Antara Generalis vs Spesialis: Siapa Juaranya?

0
167
SONY DSC

(Oleh Don Bosco Doho, S.Phil,MM, CET, Trainer, Grafolog, Peneliti, dan Dosen Tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations- Jakarta)-Profesor Logika saya dulu pernah memberikan sebuah pertanyaan sederhana tetapi tidak dapat kami jawab secara memuaskan. Banyak teman yang menjawab dengan amat teoretis dan mengambang.

Pertanyaannya adalah apa bedanya seorang GENERALIS dan SPESIALIS. Setelah mengumpulkan dan menyimak beraneka jawaban dari mahasiswa philosophen sang Profesor tersenyum tapi setengah tidak tulus. Lalu dengan sederhana beliau berseloroh dengan sederhana bunyinya begini: Orang GENERALIS adalah dia yang ingin belajar banyak hal tapi tahu SEDIKIT dari yang banyak itu.

Sedangkan, orang SPESIALIS adalah dia yang belajar sedikit hal tetapi tahu BANYAK tentang yang sedikit itu. Artinya bila menguasai hal spesifik tapi menguasai detail dari A-Z tentang hal tersebut berarti dia pakar pada bidang itu. Daripada ingin mengetahui banyak hal tapi tidak detail dan tidak menguasai. Maka sang profesor berpesan, “Jadilah SPESIALIS dari pada menjadi GENERALIS”.

Kisah di atas sesungguhnya tidak lebih dari sekedar pengantar untuk sampai kepada positivistik, interpretif atau konstruktivis atas fenomena dunia modern yang didominasi oleh persaingan untuk mencari pemenang. Ketika ilustrasi tentang dialektika antara sang professor Logika dengan para mahasiswa philosophen tadi dipublish di jejaring professional linkedin, tiga ratusan professional yang terhubung dalam pertemanan saya turut menyimak dan sebanyak itu pula yang memberikan jempolnya.

Bagi saya, fenomena tersebut merupakan hal yang menarik bahwa betapa banyak orang yang entah tidak mau tahu atau memang benar tidak tahu perbedaan mendasar antara pilihan menjadi generalis atau spesialis. Harapan saya melalui tulisan ini adalah kiranya semakin banyak orang yang berani menjatuhkan pilihan apakah menjadi seorang generalis atau malah memutuskan menjadi seorang spesialis.

Spesialis dan Generalis Bisa Bertemu di Satu Meja?

Kaum generalis atau orang sering menyebutnya sebagai, “manusia segala bisa’ merupakan tipikal manusia yang ingin menjadi ahli dalam segala hal dan mampu melakukan banyak hal sekaligus. Bagi kaum generalis manusia haruslah dapat menjadi penguasa atas segala sesuatu hal di dunia ini. Minimal menurut pemahaman ini adalah bahwa manusia harus bisa melakukan apapun meskipun tidak ahli, agar hidup mereka tidak terlalu bergantung pada orang lain.

Juga, kaum generalis mengkritik kaum spesialis atas dasar asumsi bahwa kaum spesialis terlalu mengkotak-kotakkan pekerjaan dan mengkhususkan segala sesuatu yang dianggap mudah dan bisa dilakukan sekaligus menjadi dipecah-pecah menjadi beberapa macam pekerjaan. Hal ini menurut kaum generalis adalah perbuatan yang sangat merugikan bagi manusia itu sendiri, sebab manusia menjadi lebih ketergantungan terhadap orang lain dengan adanya spesialisasi ini. Spesialisasi dipandang sebagai bentuk penjajahan atas manusia.

Sebagai contoh adalah dalam hal pertanian. Dahulu, petani adalah orang yang memiliki tanah, benih, pekerja, alat-alat pertanian, gabah, sekaligus menjadi penjual bagi padi itu sendiri. Alhasil, dalam perjalanan waktu kemudian pekerjaan petani tadi dipecah-pecah menjadi beberapa bagian yang dikhususkan (dispesialisasikan) seperti petani yang menjadi buruhnya saja, petani yang berubah fungsi menjadi penjual, petani pembuat benih, dan sebagainya.

