Gangguan Telinga Meningkat, Salah Satunya Karena Pakai Earphone Terlalu Lama

by

pptm_01(infomoneter.com)-Di tahun 2015,  WHO memperkirakan miliaran remaja diseluruh dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran karena praktek mendengarkan yang tidak aman. Lebih dari 43 juta orang usia  12-35 tahun menderita gangguan pendengaran dan jumlah meningkat secara signifikan dari 3,5% menjadi 5,3% sepanjang 1994-2006 pada remaja usia 12-19 tahun. Hal ini diakibatkan dengan gaya hidup yang mendengarkan musik dari smartphone/ perangkat audio lainnya dengan menggunakan earphone.

Persoalan meningkatnya gangguan telinga ini,  mengemuka dalam Media Briefing “Indonesia Mendengar Masa Depan Gemilang” di Gedung D lt.4 Ditjen PPTM, Percetakan Negara Jakarta Pusat, pada Senin (20/03/2017). Media Briefing tersebut menghadirkan narasumber:  dr. H. Mohamad Subuh, MPPM (Direktur Jenderal P2P),  dr. Soekirman Soekin, Sp.T.H.T.K.L M. Kes (Ketua Perhimpunan Ahli THT Bedah Kepala Leher PERHATI-KL) dan  Angkie Yudistia (Penderita Gangguan Pendengaran).

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dari Kementerian Kesehatan, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, memaparkan, gaya hidup dan lingkungan berkaitan dengan kesehatan telinga. Kekuatan desibel, besar frekuensi serta kebiasaan yang buruk dapat pengaruhi telinga.

Menurutnya, sekitar 50 persen paparan audio lewat earphone menjadi penyebab gangguan telinga. Earphone yang dipakai sambil dengar musik atau sambil telepon dan dalam waktu cukup lama.

“Suara dari earphone yang masuk ke telinga terlalu sering, terutama dengan tingkat suara yang tinggi, mendominasi penyebab angka gangguan pendengaran. Apalagi saat ini, banyak aktivitas yang kini sangat bergantung dengan penggunaan earphone,”ujarnya.

Peningkatan penggunaan perangkat earphone, diperkirakan akan melonjak sebesar 75 persen di Amerika Serikat. Oleh karena itu, Subuh merekomendasikan pencegahan dengan membatasi penggunaan earphone.

“Menghindari lingkungan bising atau suara keras serta mengatur waktu pemakaian earphone. Idealnya, volume maksimal yaitu 60 persen dengan durasi 60 menit,” lanjut Subuh.

Data WHO menunjukkan  bahwa risiko munculnya gangguan pendengaran semakin meningkat seiring dengan meningkatnya paparan suara bising di tempat rekreasi, seperti klub-malam, diskotik, pub, bar, bioskop, konser musik, acara olahraga atau kelas fitness. Keadaan ini diperburuk dengan perkembangan teknologi, seperti alat audio yang digunakan dengan  volume berlebihan saat mendengarkan musik  dalam durasi  lama.

Hasil analisis National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) pada 1994 hingga 2006 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan pendengaran di kalangan  remaja usia 12-19 tahun di Amerika Serikat meningkat secara signifikan, dari 3,5% menjadi 5,3%.

Pada tahun 1988, tercatat 15 persen remaja di Amerika Serikat mengalami masalah pada pendengarannya. Jumlah tersebut melonjak menjadi 19,5 persen pada tahun 2006. .Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring  meningkatnya jumlah masyarakat yang mendengarkan musik melalui perangkat headphone atau earphone. Peningkatan pengunaan headphone atau earphone terjadi sebesar 75% dari 1990 hingga 2005 di Amerika Serikat.

Komisi Eropa pada 2008 melaporkan bahwa populasi penggunaan perangkat audio personal semakin meningkat. Hal ini berkaitan erat dengan meningkatnya penjualan telepon pintar. Sebanyak 470 juta perangkat berhasil dijual di seluruh dunia pada tahun 2011. Jumlah ini merupakan indikator kuat bahwa terjadi peningkatan risiko gangguan pendengaran.

Di Indonesia jumlah pengguna aktif telepon pintar semakin meningkat. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif telepon pintar di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia adalah  negara dengan pengguna aktif telepon pintar ke-empat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Tingginya angka pengguna telepon pintar di Indonesia perlu mendapat perhatian, karena erat kaitannya dengan risiko gangguan pendengaran.

dr H. Mohamad Subuh, MPPM, juga menyampaikan, di Indonesia sendiri angka prevalensi masalah telinga nasional meraih 2, 6 %. Ada sembilan propinsi yang rata-rata prevalensinya lebih tinggi dari tingkat nasional dengan angka paling tinggi untuk ketulian ada di propinsi Maluku yakni 0, 45 %.

”Bila kita saksikan Propinsi Maluku ya. Saya tidak tahu ini daerah perairan umumnya hoby menyelam hingga mengganggu telinga hingga pada ketulian, ” kata dr Subuh.

Kenapa kesibukan menyelam dapat mengakibatkan masalah pendengaran? dr Sri Susilawati, SpTHT-KL dari Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (PERHATI-KL) menerangkan ada hubungannya dengan ketidaksamaan desakan hawa.

