dari100 orang. Dimana ketentuan menjadi anggotanya adalah membayar uang pangkal per anggota Rp130.000 dengan iuran Rp 10 ribu per anggota tiap bulan.

Meskipun tidak mengenal kalimat good corporate governance yang selalu didendangkan kaum berpendidikan tinggi, tetapi mereka dalam pengelolaannya sangat mengedepankan asas kejujuran. Orang yang jadi pengurus adalah orang yang bisa baca tulis atau berpendidikan. Mereka juga orang yang dikenal masyarakat sebagai pribadi yang jujur, transparan dalam pelaporan, bebas dari masalah dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Tak Sekadar memberi pinjaman. Unsur kehati-hatian sangat dikedepankan. Koperasi ini hanya memberikan pinjaman kepada seseorang yang sudah lebih dari tiga bulan menjadi anggota. Namun para anggota tersebut tercatat memiliki penghasilan dari usaha taninya atau telah merintis sebuah usaha yang memiliki prospek. Hebatnya, perkembangan Koperasi mentari setiap bulannya yang dituangkan dalam Laporan Keuangan dan Statistik Bulanan kepada setiap anggotanya.

isap
Koperasi Terbukti membantu pengembangan usaha

Elisabeth, anggota Koperasi Mentari yang memiliki usaha peternakan ayam, menuturkan, lahirnya Koperasi Mentari di beberapa tahun silam memang bertujuan mensejahterakan anggota yang juga masyarakat di kampungnya. Hal tersebut juga berawal dari rasa keprihatinan seputar tumbuh suburnya para rentenir. Mereka tak kuat melihat jeritan para petani dan buruh tani yang harus bertekuk lutut kepada para rentenir atau tengkulak atau istilah orang di kampung tersebut ialah tukang ijon. Tidak sedikit orang di kampung Elisabeth, yang harus kehilangan tanah karena tidak mampu membayar kewajiban kepada tengkulak.

Kadang tak disadari, tengkulat muncul bak malaikat, karena selalu datang saat lagi kepepet. Banyak dari orang-orang di kampung tersebut terpaksa meminjam uang kepada para pengijon dengan bunga tinggi. Biasanya untuk biaya pendidikan anak sekolah. Para pengijon juga meminjamkan dana sebelum panen tiba dengan harga yang sangat murah. Nantinya pada waktu panen para peminjam harus menyerahkan hasil kebun kepada tengkulak atau tukang ijon tersebut. “Hati kami sebenarnya menangis. karena saat itu harga panen meningkat sementara kami sudah terima uang jauh sebelumnya, dengan harga murah dan tak wajar,”ujarnya dengan dialek Manggarai Flores.

Yang jelas dengan kehadiran koperasi Mentari dan koperasi di beberapa kampung lain, kata Elisabeth, rentenir tak lagi memiliki ruang gerak. Kini, segala kebutuhan akan uang, orang-orang kampung sudah beralih ke koperasi. Ibu dari tiga anak itu mengaku benar-benar terbantu dengan kehadiran koperasi di kampungnya. Tidak hanya di Koperasi Mentari. Tapi di setiap kampung dalam satu desa hampir memiliki koperasi.

Setidaknya kini, Elisabeth bisa mengembangkan usaha ayam potong dengan lancar, baik untuk pengembangan maupun penjualan. Hanya saja yang masih kendala bagi Elisabeth adalah pengetahuan seputar budidaya, perawatan dan pemasaran yang masih perlu di asa. “Kami sekadar piara ayam saja. Kadang musim hujan yang tidak pernah berhenti membuat ayam pada mati dan usaha saya terganggu,”ujarnya.

Pilar Negara 2045

Tumbuh suburnya koperasi di tanah air dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari upaya jajaran Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) yang tidak henti-hentinya mensosialisasikan koperasi di seluruh Indonesia. Dekopin adalah organisasi tunggal gerakan koperasi Indonesia yang berfungsi sebagai wadah memperjuangkan koperasi Indonesia.

ccrKetua Umum Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Drs HAM Nurdin Halid mengatakan, pertumbuhan koperasi di tanah air cukup menggembirakan. Hal tersebut menandakan masyarakat kian bergairah untuk menjadi anggota lembaga yang menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Karena masyarakat benar-benar sudah merasakan manfaat koperasi yang luar biasa.