Pengkotakan ini kemudian menghasilkan “keunggulan komparatif” yang sebetulnya bagi kaum generalis perkara ini merupakan hal yang “tiada bermakna” sebab hal tersebut hanya dijadikan alasan bagi kaum pemodal (borjuis/kapitalis) untuk memisahkan manusia dari faktor produksi mereka sehingga menciptakan kesenjangan dan ketergantungan yang luar biasa besar. Menelisik diskursus seputar persaingan panjang antara kaum generalis dan spesialis, rasanya sulit untuk berdamai dan duduk berdampingan di satu meja bundar.

Betapa tidak, kaum spesialis berpikir bahwa spesialisasi merupakan jalan yang lebih baik dalam penguasaan salah satu aspek dalam kehidupan manusia secara komprehensif. Meskipun tidak holistik yaitu tidak menguasai seluruh bidang ilmu, namun spesialis menekankan pada keunggulan optimal pada salah satu bidang saja sehingga sangat rentan terhadap ketidaktahuan yang juga merupakan ciri dari kelemahannya.

Selain itu, spesialis juga sangat bergantung pada orang lain sehingga tanpa bantuan dari orang lain, spesialis tidak akan dapat hidup sendiri. Selain itu, spesialis mengasumsikan bahwa manusia akan lebih baik jika hanya melakukan satu hal saja secara ahli dan memecah faktor-faktor produksi agar memberi kesempatan pada manusia lain untuk melakukan keahliannya sekaligus memudahkan pekerjaan manusia yang begitu kompleks dan berat.

Kritik kaum spesialis terhadap generalis adalah bahwa generalis hanya mengetahui suatu hal secara dangkal dan tidak mendalam. Mereka memang mengetahui banyak hal, namun mereka tidak menguasai banyak hal. Bahkan mereka tidak menguasai satu hal pun secara mendalam. Akan lebih baik jika penguasaan tersebut diserahkan kepada orang yang ahli di bidangnya, yaitu para spesialis. Istilah yang terbaik bagi generalis jika dimisalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah bahwa generalis ‘mengetahui segala jenis buah’ namun tidak mengetahui isi dan kandungan yang terdapat dalam buah tadi. Sedangkan spesialis diibaratkan sebagai orang yang ahli tentang satu jenis buah hingga ke bijinya namun tidak mengetahui jenis buah lain selain yang ia ketahui.

Namun, meskipun begitu pemenang dalam perdebatan ini pun masih menjadi suatu perdebatan. Di satu sisi kaum generalis berpikir bahwa mereka adalah para konseptor yang memimpin para spesialis untuk melakukan suatu hal tertentu. Hal ini dikarenakan bahwa menurut generalis, mereka adalah pemimpin karena mengetahui tentang keseluruhan sistem pemikiran secara holistik, sehingga mereka mengetahui proses-proses dan kebijakan yang akan dilakukan secara menyeluruh dalam suatu pengambilam keputusan yang didasarkan pada pertimbangan seluruh hal.

Tidak seperti spesialis yang hanya mengambil keputusan beradasarkan yang mereka ketahui semata dan tidak mempertimbangkan hal lain. Oleh karena itulah, pada kenyataannya di dunia nyata, yang menjadi pemimpin-pemimpin besar dunia adalah mereka yang menjadi generalis, bukan mereka yang menjadi spesialis. Kebanyakan spesialis hanyalah menjadi ‘pesuruh’ maupun staff ahli bagi seorang generalis.

Spesialis mudah dicari dan dipekerjakan karena mereka sangat bergantung pada pekerjaan yang mereka geluti dengan alasan bahwa mereka tidak dapat melakukan hal lain di luar keahlian mereka. Akibatnya, banyak spesialis dieksploitasi sedemikian rupa oleh para generalis dan mereka tidak dapat melakukan perlawanan melainkan hanya menuruti perintah yang datang kepada mereka.

Sedangkan bagi spesialis, meskipun begitu spesialis adalah kaum yang paling berjasa bagi pembangunan dan modernisasi. Sebab spesialis sangat memudahkan kehidupan manusia dengan melakukan pemecahan faktor-faktor produksi sehingga memberikan lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi manusia untuk bekerja dan mendapat penghidupan yang layak.

Selain itu, dengan spesialisasi maka manusia dapat memaksimalkan potensi diri mereka untuk menjadi yang terbaik bagi mereka dan melakukan hal yang sangat mereka kuasai sehingga menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang sangat mumpuni dan menghasilkan produktivitas yang maksimal sehingga sangat menguntungkan bagi instansi maupun perusahaan dimana orang tersebut bekerja.