Saat seorang menyelam lantaran ketidaksamaan kedalaman bakal ada ketidaksamaan desakan hawa didalam telinga dengan sekitar lingkungan. Makin dalam seorang menyelam makan desakan bakal makin tinggi hingga dapat menyebabkan rasa tak nyaman di telinga.

Penyelam profesional umumnya kuasai tehnik menyamai desakan hawa dengan membiasakan diri terlebih dulu pada dalam satu kedalaman spesifik sebelumnya menyelam lebih jauh. Pada penyelam orang-orang tradisional lantaran tak diperlengkapi perlengkapan komplit jadi umumnya mereka bakal segera menyelam serta kembali pada permukaan dengan cepat sebelumnya oksigen di paru-parunya habis.

Penggunaan Cotton Bud Tidak Direkomendasikan

Spesialis THT, dr Soekirman Soekin, Sp.T.H.T.K.L, M.Kes, mengatakan, ketulian, membuat anak menjadi sulit bersosialisasi dan berprestasi buruk. Untuk itu, jika mengeluh gatal di telinga, ternyata tidak perlu dikorek.

“Saat bagian dalam telinga terasa gatal, cukup liang telinganya digoyangkan beberapa kali, untuk menghilangkan rasa gatal tersebut,” lanjutnya.

Menurutnya, penyebab rasa gatal itu sendiri bisa karena menumpuknya kotoran telinga. Agar tidak terjadi penumpukan, cara mengeluarkannya juga cukup mudah.

Bisa dengan mengunyah. Karena dengan mengunyah, rahang bergerak, mendorong kotoran telinga untuk ke luar secara otomatis. Tapi, jika gatalnya berlebihan, bisa segera cek ke dokter, karena ditakutkan adanya benda asing selain kotoran telinga.

dr Soekirman Soekin juga menyoroti penggunaan Cotton Bud. Menurutnya, banyak yang salah kaprah, bahwa penggunaan cotton bud, untuk membersihkan kotoran telinga. Padahal, telinga memiliki cara unik untuk mengeluarkan benda asing di dalamnya.

Penggunaan cotton bud atau alat lainnya untuk membersihkan telinga, justru sesungguhnya tidak direkomendasikan, karena berisiko menimbulkan luka. Penanganan lain yang tidak tepat, juga dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

“Jelas ketulian bisa terjadi akibat penanganan yang tidak tepat. 40 Persen penanganan yang tidak tepat, bisa sebabkan ketulian,” ujarnya.

Sementara itu Angkie Yudistia, penderita gangguan pendengaran, bercerita soal lika liku kehidupan terkait dengan gangguan pendengaran. Menurut Angkie, ia kehilangan pendengaran sejak usia 10 tahun. Wanita lulusan Fakultas Public Relation dari London School Jakarta ini menjadi tunarungu karena kesalahan obat.

Angkie Lahir di Ternate karena kebetulan sang Ayah adalah karyawan PLN yang ditempatkan di daerah itu.  Masa kecilnya sering mengidap Demam Malaria.  Entah bagaimana awal-mulanya bisa terjadi kesalahan obat sehingga membuat pendengarannya hilang, Angkie mengaku tidak tahu persis kejadiannya. Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak lagi bisa mendengar dengan jelas bahkan yang ada hanya dengungan. Dengungan itu sebenarnya cukup mengganggunya.

Setelah kehilangan pendengaran, masa remajanya menjadi kurang menyenangkan. Angkie merasa sangat tidak percaya diri dengan kondisinya kala itu. Akan tetapi, sang ibunda tetap mendukung Angkie dan memasukkannnya ke sekolah umum. Meskipun ia tahu ibundanya selalu merasa sedih melihat kondisinya, tapi kedua orangtuanya tidak pernah menunjukkan kesedihan mereka. Berkat ketegaran orangtua, Angkie merasa tidak perlu ada yang ditakutkan. “Saya merasa lebih berani dan percaya diri karena kedua orangtua selalu mendukung dan tidak menunjukan kesedihan,”ujarnya mengenang.

Kekuatan wanita yang pernah menjadi Finalis None Jakarta Barat 2008 itu, kian lama semakin besar dan menjadi tekad yang kuat untuk menggapai mimpinya. Hal itu pula yang menjadi alasan mengapa ia merilis buku mengenai kehidupannya sebagai gadis tunarungu.

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, wanita 29 tahun itu memakai alat bantu pendengaran. Tanpa alat tersebut dia tidak bisa mendengar apapun. Dengan alat bantu itu pun terkadang dia masih sulit mendengar karena menurutnya, kerusakan pendengarannya sudah cukup parah.

Angkie selalu berusaha bangkit menjadi wanita yang mandiri dan menginspirasi. Dalam berapa tahun terakhir ia berhasil merilis berapa buku inspiratif. Kemudian  menjadi pendiri dari Thisable Enterprise, serta pernah mendapat Kartini Next Generation Awards dari Kementrian Komunikasi Informatika di tahun ini. Itulah Angkie ditengah keterbatasan pendengaran dia mampu menghasilkan karya yang luar biasa.  (Kormen/infomoneter.com).