Jurus Matias Mairuma Membesut Kaimana Jadi Surga Wisata Bahari Pilihan

by

Bupati Kaimana Matias Mairuma (kiri) bersama Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, saat hadir dalam Bandara Award, di Hotel Borobudur, pekan lalu.
 Matias Mairuma, Bupati Kaimana yang Berjiwa Marketing Public Relations

infomoneter.com-Beragam cara dilakukan Bupati Kaimana Matias Mairuma agar daerahnya bisa dikenal luas. Seperti yang dilakukannya saat diundang dalam Bandara Award, di Hotel Borobudur, pekan lalu. Dalam malam award yang dihadiri Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan puluhan bupati serta wali kota itu, Matias Mairuma memaparkan profil Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat secara lengkap. Mulai dari posisi strategis Kaimana, infrastruktur apa yang dibutuhkan, bagaimana membangun dan ragam terobosan pemerintahannya dalam mengembangkan daerah Kaimana kedepannya.

Sang Bupati memang hanya diberikan waktu tidak lebih dari 10 menit oleh panitia untuk presentasi, namun benar-benar dimanfaatkannya secara maksimal untuk promosi Kaimana. Cara Matias dalam mempresentasikan Kaimana, disajikan dengan sangat menarik, efektif, komunikatif, serta diselingi humor, sehingga mampu meraih perhatian para undangan award, termasuk Menhub Budi Karya Sumadi dan para pejabat lainnya, yang saat itu duduk di barisan paling depan.

“Ini Bupati memiliki jiwa marketing public relation yang sangat baik. Dia sangat menguasai panggung. Bicaranya santai tapi semua paparannya menarik. Saya baru mengetahui Kaimana. Selama ini hanya lewat lagu lawas senja di Kaimana saja,”ujar seorang peserta yang mengaku eksekutif dari sebuah BUMN, dengan seloroh canda.

Dalam presentasinya, Matias mengatakan, Kabupaten Kaimana terletak di Papua Barat, hasil pemekaran dari Kabupaten Fak-Fak pada 2002. Sejak dulu mendapat julukan Kota Senja, terutama setelah populer lewat lagu lawas dengan judul Senja di Kaimana.

Menurut Matias, Kabupaten Kaimana memang kaya akan keindahan alam. Mulai dari darat, laut, hingga daerah payau. Selat, air terjun, tempat hiking, bird watching, memancing, diving, dll. Alamnya masih asri dan kaya jenis flora serta fauna.

Menurutnya, bandara dan pelabuhan menjadi jembatan emas bagi pembangunan di Kabupaten Kaimana, karena dapat meminimalisasi biaya dan waktu angkut orang, barang, dan jasa serta meningkatkan mobilitas orang dari dan ke Kaimana.

Kehadiran pembangunan bandara dan pelabuhan juga memberikan manfaat yang besar bagi pariwisata di Kaimana. Karena Kaimana menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa seperti Teluk Triton dan Keindahan bawah laut. Tempat Pariwisata Kaimana mendapat pengakuan dari divers dunia dan juga peneliti trumbu karang dunia sebagai The Lost World.

“Setidaknya kehadiran bandara sudah memberikan perubahan yang positif terhadap kondisi kehidupan masyarakat dan Kabupaten Kaimana,”ujarnya.

Harapan Matias kepada Menteri Perhubungan, agar Bandara Kaimana sebaiknya ditingkatkan statusnya menjadi bandara internasional karena letaknya yang strategis, memiliki nilai sejarah sebagai bandara peninggalan Belanda. Para penjajah mengincar Kaimana karena lokasinya yang strategis untuk menguasai wilayah Pasifik dan Australia. Wilayah Kaimana pernah dijadikan Pangkalan Udara dan Pangkalan Angkatan Laut saat Belanda masih menjajah sebagian tanah di Indonesia pada tahun 1946.

Menhub Budi Karya Sumadi, dalam sambutannya beberapa kali menyebut nama Kaimana dan setuju dengan pendapat Matias Mairuma bahwa pembangunan sektor pariwisata harus sejalan dengan kesiapan infrastruktur.

Satu Rupiah Pun Harus Bermanfaat bagi Rakyat

Matias yang merupakan sosok kalem, pintar dan mumpuni, merupakan Mantan aktivis yang matang dalam dunia organisasi. Saat didapuk untuk memimpin Kaimana, dirinya mengerti betul, apa saja yang harus dilakukannya dalam membangun Kaimana demi kesejahteraan rakyatnya. Apalagi Matias didukung dengan pengalaman di dunia aktivis, LSM, akademisi dan studi tentang pembangunan daerah.

