BeFa Industrial Estate, Bagi Dividen Rp 96,47 Miliar

by

Bekasi Fajar Bagi Dividen Rp96,47 Miliar

(Infomoneter.com)-Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)  PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa Industrial Estate), yang digelar di Kawasan Industri MM 2100 Cibitung Bekasi, Jawa Barat pada Rabu, (9/5/2018), menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 96,47 miliar atau Rp 10 per lembar saham atas perolehan laba bersih tahun buku 2017.

Seri, Investor Relation BeFa Industrial Estate, memaparkan, total dividen tunai yang dibagikan Pengelola Kawasan Industri MM 2100 tersebut,  mencapai sekitar 20% dari laba bersih konsolidasi 2017 sebesar Rp483,387 miliar.

Dimana, total nilai dividen tunai 2017 itu lebih tinggi 191,55% dibandingkan dengan dividen tunai 2016 yang hanya sebesar Rp3,43 per saham. Sementara itu, payout ratio nya juga meningkat dari sebesar 9,5% dari laba bersih menjadi 20% dari laba bersih.

Menurut Seri,  emiten dengan kode saham BEST ini,  sepanjang tahun  2017 membukukan penjualan lahan industri seluas 42,2 hektar (ha), atau melampaui target yang ditetapkan sebelumnya antara 30-40 ha. Untuk 2018, perseroan menaikkan target luas penjualan lahan industri menjadi 35-45 ha dengan target harga rata-rata penjualan Rp2,6-3,2 juta per meter persegi. Hingga triwulan pertama 2018, perseroan telah menjual 4,4 ha lahan dan memiliki pipeline sebanyak 79,6 ha.

Pada 2017, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp1,006 triliun. Pada tahun ini, penjualan ditargetkan tumbuh 10-15% dengan tetap mempertahankan marjin keuntungan EBITDA minimum 60% dan marjin laba bersih antara 40-50%, papar Seri.

Pada triwulan pertama 2018, penjualan perseroan meningkat 14% menjadi Rp211 miliar dibandingkan periode yang sama 2017). EBITDA tumbuh 24% menjadi Rp130 miliar dan laba bersih naik 12% menjadi Rp94 miliar.

Seri mengungkapkan, strategi manajemen BEST pada tahun ini adalah tetap fokus pada pengembangan kawasan industri MM2100 terutama karena peningkatan nilai strategis lokasi kawasan industri dari pembangunan infrastruktur di Bekasi dan sekitarnya seperti JORR II Cibitung – Cilincing, tol layang Jakarta-Cikampek, rencana pembangunan Tol Jakarta-Cikampek Selatan, proyek perluasan Tanjung Priok dan pembangunan Pelabuhan Patimban.

Seri juga menjelaskan, perseroan mengembangkan bisnis untuk mendukung kegiatan di kawasan industri dengan mengoperasikan hotel bisnis bintang empat, yaitu Hotel Enso, yang telah diluncurkan pada November 2017.

Selain itu, demikian Seri, perseroan juga mengembangkan BeFa Square yang akan dioperasikan pada pertengahan tahun ini, membangun Waste Water Treatment Plant yang ditargekan selesai pada 2019) serta melakukan optimalisasi sarana pendukung industri dengan penyewaan Standard Factory Building dan Modern Logistic Center.
Ekspansi Bisnis

Pada kesempatan tersebut Direktur Utama Perusahaan, Yoshihiro Kobi, juga menjelaskan tentang perubahan logo Perusahaan menjadi BeFa Industrial Estate. Logo perusahaan berasal dari huruf kanji Jepang (‘hi’) yang berwarna biru, berarti fajar atau awal dari hari atau matahari menandakan era baru dari arah dan strategi Perusahaan untuk mengembangkan kawasan industri di luar Bekasi selain tetap mempertahankan keunggulan Perusahaan di kawasan industri MM2100 yang telah berdiri.

Terkait ekspansi tersebut, Perseroan mengaku membidik sejumlah daerah di Pulau Jawa dan saat ini sedang dilakukan visibility study. Sayangnya Kobi belum mau mengungkap detil daerah baru yang dibidik untuk pengembangan bisnis.

Masih terkait pengembangan bisnis, tahun ini BEST mengalokasikan dana belanja modal Rp 600 miliar. Seri mengatakan sekitar 90% dana tersebut akan dialokasikan untuk akuisisi landbank baru dengan target 50-60 ha serta pengembangan infrastruktur kawasan industri. Selain dari dana internal rencana ekspansi berpotensi didanai dari pinjaman pihak ketiga.

“Saat ini kami masih memiliki fasilitas pinjaman US$ 55 juta dari total fasilitas pinjaman sindikasi sebesar US$ 130 juta,” ujarnya. Fasilitas tersebut menurut Seri bisa dicairkan bila sewaktu waktu ada peluang tambahan akuisisi tanah di luar target 50-60 ha lahan, termasuk yang terkait rencana pengembangan bisnis di luar kawasan industri MM 2100. (kormen).