Malaysia Harus Perlakukan Bank Milik Indonesia Seperti Kepunyaan Sendiri

by

infomoneter.com – Rencana pemerintah untuk membuka kantor cabang PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) di Kuala Lumpur, Malaysia hampir terwujud. Setelah Bank Mandiri memperoleh lisensi Qualified ASEAN Bank (QAB), maka rasa percaya diri pemerintah untuk membuka kantor cabang yang pertama di luar Indonesia mulai tumbuh. Pasalnya, dengan lisensi tersebut, maka bank plat merah tersebut akan diperlakukan setara dengan berbagai bank lokal lainnya yang sama-sama beroperasi di Malaysia.

Rasa percaya diri pemerintah terhadap rencana tersebut terus meningkat setelah Dato’ Muhammad Ibrahim, Gubernur Bank Negara Malaysia, yang secara politis mengungkapkan, pengoperasian Bank Mandiri di Malaysia mengindikasikan semakin eratnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia. “Kondisi tersebut juga menjadi bukti semangat perwujudan sejati ASEAN,” imbuhnya.

Sementara itu, Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengemukakan,”Kami sangat menghargai otoritas perbankan Malaysia yang mendukung kehadiran Bank Mandiri di Malaysia. Indonesia juga telah memperlakukan bank-bank Malaysia yang beroperasi di Indonesia seperti milik sendiri. Ini adalah langkah maju yang dapat terus memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia.”

Pernyataan Muliaman ini sarat dengan muatan politis. Nuansa untuk saling bekerjasama secara berimbang antar pemerintah (G to G) terasa kental diungkapkan beliau. Pasalnya, selama ini sudah banyak bank-bank Malaysia yang beroperasi di Indonesia, kendati melalui cara backdoor listing, salah satu contohnya adalah PT Maybank Indonesia Tbk (BNII) yang sebelumnya bernama Bank Internasional Indonesia.

Pihak otoritas perbankan yang berwenang di Indonesia, dalam hal ini Bank Indonesia (BI), selama ini telah memperlakukan bank Malaysia tersebut maupun bank-bank Malaysia lainnya secara berimbang dengan berbagai bank lokal lain yang sama-sama beroperasi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Kesetaraan perlakuan yang secara halus dituntut oleh Indonesia itu adalah keniscayaan bagi kelangsungan usaha perbankan Indonesia yang beroperasi di negeri jiran tersebut. Pasalnya, keberhasilan Bank Mandiri menjalankan bisnis sepenuhnya secara resmi di Malaysia bakal menjadi indikator penting bagi bank-bank lokal Indonesia lainnya yang ingin melakukan ekspansi usaha ke luar Indonesia.

Sementara itu, Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama BMRI, menjelaskan, pihaknya diminta untuk membuka kantor cabang di luar Indonesia karena sudah banyak kegiatan bisnis Indonesia yang berlangsung di seluruh negara-negara ASEAN (salah satunya yang terdekat adalah di Malaysia). Iklim usaha di luar Indonesia yang kondusif tersebut merupakan faktor positif yang mendorong manajemen Bank Mandiri untuk menghadirkan bank berstatus BUMN (Badan Usaha Milik Negara) tersebut di Malaysia. Dengan demikian, prioritas utama kehadiran Bank Mandiri di luar Indonesia tersebut adalah untuk mendukung berbagai kegiatan bisnis Indonesia di luar negeri, khususnya di kawasan ASEAN.

Pengoperasian usaha Bank Mandiri rencananya mulai dilakukan sepenuhnya di Malaysia sejak akhir 2017. Pemerintah dari saat ini sudah mengambil ancang-ancang untuk mempersiapkan dana sebesar 300 juta ringgit Malaysia untuk membiayai struktur permodalan Bank Mandiri di Malaysia tersebut. Jumlah itu setara hampir Rp935 miliar dengan kurs ringgit Malaysia terhadap rupiah pada Kamis (06 Juli 2014) sebesar Rp3.116.

Kendati modal tersebut akan dikucurkan secara bertahap, dimana modal awalnya ditetapkan sebesar 50 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp156 miliar), tetapi jumlah modal tersebut harus terus ditambah secara berkesinambungan ketika menjalankan bisnis di Malaysia. Karena kesiapan pemerintah untuk menyediakan modal hingga 300 juta ringgit tersebut merupakan sebuah komitmen mutlak, yang harus dijalankan agar menjadi bukti keseriusan pemerintah Indonesia untuk membangun sebuah entitas bisnis secara penuh di luar Indonesia.

Sementara itu dari pihak Bank Mandiri, manajemen bank tersebut harus mempersiapkan berbagai sumber daya manusia (SDM) unggulan yang terbaik dalam menjalankan bisnis perbankan secara penuh untuk pertama kalinya di luar Indonesia. Kesiapan ini membutuhkan perhatian yang serius dan harus bebas dari campur tangan politik ataupun berbagai pihak yang berkepentingan lainnya agar manajemen Bank Mandiri dapat menempatkan SDM unggulan terbaiknya di luar negeri. Ini adalah salah satu jihad terpenting yang harus dilakukan oleh anak bangsa pada saat ini untuk membuktikan bahwa Indonesia juga mampu melakukan hal yang terbaik bagi sektor keuangan berbagai bangsa di dunia.

Kondisi tersebut untuk menyeimbangkan kesan para pelaku perbankan dunia selama ini terhadap Indonesia, dimana sudah banyak anak bangsa yang menduduki posisi strategis di berbagai institusi keuangan dan perbankan penting dunia. Salah satunya yang nyata dan masih berkarya hingga kini adalah Sri Mulyani Indrawati. Bagaimana perasaan anda, jika Indonesia memiliki orang sehebat Sri Mulyani yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia (World Bank) selama kurang lebih 5-6 tahun, tetapi hingga kini masih belum mampu mengoperasikan entitas bisnis perbankan secara penuh di luar Indonesia. (Abraham Sihombing)