Jalan tengah bagi perdebatan ini dapat diamati melalui sejarahnya yang panjang. Pada dasarnya setiap generalis adalah spesialis, dan setiap spesialis adalah generalis. Hal ini dapat dibuktikan sejak masa pembagian ilmu di zaman Yunani Kuno. Pada awalnya manusia hanya mengetahui ilmu Agama. Kemudian manusia mulai mencari ilmu di luar agama yang tidak hanya bersifat dogmatis melainkan juga rasional yang dapat dimengerti secara jelas oleh akal.

Oleh karena itu kemudian manusia mulai meraba-raba dunia dengan melakukan kajian filsafat. Dalam kemajuannya kemudian filsafat ini membagi pengetahuan menjadi tiga yaitu estetik, religik dan saintifik. Ilmu saintifik inilah yang kemudian menjadi dua cabang ilmu yaitu ilmu alam dan ilmu sosial.

Dari sinilah kemudian dapat kita pahami bahwa seorang ahli filsafat sebenarnya adalah seorang generalis karena ia mampu menguasai berbagai macam hal keilmuan di dunia ini, namun kemudian ia juga menjadi seorang spesialis karena ia sangat ahli tentang hal ihwal keilmuan filsafati. Hal inilah yang membuktikan proposisi saya bahwa seorang generalis sesungguhnya adalah seorang spesialis dan begitu pula sebaliknya.

Figur Spesialis dan Generalis dalam Catatan

Coba kita menyusuri perjalanan para pemenang dalam pertarungan dengan kaca mata spesialis atau generalis. Prof. J.E Sahetapy menjadi spesialis di salah satu bidang dan generalis untuk bidang-bidang lainnya. Prof. Sahetapy adalah seorang spesialis di bidang hukum. Namun, apakah dia mengerti ilmu ekonomi? Sangat boleh jadi jawabannya adalah “Ya”. Tapi, apakah pemahamannya terhadap ilmu ekonomi sama baiknya dengan pemahamannya terhadap ilmu hukum? Untuk pertanyaan ini, pasti jawabannya adalah “Tidak”. Prof. Sahetapy adalah spesialis dan generalis.

Demikian pula Kwik Kian Gie adalah spesialis di bidang ekonomi dan generalis di bidang-bidang lainnya. Seorang konsultan haruslah seorang generalis karena harus memahami banyak industri kliennya, tapi juga tetapi harus menjadi spesialis di salah satu bidang. Atas dasar itulah kita mengenal konsultan pemasaran, konsultan strategi, konsultan pajak, konsultan ISO, konsultan HRD, konsultan hukum, dan lain-lain. Apakah ada spesialis di beberapa bidang, yaitu orang yang sangat menguasai beberapa bidang sekaligus? Mungkin saja ada, tapi sangat sedikit.

Dalam bidang filsafat kita mengenal yang sangat sedikit itu di antaranya adalah Archimedes (287-212 SM) dan Leonardo da Vinci (1452-1519). Archimedes adalah ahli matematika, fisika, enjinering, dan astronomi. Sementara, Leonardo da Vinci adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, pelukis renaisans. Tetapi, baik Archimedes ataupun Leonardo da Vinci sama-sama tidak menguasai ilmu ekonomi, bukan?. Antara Leonardo da Vinci dan Pablo Picasso boleh jadi memiliki kesamaan dalam bidang seni secara generalis tetapi mereka dikenal dalam spesialisasi aliran seni yang mana.

Sepanjang sejarah peradaban manusia di planet ini telah banyak sosok yang layak dijadikan teladan. Dalam kondisi seperti sekarang ini manakah yang lebih menguntungkan, apakah menjadi seorang profesional dengan kompetensi yang bersifat generalis (yang cenderung lebih berorientasi pada “specific job area”) ataukah menjadi profesional dengan kompetensi yang bersifat spesialis (yang cenderung lebih berorientasi pada “specific job task”). Sebetulnya saya juga sering mendapat pertanyaan dari sesama professional dan para mahasiswa saya.

Timbul dorongan untuk membagikan topik ini agar dapat dijadikan sebagai bahasan menarik yang mungkin bisa diambil manfaatnya. Jika ditelisik ke belakang, sebetulnya paradigma spesialis versus generalis ini bermula dari keinginan para figur dalam bidangnya masing-masing untuk menjadi pakar di bidangnya tanpa harus direcoki oleh godaan untuk merambah ke bidang lain.

