Bisnis Logistik Kencang, Logistik Lokal Jangan Tidur Nyenyak

by

ks(infomoneter.com)-Indonesia dengan PDB lebih dari 6 persen selama tiga tahun terakhir, mengalami pertumbuhan yang paling stabil di kawasan ASEAN. Peningkatan investasi, sumber daya alam seperti kayu, gas alam, batubara, karet dan pasar dalam negeri yang tumbuh dengan pesat– pertumbuhan 66 persen berasal dari konsumsi dalam negeri – telah menjadikan negara ini sebagai bintang dari emerging market.

Tak salah apabila Kelvin Leung, CEO, DHL Global Forwarding, Asia Pasifik, yang pernah menyebut Indonesia sebagai salah satu dari empat negara MIST, yaitu: Mexico, Indonesia, Korea Selatan dan Turki. Diidentifikasi sebagai kelompok negara dengan perekonomian yang tumbuh dengan pesat. Indonesia sedang mengalami laju pertumbuhan yang cepat sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjalankan strategi ekonominya dan berinvestasi dalam infrastruktur untuk menciptakan kemampuan logistik terbaik pada tahun 2025.

Berdasarkan Visi Logistik Indonesia 2025: untuk Daya Saing Nasional, pemerintah Indonesia berupaya untuk membangun infrastruktur logistik yang secara domestik terintegrasi di seluruh nusantara dan secara internasional terhubung dengan negara-negara ekonomi maju untuk meningkatkan daya saing nasional. Indonesia juga menandatangani perjanjian perdagangan bebas baik di dalam maupun luar ASEAN yang akan meningkatkan keterhubungan Indonesia dengan dunia dan mempercepat serta memudahkan pergerakan kargo.

Diketahui posisi Indonesia dalam kancah perdagangan dunia sangat strategis. Apalagi letaknya di persilangan rute perdagangan dunia dan dua per tiga wilayahnya pun terdiri dari perairan. Sebagai negara yang memiliki wilayah laut luas dengan jumlah lebih dari 17.500 pulau besar dan kecil, Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi pelaku bisnis dunia. Hal tersebut juga didukung dengan jumlah penduduk di atas 230 juta jiwa dan tiap tahunnya terus meningkat.

Itu juga yang mendorong menjamurnya perkembangan industri logistik, jasa kurir, cargo, forwarding, yang terus tumbuh dengan subur. Apalagi Di era yang mementingkan proses yang serba instan dan efisien seperti sekarang, banyak perusahaan yang tidak mau direpotkan oleh berbagai urusan tetek bengek semisal distribusi, pengiriman ataupun penyimpanan barang. Tak heran, bisnis logistik belakangan ini makin naik daun. Yang paling tampak, nilai bisnisnya terus naik. Nilai transaksi bisnis logistik dari hulu ke hilir. Terlebih, cakupan bidang usaha dan pemain logistik sangat luas, dari pelaku kelas pinggir jalan sampai yang mentereng bertaraf multinasional.

President Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita, menyebut Market size logistik di tanah air berikisar 100sampai 200 triliun rupiah. Dimana, sebagian besar atau sekitar 60% ada di transportasi. Sementara peningkatan bisnis logistik di Indonesia mencapai 15% setiap tahunnya.

Sekretaris Tim Ahli Pada Tim Kerja Sislognas, DR. Nofrisel, mengatakan, jika diasumsikan rata-rata biaya logistik negara-negara ASEAN adalah 20% dari GDP (Indonesia bahkan 27,20% menurut proyeksi angka Sislognas), maka pasar logistik ASEAN mencapai USD 461,10 Milyar atau hampir Rp. 500.000 Triliun (dengan asumsi GDP ASEAN secara total mencapai USD 2.305,54 Milliar). GDP Indonesia sendiri tahun 2013 diperkirakan USD 878,20 Miliar.

Salah satu indikasi lain dari semakin menariknya bisnis logistik ini adalah indikasi banyaknya perusahaan-perusahaan asing yang ingin masuk di bisnis ini di Indonesia, baik melalui proses akuisisi, joint venture, kerjasama operasi dan berbagai bentuk kerjasama lainnya.

Zaldy Ilham Masita mengeluhkan besarnya biaya logistic di Indonesia. Dia mengutip penelitian dari ITB, dimana biaya logistik di Indonesia mencapai 26% dari GDP. “Kalau saya lihatnya boros. Banyak efisiensi yang tidak kita dapat di bisnis logistik ini karena masalah infrastruktur. Jadi biaya logistik kita sangat boros.,” ujarnya.

