Harga Baja Belum Membaik, Krakatau Steel Berpotensi Rugi Rp1,17 Triliun pada 2018

by

infomoneter.com – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), produsen baja lembaran (Hot Rolled Coils/HRC) terbesar di Indonesia, ditargetkan masih mengalami kerugian Rp1,17 triliun pada 2018. Itu karena harga baja yang masih berfluktuasi dan kontribusi dari PT KS Posco yang belum stabil.

“Kendati demikian, volume penjualan kami pada tahun ini diproyeksikan tumbuh 40% menjadi 2,8 juta ton baja. Jika target volume penjualan ini tercapai, maka perseroan akan meraih untung US$24 juta,” ujar Agus Pribadi, Senior Vice President Head of Sales KRAS, di Jakarta, Jumat (02/02/2018).

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kementerian BUMN bersama berbagai BUMN di bawah Deputi Industri Pertambangan, Industri Strategis, dan Media, dengan total aset mencapai Rp55,39 triliun di sepanjang 2017, Krakatau Steel ditargetkan mampu meraih pendapatan sebesar Rp19,96 triliun pada 2018.

Fajar Harry Sampoerno, Deputi Industri Pertambangan, Industri Strategis, dan Media, mengakui, kondisi yang dialami Krakatau Stell saat ini adalah benar-benar akibat fluktuasi harga baja di pasaran saat ini serta kontribusi dari PT KS Posco yang belum stabil.

“Karena itu, kami akan memberikan perlakuan khusus untuk menekan kerugian yang dialami KS ini. Kami berencana membahas hal tersebut dengan manajemen KS segera,” tutur Fajar.

Sementara itu, beberapa waktu lalu, Suriadi Arif, Senior Vice President Corporate Secretary KRAS, mengungkapkan, peningkatan target volume penjualan baja perseroan tahun ini sejalan dengan proyeksi peningkatan kebutuhan baja domestik.

Suriadi mengemukakan, kebutuhan baja domestik pada 2016 baru mencapai 12,7 juta ton. Kebutuhan tersebut diperkirakan bakal terus bertambah pada tahun-tahun mendatang dengan rata-rata peningkatan sebanyak 1 juta ton per tahun.

“Peningkatan kebutuhan baja domestik tersebut membuat harga baja mengalami perbaikan sejak 2016 hingga 2017. Kondisi tersebut tampaknya bakal terus berlanjut pada 2018,” tukas Suriadi.

Suriadi menjelaskan, karena harga baja sudah mulai membaik secara signifikan selama dua tahun belakangan ini, maka perseroan mulai berencana untuk terus memperbaiki kinerjanya secara bertahap.

“Pada kurun waktu 2011 hingga 2015, harga baja terus melemah. Akan tetapi harga baja lembaran sudah termasuk biaya angkut (Hot Rolled Coils Cost and Freight/HRC CFR) pada Desember 2017 tercatat US$562 per ton, melonjak 260% dibandingkan pada Desember 2015 sebesar US$216 per ton,” papar Suriadi.

Kendati demikian, menurut Suriadi, biaya energi gas dan listrik masih membebani harga pokok produksi baja lokal. Karena itu, untuk menjaga keseimbangan tersebut, manajemen KRAS menerapkan strategi make or buy.

“Strategi itu artinya, manajemen perseroan tetap menjalankan pabrik yang memproduksi baja setengah jadi (semi finished product) yang dikombinasikan dengan pola pengadaan bahan baku baja setengah jadi yang diimpor dengan harga yang bersaing,” pungkas Suriadi. (Abraham Sihombing)