Sejak awal memimpin Kaimana, fokusnya adalah bagaimana ekonomi harus Kaimana itu harus lebih baik, sehingga Matias berkomitmen, uang satu rupiah-pun harus bermanfaat bagi rakyat Kaimana.

Masyarakat Kaimana tidak layak jadi miskin. Karena Kaimana menurutnya memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. Selain subur untuk pengembangan pertanian dan perkebunan, serta ternak, Kaimana juga sejak dulu dikenal sebagai pusat rumput laut dan pala. “Potensi rumput laut dan Pala saja kalau dikembangkan ini membawa kemakmuran luar biasa bagi orang Kaimana,”ujarnya.

Kemudian sektor pariwisata, perikanan dan kelautan, serta pertambangan, apabila dikelola secara benar dan optimal, bukan tak mungkin dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kaimana.

“Kaimana the Sleeping Giant di Papua Barat. Ini raksasa tidur. Kami ingin membangun masyarakat mandiri. Bangun manusianya, bangun usahanya. Orang Kaimana harus mengandalkan kekuatan mereka sendiri untuk menjadi penggerak ekonominya, ”paparnya.

Itulah tekad sang Bupati yang terkenal ramah, murah senyum, bersahabat, rendah hati namun tetap tegas ini, dalam mengemban amanah memimpin Kaimana. Namun kata dia, semua program yang dicetuskan, tak semudah membalikan telapak tangan. Karena dalam menjalankannya, perlu ada komitmen dan dukungan kuat dari masyarakat Kaimana secara keseluruhan.

Bagaimana keindahan Kaimana? Kabupaten Kaimana yang memiliki luas wilayah 18.500 km² dan berpenduduk sebanyak 67.291 jiwa (2015), tak cuma terkesima lantaran alamnya yang eksotik dan perawan, tapi inilah kabupaten dengan lanskap perbukitan yang berpadu dengan lembah dan ngarai. Keindahan lautnya yang dipenuhi oleh pulau-pulau karang dan pohon-pohon hijau yang menyegarkan mata.

Di Kaimana orang kenal Teluk Tirton. Banyak orang bilang teluk ini bahkan lebih indah daripada yang ada di Raja Ampat. Untuk menjangkau tempat itu, bisa menyewa kapal motor dari pelabuhan setempat. Waktu tempuhnya kira-kira 60 menit. Lokasinya masih di Kabupaten Kaimana. “Kaimana adalah surga Bahari di Papua Barat,”ujar matias dengan senyum simpul.

Banyak terobosan yang dilakukan pemerintahannya dalam membangun Kaimana. Pertama adalah sumber daya manusia (pendidikan), infrastruktur dan kesehatan, menjadi perhatian utama.

Menurutnya, dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Kaimana, kelemahan yang di hadapi adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia yang diakibatkan oleh terbatasnya prasarana penunjang pendidikan yang layak.

Matias banyak melakukan upaya kerjasama dengan beberapa kampus ternama di Indonesia, dengan mengirimkan tenaga pengajar dari Kaimana untuk kuliah di berbagai universitas tersebut. “Mereka kembali berkarya di Kaimana dan langkah ini cukup bagus,”ujarnya.

Matias juga menyoroti mata pencaharian penduduk di wilayah Kabupaten Kaimana yang umumnya pada sektor pertanian, perikanan, perdagangan, jasa. Dimana sektor pertanian dan perikanan masih bersifat tradisional. Sedangkan dunia usaha umumnya ditekuni oleh penduduk asal Bugis, Buton, Makasar, Jawa dan Warga Negara Indonesia Keturunan. Namun saat ini telah diberdayakan sejumlah putera daerah untuk menekuni berbagai bidang usaha.

Menurutnya, penduduk yang bermukim di daerah pegunungan pedalaman belum banyak dipengaruhi oleh interaksi dari luar, sedangkan penduduk daerah pesisir telah banyak mendapat pengaruh tersebut melalui perkawinan, seni musik/ tari maupun cara berbusana. Tidak heran komposisi pemeluk agama di Kabupaten Kaimana terlihat cukup beragam yakni Islam, Kristen Portestan, Katholik, Hindu dan Budha. Kondisi kerukunan dan toleransi umat beragama berjalan baik yang tidak didapati di wilayah Indonesia lainnya.. (kormen)