Bayangkan saja, 80% truk yang keluar dari pelabuhan itu kosong. Jadi mereka masuk pelabuhan isi, sementara pulangnya kosong ataupun sebaliknya. Belum ada efisiensi. Sama juga meihat truk yang ke jalur Sumetera dan Jawa, pulangnya itu kosong. Belum bicara kapal ke Indonesia timur yang perginya penuh, pulang kosong. Sekarang juga truk yang ke Priok sehari 3 trip sekarang cuma satu trip. Jadi itu yang membuat biaya logistik ini boros.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menurut Zaldy Ilham Masita, penanganan sistem logistik harus lebih baik karena pertumbuhan ekonomi nasional saat ini hanya ditopang oleh investasi asing dan konsumsi masyarakat. Tidak hanya itu, pusat perlu menyinkronkan aturan tentang pungutan di jembatan timbang dengan pemerintah daerah sehingga pelaku usaha tidak perlu harus membayar setiap memasuki wilayah kabupaten.

Menurutnya, presiden berikutnya harus melaksanakan sislognas secara konsekuen. Jangan seperti saat ini sislognas hanya baik di tataran Menko Perekonomian tetapi tidak didukung kementerian lain yang sibuk membuat proyek sendiri.

Seperti rencana pembangunan jalan tol lintas Sumatra, menurut Zaldy, terlalu memboroskan keuangan Negara dan tidak mudah. Pemerintah seharusnya membangun jalan penghubung yang lebar antara pantai timur dan barat pulau itu. Selain itu, pelabuhan-pelabuhan di wilayah itu harus direvitalisasi karena pelayanan pendek akan menjadi tren pada masa mendatang.

Menurutnya, persoalan infrastruktur yang mendukung sistem logistik masih menjadi momok bagi pelaku usaha karena menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi. Oleh karena itu, menurut Zaldy, jika pemerintah tidak segera membenahi infrastruktur logistik, bisa terjadi bencana perekonomian lantaran sektor logistik mampu menyumbang 5% dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Presiden berikutnya, katanya, harus mampu membangun infrastruktur yang menghubungkan wilayah yang tergolong source based dengan wilayah yang masuk dalam manufacturing based untuk memudahkan pengerakan barang industri.

Zaldy juga mengomentari soal sumber daya manusia (SDM) di sektor logistic. Menurutnya, secara sederhana industri logistik merupakan aktivitas memindahkan barang dari satu titik ke titik lain yang melibatkan banyak aspek. Dari sekian banyak aspek, faktor terpenting adalah SDM. Dengan memiliki SDM yang memadai, sebuah perusahaan logistik bisa memberikan kualitas terbaik, bertahan dan unggul dalam kompetisi.

Sayangnya, orang awam tidak banyak yang tertarik menekuni industri logistik. Padahal, SDM di logistik bisa menjadi karier yang menjanjikan. Padahal industri logistik ini merupakan salah satu tulang punggung bisnis di Indonesia .

Persoalan utama kata Zaldy Ilham Masita, ialah, di Indonesia tidak banyak universitas yang mengeluarkan lulusan-lulusan logistik. Sementara growth-bisnis ini sangat tinggi. Jadi perusahaan logistik tidak banyak berkembang besar karena keterbatasan dalam SDM. Sedangkan kalau dari sisi teknologi, kata Zaldi tidak ada masalah. Karena selama mereka punya uang, mereka bisa beli. Karena teknologi logistik ini cukup umum di pasar. Hanya saja mana IT yang cocok itu menjadi masalah. Karena untuk memilih yang cocok mereka harus butuh SDM yang bagus. Jadi SDM yang semakin kurang. Perusahaan logistik tidak bisa lepas dari IT, juga harus menjadikan IT sebagai salah satu tools mereka. Dengan kompleksitas logistik sekarang dan banyak aktivitas mau tidak mau harus memakai IT.

Logistik Tumbuh

Frost & Sullivan memprediksi industri logistik Indonesia tumbuh 14.7 persen menjadi Rp. 1,816 triliun pada tahun 2014, dibandingkan dengan perkiraan Rp. 1,583 triliun tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini dipicu oleh pertumbuhan di sektor jasa dan peningkatan konsumsi pribadi rumah tangga.

Gopal R, Vice President Global, Transportation & Logistics Practice, Frost & Sullivan mengatakan, kunci pertumbuhan pada indikator makro ekonomi seperti PDB. Pertumbuhan ekonomi dan paritas daya beli akan mendorong konsumsi pribadi yang meningkatkan volume perdagangan dan nilai, sehingga mampu mendukung distribusi barang.

