Personal Governance untuk Sosial Media yang Etis

0
159

dbdOleh Don Bosco Doho, Pengamat Komunikasi dan Dosen LSPR London School Jakarta-Belakangan ini terminologi hoax begitu akrab di telinga netizen Indonesia. Berbagai upaya untuk mengontrol penyebaran hoax dilakukan oleh berbagai anak bangsa. Hoax dibenci tetapi nyatanya banyak orang gandrung menyebarkannya. Apa yang menjadi akar perilaku penyebaran berita atau info sampah yang demikian meresahkan? Mengapa jempol lebih cepat bertindak untuk share, enter, send ketimbang berpikir terlebih dahulu sebelum membagi?

Kenapa orang Indonesia getol menyebarkan hoax? Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menegaskan bahwa sebabnya mungkin berkaitan dengan penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan budaya kritis melihat persoalan. Lebih lanjut ditegaskan bahwa Indonesia  termasuk lima besar pengguna smartphone dunia, tapi tingkat literasinya kedua terbawah setelah Botswana di Afrika. Artinya betapa rendahnya budaya kritis dalam menimbang persoalan.

Kebanyakan netizen masih jauh dari prinsip logis, etis dan estetis. Itulah pentingnya orang menerapkan logika sebagai kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Lalu pada langkah kedua, orang harus mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sebagai penerapan nilai etika. Yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan membedakan mana yang indah dan mana yang jelek sebagai wujud penerapan prinsip estetika.

Minimnya kesadaran akan etos, patos dan logos dalam mencerna informasi yang mendorong masyarakat pengguna internet di Indonesia cenderung suka menyebarkan informasi ke orang lain tanpa lebih dulu memeriksa kebenarannya. “Banyak orang merasa hebat kalau jadi yang pertama menyebarkan informasi, entah benar atau tidak”.

 Senada dengan Septiaji, akademisi dan intelektual Muslim Komarudin Hidayat menyayangkan sikap sebagian orang yang menurut dia lebih senang ngerumpi ketimbang membaca. “Orang ingin jadi yang pertama (menyebar informasi), mencari sensasi, berlomba-lomba menikmati kesenangan dalam kebohongan.”  Jika demikan, benarlah hasil riset World’s Most Literate Nation yang dipublikasikan pertengahan tahun lalu, dimana dari 61 negara yang dilibatkan dalam studi tersebut, Indonesia memang menempati urutan ke-60 soal minat baca masyarakatnya.

Hoax yang dimainkan di sosial adalah hal berbahaya yang akibatnya bisa sangat merugikan bagi pihak yang menjadi korban, mulai dari kehilangan reputasi, materi, bahkan juga bisa mengancam nyawa. Komarudin menyamakan bahaya hoax yang adiktif dengan narkoba.

Untuk mencegah akibat buruk yang ditimbulkan hoax, berbagai pihak yang concern dengan kerusakan akibat hoax mengimbau masyarakat agar bersikap lebih kritis ketika menjumpai informasi di internet, entah lewat situs online, medsos, ataupun pesan chatting. “Periksa kebenarannya terlebih dahulu,”. “Kalau tidak jelas, stop. Kalau jahat, jangan ikut-ikutan.”

Jika dikaitkan dengan judul di atas mengenai personal governance dan sosial media yang etis, maka sekurang-kurangnya terdapat 7 (tujuh) prinsip tata kelola pribadi yang perlu diingat oleh setiap netizen siapapun dia. Berikut adalah personal governance sebagai orientasi nilai, sikap dan perilaku yang wajib dimiliki secara umum dan lebih khusus lagi dalam bersosial media.

Life plan and goals (rencana hidup dan tujuan)

Orang bilang you are what you write. Dari kata-kata yang sering diungkapkan, melalui tulisan yang seringkali tercatat, berdasarkan ungkapan lisan dan tulisan dengan jelas dapat diketahui siapa kita. Kalau karakter selalu positif dan menyejukkan maka kata dan torehan sebagai ungkapan yang keluar selalu enak dibaca dan perlu bagi para pembaca. Sebaliknya apa yang selalu negative di dalam hati dan pikiran akan menunjukkan siapa pemilik kata-kata tersebut. Dengan demikian melalui tulisan, status, update dan share yang sering dilakukan mengalamatkan kemana tujuan dan rencana hidup seseorang.

Ethical behavior (perilaku etis)

Perilaku etis adalah ketika seseorang dalam kata dan tindakannya menunjukkan kualitas yang baik. Ketika orang mampu membedakan mana yang baik dan buruk maka dengan mudah dapat dilihat apa yang diucapkan. Menyatunya kata dan perbuatan yang baik adalah buah dari integritas. Orang yang memiliki integritas umumnya jauh dari perilaku yang menista, menjelekkan, dan menyudutkan orang lain. Karena kata-kata lebih kejam daripada pembunuhan. Pembunuhan karakter melalui kata-kata akan tersimpan lama dan mungkin cenderung tidak dapat dilupakan. Orang yang berintegritas cenderung sepakat bahwa sekali tertulis sebuah pemikiran akan tetap tertulis. Kalau sampai tercatat di lembaran google maka hampir dapat dipastikan, jika Tuhan lebih mudah mengampuni karena Dia Maharahim sedangkan tidak demikian dengan google. Buktian perilaku etis dalam kata-kata di sosial media.