Menurutnya, gebrakan untuk memajukan koperasi, terus digalakan-dengan melakukan revitalitas gerakan koperasi Indonesia. “Kedepan diharapkan koperasi bisa menjadi pelaku ekonomi yang dominan, sehingga ketahanan ekonomi semakin kokoh,”ujar Nurdin, Optimistis.

Selama ini gerakan koperasi Indonesia telah melakukan berbagai upaya kegiatan internasional sebagai bentuk partisipasi aktif gerakan koperasi Indonesia di gerakan koperasi dunia.

Pada tingkat organisasi dan kelembagaan pun, sejumlah pencapaian dikemukakan diantaranya, pemantapan organisasi dan kelembagaan Dekopin, Dekopinwil, dan Dekopinda. Sejalan dengan itu pula, peningkatan kemampuan sumber daya manusia gerakan koperasi menunjukan indikator peningkatan.

Dari sisi peran pemuda dan perempuan gerakan koperasi, keberhasilan nampak pada peran pemuda menempatkan koperasi pada lingkungannya. Perkembangan koperasi mahasiswa dan koperasi pada organisasi kepemudaan lainnya menjadi tolak ukur ekonomi kerakyatan ini mendapat tempat pada pemuda.

Kemudian, pada sisi pelayanan Dekopin kepada Induk Koperasi atau koperasi sekunder tingkat nasional terus menjadi perhatian dalam peningkatan mutu pelayanan kepada anggota.

logo_dekopin_101231202402Namun demikian pencapaian program Dekopin tahun 2013 masih memerlukan sejumlah tindak lanjut pada 2014. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan Undang-undang Perkoperasian No. 17 Tahun 2012, terdapat beberapa agenda yang menjadi perhatian, yaitu, terkait dengan supervise dan advokasi koperasi. Pendidikan dan pelatihan anggota, sosialisasi dan konsultasi, kerjasama dan kemitraan, serta memajukan organisasi anggota.

Setidaknya berbagai usaha dalam menumbuhkan koperasi sudah melihat hasilnya. Dimana, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, terdapat kenaikan sebesar 17,4 persen jumlah unit koperasi dari tahun 2009 yang tercatat sebanyak 170.411 unit menjadi 200.808 unit pada Juli 2013. Sementara dari sisi jumlah keanggotaan, terdapat kenaikan 18,8 persen dari 2009 yang tercatat anggotanya sebanyak 29,2 juta orang bertambah menjadi 34,7 juta orang. Dengan jumlah anggota sebanyak itu, kini volume usaha koperasi di pertengahan 2013 telah mencapai Rp115,2 triliun atau tumbuhdouble digit, 12,09 persen, dari 2012.

Yang jelas, kenaikan jumlah, baik dari sisi unit koperasi, jumlah keanggotaan maupun volume usaha, menunjukkan koperasi telah memainkan peranan yang strategis dalam sistem perekonomian nasional. Peran yang diharapkan ialah, pemerintah terus mendorong revitalisasi peran dan kebangkitan koperasi nasional untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkualitas dan berkeadilan. Melalui sejumlah program (termasuk menyediakan akses permodalan melalui KUR dan LPDB), pemerintah memfasilitasi pertumbuhan koperasi agar dapat menjadi entitas usaha yang kuat dan berkontribusi besar bagi proses pembangunan yang sedang berjalan.

Nurdin menyebut pertumbuhan koperasi simpan pinjam cukup menggembirakan bahkan telah menjadi lembaga keuangan alternatif di luar lembaga keuangan perbankan. Karena menurutnya, ketika masyarakat kekurangan uang dan tidak bisa mengakses perbankan, koperasi menjadi solusinya, koperasi mampu mengatasi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Ketika masyarakat harus berhadapan dengan kebutuhan untuk sekolah anak-anak mereka atau membeli pakaian sedangkan mereka tidak punya akses bank, koperasi simpan pinjam menjadi alternatif. Demikian juga, untuk pengembangan usaha kecil menengah, masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan koperasi simpan pinjam.