Pada irisan yang sama sebetulnya paradigma tersebut di atas  terdorong oleh kebutuhan perusahaan yang ingin melakukan efisiensi. Dengan pola pikir pemilik perusahaan yang ingin menekan overhead cost sementara di sisi lain berupaya mengoptimalkan keuntungan, banyak perusahaan yang menginginkan karyawannya sanggup melakukan “multi-tasking” atau bisa melakukan banyak hal diluar job description resmi yang merupakan tanggung jawabnya. Katakan, secara praktis, mari menyimak bahwa para pemilik perusahaan/ institusi berpikir mengapa harus mempekerjakan 20 orang kalau dengan 10 orang pun semua pekerjaan bisa ditangani dengan baik?

Bisa saja cara berpikir ini demikian relevan manakalah perusahaan masih dalam fase startup ataupun masih dalam lingkup skala kecil yang notabene belum terlalu banyak memiliki berbagai implikasi rumit dalam pengelolaannya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu ketika skala bisnis perusahaan semakin besar, secara tidak langsung pengelolaannya pun tidak dapat lagi ditangani secara asal-asalan. Banyak hal yang dipertaruhkan di sini kalau pengelolaan perusahaan masih dilakukan dengan cara lama, karena dengan skala bisnis yang makin besar, perusahaan tidak hanya dituntut mampu bertahan dan semakin berkembang, tapi juga dituntut untuk mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat luas demi meningkatkan brand image perusahaan.

Nah, pada fase inilah tenaga-tenaga spesialis sangat dibutuhkan oleh perusahaan, atau institusi karena sudah bukan saatnya lagi mengharapkan pegawai bisa melakukan “multitasking”, tapi kinilah saatnya untuk mempekerjakan para profesional yang memang menguasai satu bidang yang betul-betul menjadi minatnya.

Berkaca pada pengalaman saya sebagai dosen dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi yang mempekerjakan dosen lokal maupun multinasional, tren yang kini sedang terjadi dan banyak diterapkan oleh perguruan tinggi di Indonesia adalah merekrut kandidat yang merupakan spesialis di satu bidang keilmuan. Ambil contoh, untuk mengajar atau mengampuh mata kuliah Filsafat dan Etika maka kandidat yang direkomendasikan adalah sarjana filsafat yang juga mendalami Etika. Subject Public Relations merupakan previledge bagi orang yang memang pakar public relations atau sarjana dan master public relations.

Hampir belum pernah terjadi dosen etika komunikasi dan filsafat ilmu merupakan tamatan teknik kimia dan sarjana geologi, dan sederetnya. Semua ini sekedar menggambarkan betapa konsep the rigt man for the right place menjadi sangat pas untuk diterapkan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional telah mensyaratkan bahwa dosen harus linear pada satu rumpun keilmuan yang sama, antara S1, S2 dan S3. Jika Tidak S2 dan S3 atau S1 dan S3 dalam disiplin yang sama. Selebihnya dosen didorong untuk menjaga spesialisasi pada bidangnya mulai dari Pengajaran, yang diperkuat oleh Penelitian serta aplikasinya melalui Pengabdian Masyarakat yang sejatinya dikenal dengan sebutan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sedikit flash back, dulu ketika saya menjadi professional sebagai Manager Human Resources di perusahaan, sering melakukan rekrutmen kandidat untuk berbagai posisi, itu hal yang sangat mudah dilakukan karena saya hanya perlu melihat dua hal, yaitu relevansi pengalaman di industri yang sama dan berapa tahun pengalaman yang dimilikinya di bidang  yang dilamar.

Akan tetapi sekarang tidak lagi demikian. Melalui obrolan dan diskusi dengan teman-teman praktisi bidang SDM,  saya mendapati penekanan bahwa mereka lebih cenderung mencari seorang spesialis pada satu bidang tertentu, apakah itu compensation & benefits, industrial relations, recruitment, ataupun learning & development, atau pada bidang accounting dan penguasaan serta pengalaman pajak misalnya. Begitu juga bila kita bicara rekrutmen bidang lainnya. Sebagai contoh untuk profesional yang punya latar belakang pendidikan ilmu hukum, sangat penting untuk memiliki spesialisasi pada satu bidang tertentu, entah itu bidang litigasi perdata, hak atas kekayaan intelektual, hukum bisnis, ataupun hukum perburuhan.

