Garap Bisnis Bahan Baku, INAF Jajaki Kerjasama dengan Perusahaan JV Korea

by

DEP_8564(infomoneter.com)-Masih sangat bergantungnya industri farmasi nasional terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri membuat para pelaku usahanya miris. Berawal dari kondisi tersebut, PT Indofarma Tbk (INAF) mengaku tengah berusaha untuk masuk ke sektor bisnis bahan baku demi terwujudnya kemandirian bahan baku industri farmasi di Indonesia. Upaya tersebut didukung penuh oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan akan dibantu dalam hal koordinasi antar kementerian dan lembaga (K/L).

“(Kemandirian bahan baku) Ini sangat penting seiring akan diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) mulai tahun 2014 mendatang. Dengan 86,4 juta orang sudah ditanggung dana kesehatannya oleh pemerintah, ini jelas peluang yang harus diambil. Terutama untuk jenis obat-obatan esensial. Kami akan tugaskan INAF, sekaligus membantu koordinasinya dengan pihak-pihak lain,” ujar Wakil Menteri Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, saat meninjau kesiapan INAF terkait penyelenggaraan SJSN, di Cibitung, Senin (11/2).

Beberapa pihak yang akan dirangkul dan dikoordinasikan, menurut Ali, adalah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan juga para pelaku industri kimia dasar di Indonesia.

Sementara itu, bagi INAF sendiri, upaya menggarap bisnis bahan baku farmasi tersebut pada dasarnya membawa konsekuensi terhadap kebutuhan investasi dan juga membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan baku. Namun beberapa hambatan tersebut diyakini bakal teratasi dalam beberapa waktu ke depan seiring dengan berjalannya kinerja produksi.

“Untuk mengatasinya ada banyak opsi. Salah satunya kami mengincar produsen bahan baku joint venture (kerjasama) Korea, yaitu PT Riasima Abadi. Kami usahakan bisa aliansi. Tapi yang kami dengar investornya sudah tidak mau lagi mengembangkan karena pasarnya yang terbatas. Kalau (informasi) itu benar, opsi akuisisi pun kami siap,” tutur Direktur Utama INAF, Djakfarudin Junus.

Dengan kinerja perusahaan yang sehat dan industri yang menjanjikan, Djakfarudin meyakini dukungan dari kalangan perbankan maupun opsi penerbitan obligasi masih cukup terbuka luas untuk dilakukan oleh pihak INAF. Satu hal yang ingin diperjuangkan INAF adalah secara perlahan porsi impor bahan baku perusahaan yang masih di kisaran 70 persen bisa dikurangi secara bertahap.

“Kami mau mulai dari bahan baku paracetamol, yaitu benzene dan phenol. Nanti ke depan bisa untuk amoxiciline dan juga yang lain. Bagi kami, yang dibutuhkan hanya dukungan dari Kementerian berupa penugasan dan keberpihakan, karena kalau masalah pendanaan masih bisa kami carikan solusinya,” tegas Djakfarudin. Helmy Yacob (redaksiinfomoneter@yahoo.co.id)