Asa Sharmila untuk  Sang Wagub

by
Wagub Sandi memastikan adanya kerja sama gerakan OK OCE, Inkowapi, dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Kerja sama yang akan dijalin terkait distribusi sembako

(infomoneter.com)– Sharmila, Ketua Umum Inkowapi (Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia) adalah sosok yang   tidak pernah lelah memperjuangkan nasib kaum venus, terutama para wanita-wanita  pengusaha kecil  Indonesia yang menggeluti usaha, dari  kerajinan,  hingga warung tradisional.

Hingga saat ini, sudah segudang program dan terobosan yang dilakukannya untuk kesejahteraan para wanita pengusaha kecil, yang selama ini luput dari perhatian banyak orang, terutama pembuat kebijakan di negeri ini.

Sebagai Nakhoda Inkowapi, Sharmila, yang dikenal low profil, penuh senyum, hangat dan tegas, sudah banyak membangun sinergi dengan berbagai lembaga-lembaga bisnis, korporasi, pemerintah, LSM.  Lagi-lagi semuanya itu dilakukannya, karena merasa terpanggil untuk peningkatan kesejahteraan nasib para pengusaha wanita Indonesia.

Seperti yang dilakukannya, di Kementerian Koperasi dan UKM, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (25/10/2017), dimana Inkowapi dan Sahabat Usaha Rakyat (Sahara) yang dibesutnya, menggelar 1.000 Agen Sembako untuk warung tradisional.

“Pak Wagub tolong bantu warung-warung tradisional. Karena selama ini keberadaan pasar dan ritel/ warung tradisional tergerus dengan massifnya ritel modern berjejaring di berbagai daerah di Indonesia. Program OK OCE sangat cocok dengan apa yang dilakukan oleh INKOWAPI  dan SAHARA,”ujarnya kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno,dengan mata menerawang.

Kepada Wagub Sandi, perempuan cantik yang aktif di beberapa organisasi bisnis ini, meminta untuk membantu, menghentikan kebijakan kooptasi distribusi barang ritel modern ke warung tradisional. Membatasi pembukaan toko-toko ritel modern oleh jejaring ritel nasional karena terbukti telah menggerus dan mematikan pasar tradisional, warung tradisional dan toko-toko koperasi yang dimiliki masyarakat.

Pemerintah dimintanya untuk mendukung pembangunan sekunder dan primer koperasi konsumen secara massif di berbagai daerah sebagai cara mengintegrasikan jalur distribusi barang ke warung modern karena pemilik warung adalah anggota dari koperasi konsumen sehingga pemilik warung juga akan memperoleh revenue sharing dari proses distribusi barang tersebut selain memperoleh harga kulakan yang lebih kompetitif.

Menurutnya, warung-warung tradisional yang terintegrasi dengan koperasi setidaknya akan memperoleh pendampingan sosial-ekonomi-budaya sebagai kewajiban inheren koperasi. Bukan bisnis semata yang hanya berbentuk aliran barang dan uang saja.

Selama ini kata Sharmila, sejumlah masalah mendasar kerap mendera pengusaha kecil di tengah gaung digitalisasi ekonomi (online). Apalagi,  aplikasi platform digital tidak semudah memutar telapak tangan. Pendeknya, digitasliasi ekonomi sarat teknologi tentu menuntut sumber daya manusia (SDM) mumpuni.

 

Karena itu, lanjut Sharmila, pendidikan, kecakapan dan pendampingan tidak sekadar penting. Penguatan modal dan juga keterampilan untuk kemandirian pengusaha kecil, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditunda. Menjadi modal dasar untuk mengangkat UMKM mampu bersaing dengan pelaku usaha modern dan dipenuhi sokongan modal tidak terbatas.

 

Menurutnya, ragam persoalan yang dihadapi sejumlah warung kelontong. Mulai pembeli ngutang, tidak ada hand phone berbasis android sebagai alat kerja, harga jual berbeda-beda, produk tidak lengkap, pelayanan seadanya, uang kembalian ditukar permen, lokasi deket toko modern, harga beli mahal, pembelian cash ke agen, tidak berpendidikan, tanpa pembukuan, produk tidak bisa retur, peluang pembeli kecil, tidak disiplin, kurang modal dan tempat berantakan.

 

Sharmila, mengatakan,  anggota Inkowapi yang memiliki warung kelontong sampai saat ini bisa bertahan di tengah-tengah perusahaan retail sembako.  Karena mereka (pemilik warung kelontong) menerima piutang pembelinya.

 

Kini harapannya, selain dengan OK OCE, Inkowapi bisa bekerja sama dengan BUMD DKI Jakarta yang bergerak dalam bidang sembako. “Kita juga berharap bagaimana sembako murah bisa dipasok oleh BUMD,” ucap dia.

 

Inkowapi yang terlibat aktif mengambil inisiatif dan mengusung program Sahara, bertekad menciptakan 1000 pengusaha agen sembako rumahan. Tujuan akhir program itu, agen-agen diharap dapat bersaing dengan ritel modern. ”Program itu sangat strategis dengan tiga pendekatan,” tutur Ketua Inkowapi, Sharmila.

 

Inkowapi   kedepanya akan aktif memberikan pelatihan kewirausahawan, pemanfaatkan koperasi dan teknologi. Dengan usaha itu, para agen sembako mampu membiayai sekolah anak-anaknya. Terpenting, memutus rantai distribusi dengan sistem koperasi. Di koperasi Sahara bisa mendapat harga Rp 12 ribu per kilogram. ”Kalau belanja sendiri-sendiri ke agen harga gula Rp 25 ribu per kg,” tukas Sharmila.

 

Nah, 1000 agen sembako Sahara akhirnya bisa tersenyum lega. Setelah Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menggaransi menjadi bagian dari program One Kecamatan One Centre Entrepreneur (OK OCE). Dengan kepastian menjadi bagian program OK OCE, 1000 agen sembako Sahara, bakal dilatih supaya menjadi terampil. Tidak hanya dilatih. Warung-warung juga boleh memakai spanduk bergambar Sandiaga Uno.

 

Wagub Sandi memastikan adanya kerja sama gerakan OK OCE, Inkowapi, dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Kerja sama yang akan dijalin terkait distribusi sembako.

 

“Saya mengapresiasi sekali Inkowapi. Kita meminta untuk ikut berperan aktif di gerakan OK OCE. Bisa memetakan di daerah mana saja, kita ada 44 Kecamatan. Nanti kita akan gelar kegiatannya bersama-sama,” kata Sandiaga

 

Selain kerja sama distribusi sembako, Sandiaga berharap anggota Inkowapi di Jakarta, khususnya pemilik warung kelontong, ikut dalam kegiatan pelatihan yang diinisiasi OK OCE di setiap kecamatan.

“Ke depan nanti akan ada pelatihan di setiap kecamatan. Pelatihan keuangan. Kita akan gerakkan ekonomi rakyat,” ujar dia. (kormen)