Indonesia Harus Keluar dari Perangkap Kesedangan

0
56
Prof. Djisman Simandjuntak

Oleh Prof. Djisman Simandjuntak -Prasetiya Mulya dikenal sebagai sekolah bisnis. Namun sejak dua tahun lalu,  sudah menjadi universitas.   Dengan  ijin pemerintah kami membuka sebuah universitas dan akan memulai kelas baru,  pada bulan September tahun ini.

Kehidupan yang akan datang,  sangat padat ilmu pengetahuan. Karena tempat terhormat di antara bangsa-bangsa hanya akan ditempati oleh mereka yang unggul dalam pengetahuan. Oleh karena itu kami berani membuka program STEM (Science, Technology, Engineering and Matematic), walaupun kami menyadari bahwa di Indoensia sudah banyak perguruan tinggi yang punya pengalaman panjang dan bereputasi tinggi dalam bidang ini.

Tetapi seperti di dalam orkestra pemain biola terkadang berganti dan tidak ada salahnya kita mempunyai banyak pemain biola di dalam satu orchestra.

Pendidikan tinggi yang akan datang pasti lain sekali dengan pendidikan yang dinikmati ketika eranya saya masih menjadi mahasiswa. Sebagai pengamat ekonomi, saya melihat,  tantangan Indonesia saat ini bisa digambarkan dengan bahasa sederhana; “keluar dari perangkap kesedangan” (the track of intermediacy)

Kita sudah bergumul di situ puluhan tahun tapi tidak bisa tembus. Satu persatu tetangga kita melewati kita, China sudah melewati kita jauh di depan. Sekarang Vietnam juga dalam proses melewati kita, dan kalau kita tidak bangun-bangun, Kamboja pun akan melewati kita. They grow at 7% a year, we grow at 4% a year. Tinggal hitung berapa tahun diperlukan sampai dia melewati kita. Jadi tantangan Indonesia adalah keluar dari perangkap kesedangan.

Dan biar pun kedengaran seperti sangat orthodox,  itu hanya bisa kalau bangsa ini menghimpun ‘kecepatan lepas’, escape velocity. Tanpa ini kita akan dilalap oleh macam-macam hambatan masyarakat yang sedang berkembang.

Pertanyaanya adalah apa yang diperlukan untuk menghimpun escape velocity tersebut? Kita sebagai bangsa berhadapan dengan  konstanta luar biasa, dan Konstanta kuasi, sesuatu yang hampir konstan. Tetapi sebenarnya yang bukan konstan.

Pertama. Geografi yang sangat susah. Geografi kita adalah geografi yang penuh tantangan. Kita bahkan tidak punya istilah yang baik untuk geografi. Kita menyebutnya kepulauan. Padahal sebenarnya geografi kita ini adalah air, dengan pulau-pulau di dalam air itu. Dan geografi seperti ini sangat kuat dampaknya terhadap fragmentasi. Maka, We are very fragmented society. Coba lihat, politiknya tidak ada mayoritas, apalagi di masyarakat kami di Tapanuli Utara, setiap orang (menjadi) raja. Saya kuatir, it’s fragmentation is something to do with our geography.

Kedua. Dari Kultur kita sangat berat. Dari kultur Papua all the way ke kultur zaman sekarang, kita cenderung in work looking. Polisi kita dewasa ini cenderung in work looking, particularly economic development. Mungkin karena kita ini pulau-pulau, maka selalu terdorong untuk in work looking. Condong sentralistik. Karena terdiri banyak pulau, maka otoritas pusat itu cenderung banyak curiga bahwa satu pulau nanti akan memisahkkan diri atau jadi separatis.

Kepincangan Barat-Timur yang sudah puluhan tahun kita diskusikan tetapi hingga kini tidak kunjung menunjukkan penyempitan. Tetap saja Jawa dan Sumatra menjadi bagian yang paling ramai negeri kita. Kita tidak pernah menjadi bagian sentral dalam pola huruf V dari lalu lintas dunia. Kalau Anda melihat peta bumi, ada Eropa di Barat Laut, ada Singapura di Selatan, ada China dan Jepang di Timur Laut. Pola Huruf V. kita tidak pernah jauh dari itu tapi juga belum pernah menjadi bagian inti dari huruf V itu.

Kita negeri maritim, tetapi kultur kita pada dasarnya kultur gunung. Kita sedih kalau membaca berita mahasiswa kita meninggal karena tidak bisa berenang. Mestinya itu tidak terjadi di Indonesia. Inilah tantangan luar biasa kita; keluar dari perangkap kesedangan, tetapi dengan konstanta yang sangat rigid. Nah untuk itu apa yang diperlukan?

Menurut saya, salah satu yang terpenting adalah the mindset  Kita,  tidak dirasuki oleh kemauan untuk melompat, tidak bergegas, cenderung lambat dalam melakukan sesuatu, padahal dunia berubah luar biasa.

Di samping perangkap kesedangan, ada juga perangkap pendapatan tinggi; inequality memburuk di mana-mana, barangkali ini adalah penyakit turunan.

Tanda-tanda Zaman

Kita juga berhadapan dengan redefinisi geografi yang bergesar ke Asia, India dan China. Dan kita tahu kalau Semenanjung Korea sudah jadi kenyataan, dampaknya terhadap kita akan sangat luar biasa; selat Malakan akan menjadi lebih sepi, lalu lintas perdagangan dunia tidak lagi seperti huruf V seperti yang saya pernah singgung tadi.