Gopal menjelaskan juga, pertumbuhan dalam perdagangan internasional akan mendorong integrasi regional, menghilangkan hambatan perdagangan, ditambah dengan kenaikan tingkat containerization dan kunci ekspansi pada drivers eksternal dari industri seperti ekonomi, demografi dan konsumer, yang pada akhirnya akan menyebabkan tingginya permintaan untuk transportasi. Ia juga mengatakan, dalam kelas menengah, pendapatan akan mendorong permintaan atas barang yang pada akhirnya akan memicu permintaan transportasi.

Freight Movement in Indonesia

Gopal menjelaskan, perkiraan positif pada PDB di Indonesia dan peningkatan neraca perdagangan akan menjadi ujung tombak dalam bisnis freight forwarder untuk tahun-tahun mendatang. Segmen kelautan Indonesia diperkirakan akan menjadi industri pengangkutan yang paling menguntungkan pada tahun ini, dengan total volume 1,04 miliar ton, tumbuh 4,3 persen setiap tahunnya. Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta akan meningkatkan kapasitas tahunan dari lima juta TEU kontainer menjadi 18 juta TEU. Volume kargo kereta api diperkirakan akan meningkat 8,5 persen menjadi 25,5 juta ton pada 2014 dibandingkan dengan 23,6 juta ton pada 2013. “Ssaat ini sangat sulit untuk masuk ke sektor kereta api karena modal dan padat karyanya, serta kebutuhan infrastruktur yang luas,”ujarnya.

Gopal menargetkan volume pengiriman barang naik 15,3 persen mencapai 1,34 juta ton dari 1,15 juta ton pada 2013. Soekarno Hatta, sebagai gerbang utama untuk perdagangan internasional, akan memiliki pertumbuhan volume kargo di kisaran antara rata-rata 5% -7, didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat.

Key Industry Trends

Sementara itu, transportasi dan industri logistik Indonesia akan terus mencatat nilai pertumbuhan yang kuat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut Gopal, jalur angkutan di Indonesia sebagian besar didominasi oleh truk barang yang kapasitasnya hanya dibatasi oleh kemacetan jalan dekat pelabuhan. Pengguna terus mengharapkan biaya rendah dan menjadi lebih kritis. Yang dibutuhkan adalah memahami keinginan konsumen serta menambah nilai layanan bisnis dan kemauan untuk berubah menjadi sesuai perspektif pelanggan.

Gopal juga menyinggung minyak sawit mentah (CPO, yang) masih menjadi pasar yang menguntungkan untuk pasar logistik di Indonesia karena jumlah yang diinvestasikan hingga 2014 sekitar Rp 2,4 miliar atau naik sekitar 19 persen dari kapasitas nasional. Dari sektor pertambangan, batu bara dan minyak mentah kemungkinan juga akan meningkat pada tahun ini.

The Way Forward

Dia melihat, penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) kemungkinan akan mengubah struktur yang ada dari industri transportasi dan logistik di negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Dimana terdapat kebutuhan untuk mengembangkan pendekatan dan mekanisme untuk memperkuat peran ASEAN sebagai pusat dalam integrasi Asia Timur, dan peningkatan keamanan transportasi dan keselamatan di daerah jaringan transportasi dan logistik.

Koordinasi dan kerjasama antara semua instansi terkait kelembagaan sangat diperlukan untuk memfasilitasi transportasi antara negara-negara tetangga di ASEAN untuk memiliki jaringan logistik terhubung dengan baik di wilayah itu.

Mr. Gopal juga mengatakan sektor transportasi dan logistik di ASEAN berkembang dengan cepat dan telah sejalan dengan platform pertumbuhan ekonomi wilayah di ASEAN. Proyeksi pertumbuhan di negara-negara ASEAN akan memiliki pertumbuhan rata-rata, 5.4 persen dimana ekspor memainkan peran yang lebih besar, sementara permintaan domestik diperkirakan akan lebih moderat.

Meningkatnya permintaan domestik, khususnya investasi infrastruktur dan private consumption di ASEAN akan mengubah sifat perdagangan di wilayah tersebut. “Konsumsi domestik telah mendorong pertumbuhan di Indonesia, mewakili lebih dari 50 persen dari GDP negara itu,” tambahnya

Ia mengatakan, kunci sukses untuk Indonesia menuju AEC adalah pertumbuhan perdagangan dan manajemen logistik, yang merupakan faktor-faktor yang berkorelasi kuat yang dapat memperkuat daya saing bisnis.