Sebagai Ketua Umum Dekopin, Nurdin dalam beberapa tahun terakhir bekerja keras dan membuat gebrakan untuk penyesuaian anggaran dasar koperasi dengan undang-undang yang ada untuk menentukan tiga jenis koperasi. Pertama koperasi produsen, jasa, dan simpan pinjam. Dimana kata Nurdin, nantinya, satu koperasi hanya bisa atau khusus menjalankan kegiatannya pada satu jenis usaha. Sehingga koperasi simpan pinjam tidak boleh mengelola kegiatan koperasi jasa atau produsen atau sebaliknya. Koperasi simpan pinjam akan fokus pada lembaga pinjaman apalagi saat ini telah ada lembaga penjaminan.

Kerja keras Dekopin dibawah Komando Nurdin, tidak luput dari perhatian dunia internasional. Dimana, majunya dunia koperasi di tanah air membuat Indonesia terpilih sebagai tuan rumah untuk Kongres Internasional Cooperative Alliance Asia Pasific (ICA-AP) yang akan dihelat bulan September mendatang di Bali. Forum itu akan menjadi ajang kerja sama koperasi antar negara kawasan Asia Pasifik dengan basis kebutuhan masing-masing negara. Setidaknya kongres tersebut menjadi jembatan emas membawa dunia perkoperasian Indonesia ke level dunia.

investasikuNurdin menegaskan, Koperasi harus menjadi pilar ekonomi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengakuan koperasi dalam Undang-undang Dasar 1945 mencerminkan koperasi sebagai jatidiri ekonomi bangsa Indonesia. Lebih dari itu, semangat kekeluargaan dan kebersamaan dalam berkoperasi menjadi budaya gotong-royong agar soko guru ekonomi NKRI.

Pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dekopin, di Bali, 25-27 Februari 2014, Nurdin mengingatkan, selain koperasi berbasis sosio-kultural kekeluargaan dan kebersamaan, kondisi geografis dan budaya agraris menjadi modal utama dalam pendirian NKRI.

Kondisi geografis dan budaya maritim membuat ekonomi mayoritas masyarakat Indonesia akan selalu berskala kecil. Itulah visi dasar para penyusun pasal 33 UUD 1945, dimana koperasi ditempatkan pada ayat satu dalam undang-undang tersebut.

Sebagai pilar dasar ekonomi bersama, koperasi kata Nurdin, tidak hanya menjadi lembaga ekonomi kerakyatan tetapi juga instrumen penting melestarikan wilayah NKRI. Dalam keanggotaan koperasi terdapat petani, peternak, nelayan, petambak, serta profesi lain tersebar di seluruh wilayah NKRI.

Dengan melihat fondasi yang kuat dan pertumbuhan koperasi saat ini, maka visi 2045 Koperasi Pilar Negara menjadi sebuah mimpi dan cita-cita yang harus didukung oleh semua elemen bangsa.

Keseriusan Dekopin dengan menyusun cetak biru (blueprint) Visi Koperasi 2045 dan menggali pemikiran, ide, pengalaman, serta aspirasi dari daerah-daerah yang memiliki karakteristik berbeda, merupakan sebuah terobosan demokrasi dalam usaha melahirkan sebuah konsep brilian akan masa depan koperasi Indonesia.

Diketahui untuk mencapai visi 2045 Koperasi Pilar Negara, Dekopin melakukan kegiatan Roadshow Nusantara di sejumlah kota besar. Kepala Humas Dekopin, Yosef Tor Tulis, mengatakan, untuk menjadikan koperasi sebagai pilar negara, pekerjaan utama gerakan koperasi Indonesia ialah melakukan konsolidasi internal dan menjalin kemitraan dengan kekuatan-kekuatan eksternal seperti pihak swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), organisasi-organisasi sosial ekonomi dan profesi maupun lingkungan, lembaga keuangan, dan dunia kampus. (Petrus Alkantara)