Tantangan lain adalah ledakan perkembangan teknologi. Teknologisasi yang luar biasa di mana-mana. Akibat positifnya, biaya konektivitas turun luar biasa. Ini mempengaruhi secara luar biasa antara lain pada usaha kecil. Kita tahu bahwa usaha kecil itu tumbuh karena proximity to buyers, sekarang itu dimakan oleh teknologi. Ada gejala yang disebut (ini dalam istilah Jerman) “filialisasi”, suatu perusahaan yang unggul membuka outlet di mana-mana, membuka filial, dan rantai nilai diintegrasikan 360 derajat. Dulu rantai nilai itu kita bayangkan seperti vertical, tetapi sekarang menjadi 360 derajat.

Dunia pekerjaan mengalami perubahan luar biasa. Satu, karena digitalisasi, lalu robotisasi. Saya baru bertemu kelompok mahasiswa di Atlanta. Katanya di Atlanta ada pabrik resleting Zipper, bekerja melayani kebutuhan pelanggan di seluruh dunia dengan hanya tiga orang pekerja saja. Itu perusahaan Jepang. Pendidikan tinggi yang sangat massif, sehingga 2025 mahasiswa 262 juta.

Bayangkan, persaingan begitu ketat akan terjadi antara mahasiswa kita dengan yang dari negara-negara lain. Dan konon, 8 juta dari 262 juta ini adalah international student. Konsekuensinya, elitisme perguruan tinggi akan mengalami the rose yang luar biasa. Konsekuensi lain, persaingan akan terjadi luar biasa, restrukturisasi luar biasa, juga restrukturisasi perguruan tinggi luar biasa.

Pendidikan Tinggi Abad 21

Pendidikan tinggi akan diwarnai dengan pertumbuhan mahasiswa masif, padat teknologi (teknologi tumbuh luar biasa) dan—ini yang menarik dan baik bila menjadi bahan pembicaraan kita hari ini sebagai guru besar—sifatnya multi-disipliner (multidisciplinary).

Mengapa multidisipliner? Semua persoalan besar yang dihadapi manusia, tidak bisa dipecahkan dengan satu disiplin ilmu saja. Pemecahan masalah harus multi-disiplin. Tapi, pelatihan pendidikan umumnya semakin terspesialisasi.

Jadi di sini, ada 2 hal yang sulit dijembatani; pendidikan kita semakin terspesialisasi, tetapi pemecahan masalah memerlukan multidisiplinaritas yang semakin tinggi. Ini hanya bisa, dengan demikian, terjadi lewat kolaborassi. Jadi pendidikan tinggi abad 21 harus semakinn tinggi dalam kolaborasi multidisiplin.

Selanjutnya yang juga saya anggap penting adalah critical thinking. Memang kita sangat tergoda untuk mencipta lulusan yang siap pakai. Tapi universitas menurut saya, tugasnya harus memberi porsi sebagian kecil saja pada soal persiapan pada dunia kerja, jauh lebih penting menurut saya adalah lulusan yang punya critical thinking. Lulusan seperti ini tugasnya adalah mencari opsi-opsi pemecahan masalah. Opsi-opsi hanya bisa didevelop kalau kita kritikal. Untuk itu ada syarat dasarnya; yakni sikap toleran.

Perbedaan Eropa dan Asia, dalam critical thinking adalah; kita orang Asia cenderung patuh pada orang tua. Tetapi bangsa Eropa cenderung toleransinya lebih tinggi daripada bangsa kita.

Pendidikan tinggi yang akan datang juga harus internasional. Maka kita sangat menyambut upaya pemerintah kita menginternasionalisasi pendidikan di Indonesia. Tapi di sini saya ada pertanyaan; apakah internasionalisasi itu tidak mengandaikan the student body? Menurut saya syarat internasionalisasi adalah adanya pelajar asing, baru sesudah itu pengajar-pengajar internasional.

Pendidikan abad 21 juga menurut saya penting bila berjiwa kewirausahaan. Kita di pendidikan tinggi sudah biasa melihat kita suluh dalam perjalanan. Tapi menurut saya kita leih dari itu, kita pekerja, bukan pemegang obor. Maka kita perlu merumuskan ulang Tri Dharma kita.

Menurut saya, salah satu tanggung jawab perguruan tinggi abad 21 adalah katalisasi bisnis, perintisan usaha. Maka kita di Prasetiya Mulya mempunyai wakil rektor 4 yang salah satu tugasnya adalah membantu perintisan dunia bisnis.

Kesimpulan saya, dengan dunia seperti itu tidak ada pilihan bagi universitas untuk bekerjasama dengan dunia usaha. Maka perlu dualitas. Gymnasium di Jerman sudah dikelola secara dual. Di Indonesia sudah waktunya untuk merintis usaha menjadi bagian penting dari Dharma perguruan tinggi. Kita bisa menyebutnya Dharma ke-4, tapi bisa juga kita sisipkan dalam Dharma pengabdian masyarakat.  (Tulisan ini diambil dari Pidato Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Djisman Simandjuntak, dalam Seminar Nasional Pembaruan Pendidikan Tinggi Indonesia, yang digelar di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Kamis,(30/03/2017)/ Publikasi infomoneter.com.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here