Self reflection (refleksi pribadi)

Apa yang terlihat di permukaan mungkin hanya segelintir dari gunung es pribadi seseorang. Apa yang terekspresikan baik tertulis atau lisan sesungguhnya gambaran dari hati yang terdalam. Tata kelola pribadi berkaitan dengan hasil refleksi personal yang seutuhnya hanya dipahami oleh pribadi bersangkutan, namun orang lain dapat menyimpulkannya dari kata yang terucap. Oleh karena itu, pepatah yang menegaskan, “mulutmu adalah harimau mu” tetap relevan untuk diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berselancar di sosial media.

Dealing with stress (berurusan dengan stress)

Tekanan, tegangan, kekhawatiran, melakukan banyak hal, merasakan hilangnya kendali, dan perasaan terancam, ketidaknyamanan, dan ketidakmampuan akan muncul pada diri kita jika kita menghadapi Stress. Namun stress dapat menjadi hal yang baik juga jika kita dapat mengadaptasikan diri dengan baik dalam segala keadaan dalam hidup kita, maka stress bukanlah masalah. Disaat kita tidak dapat beradaptasi, atau tidak ingin beradaptasi, stress tersebut yang dapat menyebabkan masalah dalam hidup kita. Singkatnya, disaat stress mempengaruhi pikiran kita maka itulah yang akan membuat kita merasa tidak dapat mengatasinya.

Stress dapat menghancurkan karir, relasi, dan kesehatan. Stress dapat juga disebut dengan kanker modern di abad ke dua puluh. Tetapi jangan sampai stress ditumpahkan ke sosial media. Jika demikian maka kita melanggar prinsip ke empat mengenai tata kelola pribadi yang ideal ketika berurusan dengan orang lain baik langsung maupun melalui sosial media.

Personal development (pengembangan pribadi)

Sejatinya sosial media dan media mainstream dapat digunakan sebagai arena pengembangan pribadi. Media sosial dapat digunakan seideal mungkin sebagai media informasi, edukasi, hiburan dan persuasi yang positif. Jika dapat dimanfaatkan dengan baik maka niscaya media sosial kita akan menjadi lebih sehat karena dapat menjadi agen perubahan opini, perubahan perilaku, perubahan sikap dan perubahan sosial. Jika demikian maka jangan digunakan untuk tujuan sebaliknya. Pemanfaatan media sosial yang baik dapat menjadi arena promosi diri dan profesi sehingga menjadi semakin dikenal dan dicari oleh banyak orang atau lembaga serta instansi.

Personal interests and passion (minat dan gairah pribadi)

Di era dunia digital sekarang ini banyak sekali sosial media yang terus bermunculan, sosial media ini tentu punya peran positif bagi masing-masing kita. Salah satu contoh dampak positif dari penggunaan sosial media adalah untuk membangun sebuah personal branding.  Personal Branding adalah proses dimana orang-orang dan karir mereka berlaku layaknya sebuah produk. Personal branding seringkali dikaitkan dengan suksesnya karir seseorang. Dengan demikian, “personal branding adalah cara dan proses kita memasarkan diri kepada orang lain atau komunitas yang menjadi target kita.”

Gelombang media sosial melanda kehidupan kita yang pada akhirnya menuntut setiap orang meningkatkan cara-cara dan pendekatan guna membangun personal branding. Kini penilaian orang lain terhadap pribadi sesorang juga didasarkan pada perilaku mereka di media sosial. Tidak peduli apa jenis bidang karir yang ditekuni atau sedang dirintis, kehadiranmu diberbagai platform media sosial amatlah penting untuk menyebarkan pesan pada orang lain tentang siapa dirimu. Kalau kita merasa aktivitas berbagi, menyukai atau mengikuti sesuatu di media sosial tidak terlalu penting maka siap-siap saja untuk duduk dan menikmati ribuan bahkan orang di luar sana yang berhasil mendapatkan perhatian dari orang lain di sekitarnya.

Reputation (reputasi)

Konsistensi melalui penyampaian enam langkah di atas dapat bermuara kepada terbentuknya reputasi seseorang. Media sosial kini bukan hanya untuk pamer dan berbagi kesenangan saja, tapi bisa juga untuk membangun reputasi secara profesional.

Beberapa tahun belakangan ini, reputasi sebuah bisnis atau personal tergantung kepada kualitas layanan/produk dan berita dari mulut ke mulut yang positif. Namun bagaimana pun juga di era sosial media seperti sekarang reputasi harus dibangun melalui sosial media. Semua kegiatan terencana ditujukan kepada publik/ pembaca dalam orientasi organisasi untuk mencapai kepercayaan atau trust dengan tujuan memahami manajemen isu dan saling pengertian antara pihak satu dan yang lain merupakan inti dari kegiatan pembentukan image dan reputasi. Media sosial akan mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya.

Oleh karena itu bijaklah memanfaatkan media sosial untuk mencapai hasil yang positif. Berlomba-lombalah dalam kebaikan melalui sosial media niscaya kita akan dikenal sebagai seseorang yang logis, etis dan estetis sebagai muara kehidupan manusia yang baik. Berlomba-lombalah dalam memberikan pencerahan dengan: Selalu menggunakan bahasa dan sosial yang baik, menghargai orang lain, tidak terlalu mempublish sesuatu yang bersifat pribadi atau personal, jangan overposting, berpikir tentang apa yang akan dishare,  jadilah pribadi diri sendiri, jangan terlalu menyita waktu di depan sosial media. Jangan berprinsip yang penting share, tapi share-lah yang penting-penting. Bukan yang penting posting, tapi postingnya yang penting-penting. Biarlah personal governance dan personal filter menjadi panglima bagi sosial media. Selamat bersosial media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here