Berselancar di tengah Pemulihan Ekonomi Dunia

0
151

kormenOleh: kormen Barus. Pada tahun 2016, ekonomi Indonesia bergerak lumayan di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mengalami perbaikan dan menutup tahun 2016 dengan angka  5,1%.

Apalagi pemerintah bersama bank sentral dan otoritas keuangan sejak September 2015 yang telah mengeluarkan 14 paket kebijakan ekonomi untuk memperbaiki kondisi perekonomian serta mendukung pertumbuhan investasi di Indonesia. Beberapa paket kebijakan antara lain, menyederhanakan prosedur investasi asing, memperbarui program bahan bakar minyak bersubsidi, menghapuskan pajak berganda pada sektor properti, serta menata sektor perdagangan digital (e-commerce).

Paket tersebut  berdampak pada bergairahnya  aktivitas dunia. Namun yang tidak dilupakan adalah, sinergi yang kuat antara stabilitas politik dan demokrasi serta  dukungan kepercayaan dunia usaha, yang sejalan dengan kenyakinan investor serta konsumen, mendorong ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan terus meningkat. Kendati hawa panas suhu politik yang kerap menjadi ganjalan aktivitas dunia usaha, toh kegiatan bisnis tetap berjalan dengan baik.

Berbagai indikator makro seperti produk domestik bruto tumbuh cukup akseleratif dibandingkan tahun 2015, dengan indeks harga konsumen yang dapat dikelola di bawah 3,5 persen.

Perbaikan ekonomi ini juga tak lepas dari membaiknya harga sejumlah komoditas seperti batubara dan nikel. Tak heran fundamental ekonomi yang menunjukkan perbaikan ditambah membaiknya harga komoditas itu mampu mendorong penguatan rupiah.

Program pengampunan pajak atau amnesti pajak juga memberikan sentimen positif pasar menginjak semester kedua. Meskipun, masih ada beberapa faktor eksternal yang menahan penguatan rupiah sepanjang tahun 2016 diantaranya keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa, serta terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, di awal November 2016, mengatakan, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi nasional hingga kuartal III tercatat 5,04 persen. Memang angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang tercatat 5,18 persen (year on year).

Ada beberapa alasan mengapa pertumbuhan ekonomi nasional sedikit terkontraksi. Utamanya, kondisi ekonomi dunia pada kuartal III masih belum stabil dengan tingkat pertumbuhan yang tidak merata.  Seperti ekonomi beberapa negara mitra dagang yang sebagian besar tumbuh melambat di kuartal III. Sebut saja, pertumbuhan ekonomi China stagnan 6,7 persen. Pertumbuhan ekonomi Singapura melambat dari 2 persen menjadi 0,6 persen. Sedangkan ekonomi Korea selatan juga melambat dari 3,3 persen jadi 2,7 persen.

Gejolak Rupiah.

Bagaimana tren pergerakan rupiah sepanjang 2016? Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada 1 Januari berada di level 13.830, setelah pada penghujung 2015 ditutup di level 13.788. Pada 20 Januari yang ada di level 13.964. Namun memasuki Februari hingga pertengahan Maret, nilai tukar rupiah berangsur-angsur mengalami apresiasi. Rupiah sempat menyentuh level tertinggi pada 10 Maret di 13.052. Lantas, dari pertengahan Maret sampai pertengahan Mei nilai tukar rupiah berfluktuasi terbatas di bawah level 13.350.

Pada tanggal 16 Mei, rupiah berada di level 13.310. Akan tetapi hanya dalam waktu empat hari saja, kurs melorot menyentuh 13.608 pada 20 Mei. Sejumlah analis menyebut, aksi ambil untung menekan kurs rupiah saat itu. Kemudian pada akhir bulan Mei mata uang rupiah bertengger di level 13.648.

Memasuki bulan Juni nilai tukar rupiah kembali menguat. Tapi pada pertengahan bulan dan minggu  ketiga ada sedikit penurunan. Di tengah dunia menanti hasil referendum Inggris Raya, pada 24 Juni nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level 13.391 atau terdepresiasi 1,09 persen dari perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level 13.248.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo, saat itu, mengatakan, pasar merespons hasil referendum karena adanya potensi flight to quality. Dana-dana dialihkan ke negara-negara yang dinilai lebih stabil, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, mencatat sepanjang November 2016 nilai tukar Rupiah melemah terhadap sejumlah mata uang asing. Terhadap USD, Rupiah terdepresiasi 3,90 persen atau 506,36 poin dengan rata-rata Rp13.500,32 per USD.