Sesungguhnya profesi apapun akan dikenal oleh berbagai kalangan karena memang memiliki penekanan dan focus pada spesialisasi tertentu. Konon semakin speasialis seseorang semakin mahal harga untuk spesialisasi tersebut. Ambil misal, seorang dokter umum dapat saja memperoleh bayaran atas jasanya, tetapi akan lebih mahal bila dokter spesialis jantung menjalankan profesinya, lalu akan lebih membuat kantong pasien “bolong” kalau harus berurusan dengan dokter super spesialis beda jantung. Jelaslah betapa menjadi spesialis lebih menguntungkan daripada hanya menjadi seorang pemain general.

Bagaimana Trik untuk Menjadi Pemenang?

Setiap orang mutlak memiliki spesialisasi pada satu bidang tertentu sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih banyak dibandingkan menjadi seorang generalis. Apa saja trik yang mungkin sebelum memasuki dunia kerja dan profesionalisme:

  1. Seorang spesialis akan lebih menarik di mata end user. Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa dunia kerja dan dunia professional hanya akan menyortir kandidat yang memiliki karir konsisten di satu bidang yang relevan dengan posisi yang sedang ditawarkan ketimbang kandidat yang tidak jelas fokus karirnya.
  1. Seorang spesialis akan lebih mudah menciptakan personal branding. Secara sederhana personal branding merupakan satu faktor yang bisa membedakan antara satu kandidat dengan kandidat lainnya. Ingat, dengan semakin ketatnya persaingan karena makin banyak profesional berkualitas yang ada di pasaran saat ini, personal branding merupakan salah satu cara terbaik untuk membuat kualitas dan kompetensi seorang profesional terlihat lebih menonjol.
  1. Seorang spesialis akan lebih mudah mencapai prestasi kerja optimal bila dia mengerjakan sesuatu yang memang merupakan minatnya. Ukuran seseorang mampu mengerjakan sesuatu secara rutin, berulang dalam jangka waktu yang lama adalah ketika dia menjalankannya dengan passion yang jelas dan konsisten. Dia tidak pernah bosan menjalankan pekerjaan yang digelutinya karena minatnya yang besar pada bidangnya. Sesuatu hal yang mustahil dilakukan oleh orang yang generalis.
  1. Silahkan percaya, tidak pun boleh, bahwa menjadi seorang spesialis sebetulnya berpotensi untuk memiliki bargaining position yang tinggi ketika melakukan negosiasi gaji. Apalagi kalau spesialisasinya merupakan spesialisasi di bidang yang sangat spesifik dan cukup sulit dicari di pasaran, bukan merupakan hal yang aneh untuk mendapatkan tawaran kenaikan gaji dari perusahaan lain sampai lebih dari 50% dibandingkan gaji yang diterima saat ini.

Tapi di sisi lain, bukan berarti juga menjadi seorang generalis selalu memiliki nilai minus dibandingkan menjadi seorang spesialis. Perlu ditekankan, meskipun anda saat ini kita  seorang generalis, tidak ada salahnya juga untuk mulai menelusuri kembali minat dan bakat kita untuk menentukan bidang spesialisasi kita ke depannya.

Kendatipun kita tidak memetik hasil sebagai seorang spesialis ketika kita berkarir sebagai profesional (karyawan), paling tidak kita bisa memikirkan untuk suatu hari nanti berwirausaha dengan menjual jasa yang menjadi bidang spesialisasi kita.

Saya pribadi percaya meskipun belum mendalam menekuninya bahwa kita hanya bisa sukses bila kita menekuni bidang yang betul-betul kita minati. Ketika kita mulai menjadi spesialis di bidang yang kita minati, setidak-tidaknya kita sudah punya modal awal untuk menentukan bidang usaha apa yang akan kita tekuni di kemudian hari. Seperti kata pepatah China, jika Anda melompat, maka melompatkan dari titik dimana Anda berpijak”.

Menjadi spesialis atau generalis sesungguhnya merupakan pilihan. Dan sukses merupakan kepastian bagi orang yang menjiwai pilihannya secara konsisten. Quote of the Day: “Stay commited to your decisions, but stay flexible in your approach.” by Tom Robbins.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here