Begitu juga terhadap Dollar Australia, mata uang garuda terdepresiasi 1,48 persen atau 146,59 poin dengan rata-rata Rp10.081,47 per AUD. Demikian juga terhadap Euro, Rupiah terdepresiasi Rp1,62 persen atau 228,92 poin dengan rata-rata Rp14.382,97 per EUR.

Sedangkan terhadap Yen Jepang, mata uang Garuda menguat 3,19 persen atau 3,97 poin dengan rata-rata Rp120,35 per Yen. Dia nilang level tertinggi Rupiah berada di Kalimantan Utara Rp13.151,00 per USD. Sementara terendah di NTB Rp13.590,00 per USD.

Ekonom Senior DBS Group Research Philip Wee, seperti dikutip dari riset DBS yang berjudul ‘IDR—towards further resilience’, di Jakarta, Sabtu (1/10/2016), mengatakan, daya tahan rupiah juga bergantung pada keberhasilan pemerintah menarik modal dari luar negeri.

Membaiknya kinerja nilai tukar rupiah, kata dia, terutama didukung oleh sejumlah faktor fundamental domestik. DBS Group Research mencatat kepercayaan investor meningkat seiring perbaikan Produk Domestik Bruto (PDB), yang telah kembali ke level lima persen pada kuartal IV-2015.

Bahkan, nilai tukar rupiah pada akhir September 2016  kembali dalam tren pemulihan setelah sempat berada di titik terendah sejak krisis 1998. Nilai tukar rupiah termasuk mata uang yang kinerjanya paling baik di Asia saat ini. Kendati demikian, rupiah masih rentan terhadap risiko naiknya suku bunga Amerika Serikat.

Kemudian, sejak 8 November hingga 25 November 2016, terjadi gejolak pada nilai tukar Rupiah di Indonesia. Hal ini karena saat itu pasar masih menantikan kebijakan Donald Trump yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Presiden Joko Widodo  menyatakan kurs rupiah terhadap dolar AS saat ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi domestik.  Terhadap pernyataan presiden tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, apa yang dikatakan Presiden itu, esensinya,kurs suatu negara dengan negara lainnya itu ditentukan betul oleh perdagangannya.

Misalnya, nilai kurs rupiah terhadap kurs Tiongkok yakni Yuan Renminbi, semestinya memang harus diukur berdasarkan transaksi ekonomi Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu tersebut. Artinya, kurs mata uang rupiah dengan China mustinya ya memang berdasarkan transaksi ekonomi Indonesia dengan China, baik ekspor ataupun impor.

Menurut Jokowi, efek terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45, membuat dolar AS menguat tidak hanya terhadap rupiah, namun juga terhadap hampir seluruh mata uang di dunia. Jadi Jokowi menegaskan,  tidak tepat apabila mengukur kondisi ekonomi Indonesia hanya melalui nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kurs rupiah terhadap dolar bukan lagi tolak ukur yang tepat, tapi kurs rupiah terhadap mitra dagang kita.

Menanggapi gejolak rupiah dan potensi pertumbuhan kedepan, Direktur Utama bank bjb Ahmad Irfan, mengatakan, arah kebijakan kedepan diharapkan mengoptimalkan berbagai potensi domestik yang ada untuk memperkuat perekonomian nasional, membangun industri domestik yang kuat serta potensi sumber pembiayaan dari domestik yang luar biasa besar, seperti hasil program pengampunan pajak.

Ahmad Irfan memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2017 akan bertumbuh, meskipun kondisi perekonomian global masih melemah. Ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil pada kisaran 5- 5.4% persen tahun ini.

Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi di tengah melemahnya kondisi ekonomi global, ada beberapa faktor yang dibutuhkan Indonesia, diantaranya : Konsumsi berkelanjutan, Perbaikan belanja pemerintah, Peningkatan investasi swasta. Ekonomi Indonesia akan tetap kuat dengan posisi fiskal yang lebih baik dimana permintaan domestik tetap menjadi pendorong pertumbuhan. (kormensius barus).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here